Whatsapp

+6281-1227-7954

klien7summitstravel@gmail.com

Blog Image

11

Sep

Erupsi Anak Krakatau Ganggu Penerbangan ke Bali dan Luar Negeri, Wisatawan Diminta Waspada

Erupsi Gunung Anak Krakatau pada awal September 2026 tidak hanya menjadi perhatian karena aktivitas vulkaniknya, tetapi juga karena dampaknya terhadap perjalanan udara. Abu vulkanik yang menyebar ke sejumlah wilayah membuat beberapa bandara harus menghentikan atau menyesuaikan operasional penerbangan.

Dampaknya turut dirasakan wisatawan yang bepergian melalui Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali. Meski begitu, kondisi penerbangan di Bali perlu dilihat secara lebih spesifik karena tidak seluruh rute terdampak.

Puluhan Penerbangan di Bali Terdampak

Pada Minggu, 6 September 2026, sebanyak 42 penerbangan di Bandara I Gusti Ngurah Rai mengalami pembatalan atau penyesuaian jadwal akibat dampak erupsi Anak Krakatau. Penerbangan yang terdampak terutama merupakan rute dari dan menuju Jakarta serta Bandung.

Situasi tersebut kemudian berdampak pada sekitar 13 ribu penumpang di Bandara Ngurah Rai dalam periode 6–7 September. Sejumlah penumpang, termasuk wisatawan asing, harus menunggu kepastian jadwal penerbangan setelah adanya pembatalan dan perubahan jadwal.

Kondisi ini terjadi karena Bandara Soekarno-Hatta sempat menghentikan operasional akibat abu vulkanik. Akibatnya, penerbangan yang menghubungkan Bali dengan Jakarta ikut mengalami gangguan.

Penerbangan Internasional Bali Secara Umum Tetap Berjalan

Meski judul pemberitaan mengenai gangguan penerbangan cukup luas, penerbangan internasional dari dan menuju Bali pada dasarnya tetap berjalan.

Gubernur Bali Wayan Koster memastikan penerbangan internasional tidak mengalami gangguan secara umum. Kendala lebih banyak terjadi pada penerbangan domestik karena banyak pergerakan penumpang Bali terhubung dengan Bandara Soekarno-Hatta.

Namun, terdapat setidaknya satu penerbangan internasional yang terdampak, yaitu penerbangan Citilink dengan rute Denpasar–Dili, Timor-Leste. Kantor Imigrasi Ngurah Rai bahkan melakukan penyesuaian data perlintasan bagi WNA yang terdampak kondisi tersebut.

Artinya, wisatawan yang memiliki penerbangan internasional dari Bali tetap perlu memantau kondisi terbaru, tetapi tidak perlu menganggap seluruh penerbangan internasional otomatis dibatalkan.

Erupsi Berdampak Besar pada Penerbangan Nasional

Gangguan penerbangan tidak hanya terjadi di Bali. Pada 7 September, sekitar 2.961 penerbangan dan 341 ribu penumpang dilaporkan terdampak akibat penundaan, pengalihan, maupun pembatalan penerbangan di sejumlah bandara.

Abu vulkanik Anak Krakatau bahkan terdeteksi mencapai ketinggian hingga sekitar 50.000 kaki di sisi Sumatra dan wilayah tertentu di Banten. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius bagi penerbangan karena partikel abu vulkanik dapat membahayakan mesin pesawat dan mengurangi jarak pandang.

Karena itu, penutupan sementara bandara bukan semata-mata persoalan keterlambatan perjalanan, tetapi merupakan langkah keselamatan untuk mencegah pesawat beroperasi dalam kondisi yang berisiko.

Bandara Mulai Kembali Beroperasi

Kabar baiknya, seluruh bandara yang sebelumnya ditutup akibat sebaran abu vulkanik mulai kembali beroperasi pada 8 September 2026 setelah kondisi abu membaik dan angin membantu membersihkan wilayah udara di sekitar bandara.

Meski operasional kembali dibuka, sejumlah penerbangan masih membutuhkan waktu untuk kembali normal. Sebanyak 178 pesawat yang sebelumnya terdampak juga perlu diperiksa kelayakannya sebelum kembali menjalankan penerbangan.

Dengan demikian, wisatawan yang akan bepergian dalam beberapa hari setelah gangguan tetap perlu mengantisipasi kemungkinan perubahan jadwal.

Apa yang Harus Dilakukan Wisatawan?

Bagi wisatawan yang sudah memiliki tiket penerbangan, ada beberapa hal yang penting dilakukan.

Pertama, cek status penerbangan langsung melalui maskapai atau bandara sebelum berangkat. Jangan hanya mengandalkan jadwal yang tertera ketika pertama kali membeli tiket karena kondisi penerbangan dapat berubah mengikuti perkembangan abu vulkanik.

Kedua, berikan waktu lebih banyak untuk perjalanan menuju bandara. Jika sebelumnya terjadi penumpukan penumpang akibat pembatalan penerbangan, proses check-in maupun keberangkatan dapat membutuhkan waktu lebih lama.

Ketiga, siapkan alternatif perjalanan jika penerbangan kembali mengalami penyesuaian. Wisatawan dengan perjalanan lanjutan juga sebaiknya memperhatikan koneksi penerbangan agar tidak kehilangan penerbangan berikutnya.

Jadi Pengingat Penting bagi Wisatawan

Erupsi Anak Krakatau menunjukkan bahwa kondisi alam dapat memberikan efek berantai terhadap industri perjalanan. Satu bandara yang mengalami gangguan dapat memengaruhi jadwal pesawat, rute lanjutan, hingga perjalanan wisatawan di daerah lain.

Bagi Bali sebagai salah satu destinasi wisata utama Indonesia, konektivitas udara merupakan bagian penting dari ekosistem pariwisata. Karena itu, informasi mengenai status penerbangan menjadi sama pentingnya dengan informasi mengenai kondisi destinasi.

Wisatawan tidak perlu panik, tetapi tetap perlu lebih waspada dan fleksibel ketika melakukan perjalanan di tengah aktivitas vulkanik. Mengecek penerbangan sebelum menuju bandara, memahami kebijakan maskapai, dan menyiapkan waktu cadangan bisa membuat perjalanan tetap lebih aman dan nyaman.

Pada akhirnya, liburan memang tidak selalu berjalan sesuai itinerary. Namun, dengan informasi yang tepat dan persiapan yang lebih matang, wisatawan tetap dapat mengambil keputusan perjalanan dengan lebih tenang.


Ayo temuin paket paket-paket tour murah di 7summitstravel.com atau kamu bisa custom serta konsultasi gratis terkait tour kamu lewat whatsapp kami di nomor 0811-2277-954 

Share This News

Comments

Newsletter

Put your email below to subscribe our latest PROMO & NEWS