Newsletter
Put your email below to subscribe our latest PROMO & NEWS
+6281-1227-7954
klien7summitstravel@gmail.com
Nocturnal tourism mengubah cara sebuah destinasi menggunakan waktunya.
Jika siang hari biasanya menjadi waktu utama untuk museum, taman, landmark, dan wisata alam, malam dapat menawarkan pengalaman yang berbeda. Sebuah kawasan yang terlihat biasa pada pukul 10 pagi bisa memiliki karakter yang sama sekali berbeda setelah pukul 7 malam.
Lampu kota, musik, kuliner, aktivitas komunitas, dan suasana jalan menciptakan pengalaman yang tidak bisa diperoleh pada siang hari.
Karena itu, wisata malam bukan sekadar memindahkan aktivitas siang ke malam. Malam memiliki produk wisatanya sendiri.
Perkembangan nocturnal tourism juga berkaitan dengan bagaimana kota mengelola ruang publik.
Beberapa destinasi mulai mengembangkan kawasan pedestrian, pasar malam, pertunjukan cahaya, festival malam, dan program budaya yang memang dirancang untuk dikunjungi setelah matahari terbenam.
UN Tourism bahkan memiliki inisiatif dan kajian mengenai night-time tourism, karena aktivitas malam dinilai dapat memperpanjang waktu wisatawan berada di destinasi sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru bagi bisnis lokal. (unwto.org)
Bagi industri pariwisata, tambahan beberapa jam ini cukup berarti.
Wisatawan yang sebelumnya kembali ke hotel setelah makan malam kini memiliki alasan untuk keluar lagi. Artinya, restoran, toko, transportasi, pekerja hiburan, hingga pelaku ekonomi kreatif mendapatkan peluang tambahan.
Salah satu bentuk nocturnal tourism yang paling mudah ditemukan adalah wisata kuliner malam.
Pasar malam dan kawasan street food menjadi daya tarik karena menawarkan sesuatu yang sederhana tetapi kuat: makanan dan suasana.
Wisatawan tidak hanya datang untuk mencoba menu tertentu. Mereka juga menikmati keramaian, melihat aktivitas pedagang, berjalan kaki, dan merasakan bagaimana masyarakat lokal menghabiskan malam.
Inilah alasan mengapa kawasan kuliner malam sering berkembang menjadi destinasi tersendiri.
Bagi kota, kuliner malam juga memiliki keunggulan karena tidak selalu membutuhkan pembangunan atraksi baru. Infrastruktur yang sudah ada dapat dihidupkan kembali melalui pencahayaan, keamanan, kebersihan, pengaturan lalu lintas, dan kurasi tenant.
Nocturnal tourism juga menawarkan solusi terhadap masalah lain: kepadatan pengunjung pada jam tertentu.
Destinasi populer biasanya mengalami konsentrasi wisatawan pada pagi hingga sore. Jika sebagian aktivitas dapat dialihkan ke malam, tekanan terhadap ruang wisata pada siang hari berpotensi berkurang.
Bukan berarti semua destinasi harus buka 24 jam. Justru yang dibutuhkan adalah pembagian waktu yang lebih cerdas.
Museum bisa memiliki night opening pada hari tertentu. Kawasan heritage bisa menawarkan walking tour malam. Taman kota dapat mengadakan festival cahaya. Sementara kawasan kuliner bisa memiliki program khusus setelah jam makan malam.
Malam hari memang menawarkan pengalaman yang berbeda, tetapi juga memiliki tantangan yang tidak selalu muncul pada siang hari.
Keamanan menjadi faktor utama.
Penerangan jalan, transportasi publik, akses pejalan kaki, keberadaan petugas, kebersihan, hingga pengaturan keramaian menjadi bagian penting dari produk wisata malam.
Wisatawan tidak akan menikmati night market atau walking tour jika mereka merasa harus terus melihat ke belakang.
Karena itu, nocturnal tourism sebenarnya bukan hanya persoalan membuat destinasi terlihat cantik dengan lampu. Destinasi harus terasa aman untuk dinikmati.
Beberapa kota justru memiliki karakter wisata yang semakin kuat setelah malam tiba.
Tokyo dengan kawasan hiburannya, Seoul dengan night market dan kehidupan kotanya, Bangkok dengan street food malam, hingga berbagai kota Eropa dengan night walking tour menunjukkan bahwa malam dapat menjadi bagian dari identitas destinasi.
Hal ini membuka peluang bagi kota-kota lain untuk menemukan versi mereka sendiri.
Tidak harus membuat atraksi spektakuler. Bisa dimulai dari sesuatu yang sudah menjadi bagian kehidupan lokal: kuliner, pasar, musik, sejarah, kerajinan, atau aktivitas komunitas.
Nocturnal tourism menunjukkan bahwa destinasi sebenarnya memiliki lebih banyak waktu untuk menawarkan pengalaman.
Pertanyaannya bukan lagi hanya “wisatawan mau ke mana?”, tetapi juga “wisatawan bisa melakukan apa setelah matahari terbenam?”
Ketika malam dirancang dengan baik, wisatawan mendapatkan pengalaman baru, pelaku usaha mendapatkan jam operasional yang lebih produktif, dan kota memiliki kesempatan untuk menyebarkan aktivitas ekonomi lebih merata.
Pada akhirnya, malam bukan sekadar waktu setelah tempat wisata tutup.
Malam bisa menjadi destinasi itu sendiri.
Ayo temuin paket paket-paket tour murah di 7summitstravel.com atau kamu bisa custom serta konsultasi gratis terkait tour kamu lewat whatsapp kami di nomor 0811-2277-954
Comments