Whatsapp

+6281-1227-7954

klien7summitstravel@gmail.com

Blog Image

09

Sep

Sate Bukan Cuma Satu: Kenapa Setiap Daerah Punya Versinya Sendiri?

Sate Madura, Si Paling Familiar

Kalau membicarakan sate, Sate Madura mungkin menjadi salah satu yang paling mudah dikenali. Berasal dari Madura, Jawa Timur, sate ini umumnya menggunakan daging ayam atau kambing yang dipotong kecil lalu dibakar di atas arang.

Ciri khasnya ada pada bumbu kacang yang gurih dan cenderung manis, biasanya dipadukan dengan kecap manis dan irisan bawang merah. Sate Madura juga sering disajikan bersama lontong atau ketupat. Karena banyak dijual di berbagai kota, sate ini bisa dibilang sudah sangat dekat dengan keseharian masyarakat Indonesia.

Sate Padang, Sate dengan Kuah Rempah

Berbeda jauh dari Sate Madura, Sate Padang dari Sumatera Barat justru terkenal karena kuahnya.

Daging yang digunakan biasanya berasal dari sapi, seperti daging, lidah, atau jeroan. Setelah dibakar, sate disiram dengan kuah kental berwarna kuning hingga kemerahan yang kaya rempah. Rasanya gurih, pedas, dan cukup kuat.

Karakter kuah inilah yang membuat Sate Padang langsung berbeda dari kebanyakan sate lainnya.

Sate Maranggi, Dagingnya Sudah Berbumbu

Dari Purwakarta, Jawa Barat, ada Sate Maranggi yang punya cara sendiri dalam memberikan rasa pada daging.

Sate ini biasanya menggunakan daging sapi atau kambing yang sudah dimarinasi dengan berbagai bumbu sebelum dibakar. Ketumbar, bawang putih, kecap, dan rempah menjadi bagian dari racikannya. Karena bumbunya sudah meresap ke dalam daging, Sate Maranggi biasanya tidak membutuhkan saus kacang yang tebal.

Sate ini biasanya disajikan bersama sambal tomat atau sambal oncom dan lalapan. Jadi, rasa utamanya memang datang dari daging yang sudah dibumbui sejak awal.

Sate Lilit, Sate yang Nggak Ditusuk Biasa

Kalau melihat Sate Lilit dari Bali, bentuknya saja sudah berbeda.

Daging ikan, ayam, atau bahan lainnya dicincang dan dicampur dengan bumbu khas Bali. Adonan tersebut kemudian dililitkan pada batang bambu atau batang serai sebelum dibakar.

Penggunaan serai juga membuat aromanya semakin khas saat terkena panas. Sate Lilit biasanya disantap bersama berbagai pelengkap khas Bali dan menjadi salah satu makanan yang cukup dikenal wisatawan ketika berkunjung ke Pulau Dewata.

Sate Klathak, Simpel tapi Punya Ciri Khas

Yogyakarta juga punya sate yang cukup berbeda, yaitu Sate Klathak.

Sate ini menggunakan daging kambing muda dengan bumbu yang relatif sederhana, terutama garam dan sedikit lada. Yang paling mencolok justru tusukannya. Sate Klathak menggunakan jeruji besi, bukan tusuk bambu seperti sate pada umumnya.

Kesederhanaan bumbunya justru membuat rasa daging kambing lebih terasa. Biasanya sate ini disajikan bersama kuah gulai dan nasi.

Sate Buntel, Daging Cincang yang Dibungkus Lemak

Beralih ke Solo, ada Sate Buntel. Kalau sate biasanya terdiri dari potongan daging yang langsung ditusuk, Sate Buntel menggunakan daging kambing yang dicincang terlebih dahulu.

Daging tersebut kemudian dibentuk dan dibungkus dengan lemak sebelum dibakar. Saat terkena panas, lemak akan membantu menjaga daging tetap juicy sekaligus memberikan aroma dan rasa yang lebih gurih. Sate Buntel biasanya disantap dengan sambal kecap.

Sate Ponorogo, Potongannya Memanjang

Dari Jawa Timur, ada Sate Ponorogo yang juga punya ciri khas sendiri.

Berbeda dengan potongan sate ayam yang biasanya berbentuk dadu, daging pada Sate Ponorogo diiris tipis memanjang. Daging kemudian dimarinasi dengan bumbu sebelum dibakar.

Bentuk potongan tersebut membuat tekstur dan tampilannya berbeda dari Sate Madura, meskipun sama-sama menggunakan daging ayam.

Sate Rembiga, Pedasnya Khas Lombok

Kalau kamu suka makanan dengan rasa pedas, Lombok punya Sate Rembiga.

Sate ini menggunakan daging sapi yang dibumbui dengan racikan khas Lombok. Karakter rasanya cenderung pedas, gurih, dan berbumbu kuat. Sate Rembiga menjadi salah satu contoh bagaimana kekayaan rempah dan selera masyarakat setempat bisa membentuk karakter sebuah sate.

Satu Nama, Banyak Cerita

Dari Madura sampai Bali, dari Sumatera Barat sampai Yogyakarta, sate ternyata punya banyak wajah.

Ada Sate Madura dengan bumbu kacang, Sate Padang dengan kuah rempah, Sate Maranggi yang mengandalkan marinasi, Sate Lilit dengan daging yang dililit, hingga Sate Klathak yang menggunakan jeruji besi.

Perbedaan ini bukan sekadar soal resep. Setiap sate menunjukkan bagaimana masyarakat di daerah masing-masing mengolah bahan, bumbu, dan teknik memasak sesuai dengan kebiasaan mereka.

Itulah kenapa sate menarik untuk dilihat bukan cuma sebagai makanan, tetapi juga sebagai bagian dari pengalaman wisata kuliner. Saat mencoba sate di daerah yang berbeda, yang dicari bukan hanya rasa enak, tetapi juga pengalaman mencicipi karakter daerah tersebut.

Jadi, kalau ada yang bilang sate ya cuma sate, mungkin belum cukup banyak keliling Indonesia. Karena semakin jauh kita berjalan, semakin banyak versi sate yang bisa ditemukan.

Share This News

Comments

Newsletter

Put your email below to subscribe our latest PROMO & NEWS