Newsletter
Put your email below to subscribe our latest PROMO & NEWS
+6281-1227-7954
klien7summitstravel@gmail.com
Salah satu kekuatan kuliner Bandung adalah keberagamannya. Wisatawan bisa menemukan makanan tradisional Sunda, jajanan kaki lima, restoran legendaris, kafe dengan konsep modern, sampai tempat makan yang menggabungkan resep lama dengan pendekatan baru.
Indonesia Travel juga menempatkan Bandung sebagai salah satu destinasi yang menawarkan spektrum kuliner luas, dari street food hingga hidangan kelas atas.
Yang menarik, pengalaman kuliner di Bandung sering kali tidak berdiri sendiri. Makan batagor bisa menjadi bagian dari perjalanan menyusuri pusat kota. Sarapan di tempat legendaris bisa digabungkan dengan agenda heritage. Kuliner malam dapat menjadi penutup setelah seharian mengikuti aktivitas wisata.
Di sinilah kuliner menjadi tourism experience.
Wisatawan tidak hanya mengingat rasa makanan, tetapi juga lokasi, suasana, orang yang ditemui, cara makanan disajikan, bahkan cerita di balik tempat tersebut.
Destinasi wisata biasanya menghadapi satu tantangan: bagaimana membuat wisatawan datang kembali setelah mereka sudah melihat atraksi utamanya?
Kuliner memiliki karakter yang berbeda.
Seseorang mungkin cukup mengunjungi satu bangunan heritage sekali untuk melihat arsitekturnya. Tetapi untuk kuliner, pengalaman bisa terus diperbarui. Ada tempat makan yang belum dicoba, menu yang berbeda, kawasan kuliner yang berubah, atau makanan legendaris yang ingin dicicipi kembali.
Inilah yang membuat kuliner punya peran strategis dalam repeat visitation.
Bandung bahkan tercatat berada di peringkat 34 dalam daftar 100 kota kuliner terbaik dunia versi TasteAtlas pada 2026. Pemerintah Kota Bandung menyebut batagor, cireng, nasi kuning, mie kocok, dan surabi sebagai beberapa kuliner yang ikut memperkuat identitas tersebut.
Terlepas dari bagaimana sebuah pemeringkatan sebaiknya dibaca, sinyalnya cukup jelas: makanan semakin dipandang sebagai bagian dari identitas destinasi, bukan sekadar kebutuhan wisatawan.
Efeknya juga tidak berhenti di meja makan.
Ketika wisatawan datang khusus untuk kuliner, pengeluarannya bisa menyebar ke banyak sektor: transportasi, akomodasi, pusat oleh-oleh, UMKM, hingga aktivitas wisata lainnya.
Pemerintah Kota Bandung pada 2026 bahkan menyebut meningkatnya jumlah wisatawan ikut mendorong permintaan terhadap sektor kuliner dan UMKM, meskipun di sisi lain peningkatan permintaan pangan juga menjadi tantangan bagi kota.
Karena itu, membicarakan wisata kuliner sebenarnya sama dengan membicarakan rantai ekonomi pariwisata.
Menariknya, Bandung juga mulai melihat kawasan kuliner secara lebih serius. Pemerintah kota menyiapkan konsep pengembangan Pasar Baru dan Pecinan Lama sebagai kawasan kuliner yang dapat menarik wisatawan, lengkap dengan penataan kawasan dan pengembangan kuliner malam.
Ini menunjukkan bahwa kekuatan kuliner tidak hanya berada pada produknya. Tempat, akses, kebersihan, cerita, dan tata kawasan ikut menentukan apakah kuliner bisa berkembang menjadi pengalaman wisata.
Bagi wisatawan keluarga, kuliner memberikan aktivitas yang relatif mudah disisipkan ke dalam itinerary. Tidak perlu membuat satu hari penuh hanya untuk makan. Agenda kuliner bisa menjadi bagian dari perjalanan setelah mengunjungi destinasi budaya, pusat kota, atau ruang publik.
Sementara untuk corporate trip, gathering, maupun incentive trip, kuliner bisa menjadi medium untuk memperkenalkan karakter Bandung dengan cara yang lebih informal.
Misalnya, sebuah perjalanan perusahaan tidak harus selalu berisi meeting, outbound, dan makan malam formal. Eksplorasi kuliner lokal bisa dikemas menjadi food trail, kunjungan ke sentra kuliner, atau pengalaman mencicipi makanan yang disertai cerita mengenai sejarah dan budaya kota.
Konsep seperti Gastronomy Tour on Bandros yang pernah digelar di Bandung menunjukkan bagaimana sejarah, perjalanan kota, dan kuliner dapat dirangkai menjadi satu pengalaman wisata.
Bagi industri travel, ini membuka ruang untuk membuat itinerary yang terasa lebih personal dan tidak terlalu “paket wisata”.
Ketika kuliner semakin populer, tantangan berikutnya adalah menjaga agar pertumbuhan tersebut tidak menghilangkan karakter lokal.
Wisatawan memang mencari makanan yang enak, tetapi mereka juga semakin tertarik pada cerita: siapa yang membuatnya, sudah berapa lama usaha tersebut berjalan, apa hubungannya dengan kawasan sekitar, dan mengapa makanan tersebut dianggap bagian dari Bandung.
Karena itu, pengembangan wisata kuliner seharusnya tidak hanya berorientasi pada menambah jumlah tempat makan. Kualitas produk, kebersihan, kenyamanan kawasan, akses, storytelling, hingga keberlanjutan usaha lokal sama pentingnya.
Bandung sendiri sedang menghadapi kebutuhan tersebut. Penataan kawasan kuliner seperti Cibadak, Cihapit, dan Pasar Baru menjadi bagian dari upaya menjaga aktivitas kuliner tetap hidup sekaligus membuat ruang kota lebih tertata dan nyaman.
Pada akhirnya, alasan orang datang ke Bandung bisa saja dimulai dari satu makanan yang mereka lihat di media sosial. Tetapi alasan mereka mengingat Bandung biasanya jauh lebih besar dari itu.
Ada rasa, suasana, cerita, dan pengalaman yang melekat pada perjalanan.
Put your email below to subscribe our latest PROMO & NEWS
Copyright ©2024 | 7SUMMITS TRAVEL. All Rights Reserved.
Comments