Newsletter
Put your email below to subscribe our latest PROMO & NEWS
+6281-1227-7954
klien7summitstravel@gmail.com
AI punya keunggulan yang cukup jelas: mempercepat tahap riset.
Booking.com dalam Global AI Sentiment Report 2025 menemukan bahwa 89% responden global ingin menggunakan AI dalam perencanaan perjalanan di masa depan. Bahkan, 67% wisatawan sudah pernah menggunakan AI dalam perjalanan, sementara 62% menggunakannya untuk merencanakan atau memesan perjalanan.
AI paling sering digunakan untuk hal-hal seperti mencari destinasi, menentukan waktu terbaik untuk berkunjung, mencari aktivitas lokal, hingga rekomendasi restoran.
Artinya, kebiasaan wisatawan memang sedang bergeser.
Kalau dulu inspirasi perjalanan dimulai dari mesin pencari atau media sosial, kini percakapan dengan AI bisa menjadi titik awalnya.
Perbedaan AI Travel Planner dengan pencarian biasa terletak pada kemampuannya menggabungkan banyak preferensi sekaligus.
Misalnya, wisatawan tidak hanya mengatakan ingin pergi ke Bali. Mereka bisa memberikan konteks:
“Saya pergi dengan dua anak, suka kuliner, tidak ingin terlalu banyak pindah hotel, budget sekian, dan ingin satu hari khusus untuk santai.”
AI kemudian bisa menyusun beberapa alternatif itinerary berdasarkan informasi tersebut.
Sejumlah platform AI travel planner pada 2026 bahkan sudah menawarkan itinerary harian, peta interaktif, rekomendasi aktivitas, hingga integrasi booking. Pengujian terhadap beberapa planner juga menunjukkan bahwa kualitasnya semakin mendekati itinerary yang benar-benar bisa digunakan, meski masing-masing masih memiliki keterbatasan.
Di titik ini, AI bukan lagi sekadar mesin pencari.
Ia mulai berfungsi seperti asisten perjalanan digital.
Di sinilah persoalannya.
Itinerary yang terlihat sempurna di layar belum tentu cocok ketika benar-benar dijalankan.
AI bisa menyusun lima destinasi dalam sehari karena secara geografis terlihat berdekatan. Tetapi ia belum tentu memahami bahwa keluarga dengan balita membutuhkan waktu lebih banyak untuk makan, istirahat, atau sekadar mencari toilet.
AI juga bisa memberikan restoran yang terlihat populer, tetapi informasi jam buka atau kondisi terkini bisa berubah.
Bahkan penelitian terbaru tentang kemampuan AI dalam menyusun perjalanan menunjukkan bahwa itinerary yang benar-benar layak membutuhkan banyak pertimbangan sekaligus: tempatnya harus ada, bisa dikunjungi, rutenya masuk akal, sesuai budget, dan cocok dengan kebutuhan wisatawan. Dalam benchmark TREK, model AI terkuat yang diuji hanya menghasilkan rencana yang sepenuhnya memenuhi semua persyaratan pada 46,2% tugas yang memang bisa diselesaikan.
Jadi, AI bisa membuat itinerary. Tetapi membuat itinerary yang benar-benar enak dijalani adalah persoalan berbeda.
Menariknya, tingginya minat terhadap AI tidak otomatis berarti wisatawan siap menyerahkan semua keputusan.
Dalam penelitian Booking.com, hanya 12% konsumen yang merasa nyaman jika AI mengambil keputusan secara mandiri. Sebagian besar masih ingin memberikan persetujuan atau melakukan pengecekan sendiri. Bahkan, 42% responden mengatakan mereka selalu melakukan fact-check terhadap hasil AI.
Ini menunjukkan satu hal penting: wisatawan mungkin menyukai AI sebagai co-pilot, tetapi belum tentu sebagai pengambil keputusan penuh.
AI boleh memilihkan tiga restoran.
Manusianya yang menentukan mau makan di mana.
AI boleh membuat itinerary.
Manusianya yang menentukan apakah itinerary itu sesuai dengan ritme perjalanan mereka.
Perkembangan AI bukan berarti profesi travel planner otomatis hilang.
Sebaliknya, pekerjaan manusia bisa bergeser dari “membuat itinerary dari awal” menjadi “mengkurasi dan menyempurnakan itinerary.”
AI dapat membantu menyusun draft dalam beberapa menit. Travel planner kemudian bisa mengecek koneksi transportasi, menyesuaikan waktu, memilih hotel yang paling masuk akal, mengantisipasi kebutuhan anak atau lansia, serta memasukkan pengalaman lokal yang tidak mudah ditemukan melalui data umum.
Di sinilah nilai manusia tetap terasa.
Wisatawan tidak selalu membutuhkan orang yang bisa membuat daftar 20 tempat wisata. Mereka membutuhkan seseorang yang tahu mana yang benar-benar layak dimasukkan dan mana yang sebaiknya dihapus.
Ada kemungkinan itinerary masa depan juga akan semakin dinamis.
Kalau penerbangan terlambat, AI bisa menyusun ulang jadwal. Kalau hujan, aktivitas outdoor bisa diganti. Kalau anak kelelahan, destinasi berikutnya bisa dilewati. Kalau restoran penuh, sistem bisa mencari alternatif terdekat.
Dengan kata lain, itinerary tidak lagi sekadar dokumen yang dibuat sebelum berangkat.
Ia bisa menjadi rencana perjalanan yang terus beradaptasi selama perjalanan berlangsung.
Ini sejalan dengan perkembangan AI travel planner yang mulai bergerak dari sekadar menghasilkan teks menuju peta, rekomendasi real-time, pengorganisasian perjalanan, dan bahkan integrasi pemesanan.
Pada akhirnya, pertanyaannya mungkin bukan apakah wisatawan akan berhenti membuat itinerary sendiri.
Yang lebih relevan adalah: bagian mana dari proses membuat itinerary yang masih ingin dilakukan manusia?
Riset destinasi bisa diserahkan kepada AI. Penyusunan rute bisa dibantu AI. Perbandingan pilihan juga bisa dilakukan AI.
Tetapi alasan seseorang memilih satu tempat dibanding tempat lain tetap sangat personal.
Ada restoran yang dipilih karena pernah direkomendasikan teman. Ada kota yang dikunjungi karena kenangan masa kecil. Ada destinasi yang sengaja dimasukkan walaupun sebenarnya tidak efisien karena memang ingin melihatnya.
Hal-hal seperti itu membuat perjalanan berbeda dari sekadar persoalan optimasi rute.
AI mungkin akan membuat itinerary semakin cepat dibuat. Tetapi manusia tetap menjadi alasan mengapa itinerary tersebut dibuat.
Ayo temuin paket paket-paket tour murah di 7summitstravel.com atau kamu bisa custom serta konsultasi gratis terkait tour kamu lewat whatsapp kami di nomor 0811-2277-954
Comments