Newsletter
Put your email below to subscribe our latest PROMO & NEWS
+6281-1227-7954
klien7summitstravel@gmail.com
Salah satu kesalahan wisatawan adalah melihat destinasi hanya sebagai tempat untuk berlibur.
Padahal, kota seperti Kyoto, Barcelona, atau Venice bukan taman hiburan. Di dalamnya ada warga yang tinggal, bekerja, bersekolah, berbelanja, dan menjalani rutinitas setiap hari.
Ketika sebuah jalan menjadi spot foto populer, misalnya, wisatawan mungkin melihatnya sebagai latar belakang yang menarik. Bagi warga, jalan tersebut tetap merupakan jalan yang harus digunakan untuk beraktivitas.
Perbedaan sudut pandang inilah yang kemudian melahirkan berbagai aturan baru.
Kyoto merupakan contoh yang menarik.
Popularitas kawasan seperti Gion membuat pemerintah kota harus terus mengingatkan wisatawan mengenai perilaku yang dianggap mengganggu. Kyoto secara resmi mengimbau wisatawan untuk tidak mengambil foto geiko atau maiko tanpa izin, tidak menghalangi jalan, tidak memasuki properti pribadi, dan tidak membuang sampah sembarangan.
Di kawasan Gion bahkan terdapat aturan yang melarang fotografi di jalan privat tertentu dan meminta wisatawan tidak berhenti di jalan atau berjalan di badan jalan.
Menariknya, Kyoto tidak sedang melarang wisatawan mengambil foto secara umum. Fotografi pribadi tetap diperbolehkan di banyak tempat.
Yang dibatasi adalah cara dan lokasi mengambil foto ketika aktivitas tersebut mulai mengganggu kehidupan lokal.
Barcelona juga menghadapi persoalan serupa, terutama terkait penggunaan ruang publik.
Peraturan kota yang diperbarui pada 2025 memperketat sejumlah perilaku seperti pub crawl, konsumsi alkohol dalam kondisi tertentu, buang air kecil di ruang sensitif, dan perilaku lain yang dianggap mengganggu ketertiban. Untuk beberapa pelanggaran, dendanya bisa mencapai ribuan euro.
Bagi wisatawan, aktivitas seperti berjalan berkelompok sambil berpindah dari satu bar ke bar lain mungkin terasa sebagai bagian dari liburan.
Tetapi ketika aktivitas tersebut dilakukan secara masif di kawasan yang juga digunakan warga, persoalannya berubah menjadi isu ketertiban dan kualitas ruang publik.
Jawabannya ada pada skala.
Bayangkan satu orang berhenti selama 30 detik di tengah jalan untuk mengambil foto.
Kemungkinan besar tidak menjadi masalah.
Tetapi jika ada 50 orang melakukan hal yang sama di titik yang sama, setiap beberapa menit, jalan bisa berubah menjadi ruang tunggu wisatawan.
Hal serupa terjadi pada sampah, suara bising, antrean, penggunaan transportasi, hingga akses ke kawasan permukiman.
Sebuah perilaku tidak selalu menjadi masalah karena perilakunya sendiri. Konteks dan jumlah orang yang melakukannya bisa mengubah dampaknya.
Ada pola yang cukup sering terjadi.
Sebuah tempat menjadi viral ? jumlah wisatawan meningkat ? aktivitas wisata semakin intens ? warga mulai merasakan dampaknya ? pemerintah atau komunitas membuat aturan.
Karena itu, aturan wisata sebenarnya bisa menjadi indikator bahwa sebuah destinasi sedang mengalami tekanan kunjungan.
Kyoto sendiri secara resmi menyebut tujuan kebijakannya sebagai menciptakan pariwisata berkelanjutan yang tetap menjaga keseimbangan antara kehidupan warga dan aktivitas wisata.
Jadi, ketika muncul larangan mengambil foto di lokasi tertentu atau larangan memasuki area privat, konteksnya tidak selalu “kota tersebut tidak ramah wisatawan”.
Bisa jadi justru sebaliknya: destinasi sedang berusaha mempertahankan agar wisatawan tetap bisa datang tanpa membuat kehidupan warga kehilangan ruang.
Ada satu hal yang sering terlupakan ketika bepergian.
Ruang publik memang bisa digunakan bersama, tetapi bukan berarti semua aktivitas bebas dilakukan tanpa batas.
Jalan tetap memiliki fungsi sebagai jalan. Kawasan permukiman tetap merupakan tempat tinggal. Bangunan bersejarah tetap memiliki nilai yang perlu dijaga. Properti privat tetap memiliki pemilik.
Bahkan di Kyoto, pemerintah secara khusus mengingatkan wisatawan agar tidak memasuki properti pribadi dan tidak melakukan aktivitas yang mengganggu kehidupan warga.
Ini membuat konsep tourist etiquette menjadi semakin penting.
Bukan sekadar “apa yang boleh dilakukan”, tetapi juga apakah aktivitas kita mengganggu orang lain yang tinggal di tempat tersebut.
Tren ini kemungkinan akan terus berkembang di destinasi populer.
Bukan berarti semua kota akan menjadi penuh larangan. Justru tantangannya adalah mencari titik tengah antara akses wisatawan dan kualitas hidup masyarakat lokal.
Aturan bisa berbentuk larangan fotografi di area tertentu, pembatasan jumlah pengunjung, pengaturan kendaraan wisata, larangan aktivitas tertentu, hingga sistem reservasi.
Dari sisi wisatawan, perubahan ini memang membuat perjalanan membutuhkan sedikit lebih banyak persiapan.
Namun, ada sisi positifnya.
Ketika destinasi mulai mengatur perilaku wisatawan, mereka sebenarnya sedang berusaha memastikan bahwa tempat tersebut tetap bisa dinikmati dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, wisatawan datang ke sebuah kota sebagai tamu.
Artinya, ada kebiasaan lokal yang perlu dipahami, bahkan ketika kebiasaan tersebut berbeda dengan apa yang biasa dilakukan di tempat asal.
Foto, kuliner, nightlife, jalan kaki, dan eksplorasi memang bagian dari pengalaman traveling. Tetapi semuanya tetap memiliki konteks.
Mungkin ini yang akan semakin penting dalam pariwisata modern: bukan hanya mencari tahu tempat apa yang menarik untuk dikunjungi, tetapi juga memahami bagaimana seharusnya kita berperilaku ketika berada di sana.
Karena destinasi yang nyaman untuk wisatawan juga perlu tetap nyaman untuk orang yang menyebutnya sebagai rumah.
Ayo temuin paket paket-paket tour murah di 7summitstravel.com atau kamu bisa custom serta konsultasi gratis terkait tour kamu lewat whatsapp kami di nomor 0811-2277-954
Put your email below to subscribe our latest PROMO & NEWS
Copyright ©2024 | 7SUMMITS TRAVEL. All Rights Reserved.
Comments