Whatsapp

+6281-1227-7954

klien7summitstravel@gmail.com

Blog Image

29

Aug

Kenapa “Coolcation” Mulai Jadi Tren Liburan?

Apa Itu Coolcation?

Coolcation bukan berarti harus liburan ke tempat yang bersalju.

Konsepnya lebih sederhana: menghindari panas berlebihan dan memilih destinasi dengan suhu yang lebih nyaman.

Karena itu, negara seperti Norwegia, Islandia, Finlandia, Swedia, Slovenia, hingga kawasan pegunungan Alpen mulai mendapat perhatian lebih besar saat musim panas.

Jadi, kalau dulu orang mencari destinasi dengan pertanyaan:

“Di mana pantainya bagus?”

Sekarang pertanyaannya bisa berubah menjadi:

“Di mana yang nggak terlalu panas?”

Gelombang Panas Ikut Mengubah Cara Orang Memilih Liburan

Salah satu alasan terbesar coolcation semakin populer adalah cuaca panas yang semakin ekstrem.

Musim panas di sejumlah wilayah Eropa dalam beberapa tahun terakhir diwarnai gelombang panas dengan suhu yang mendekati atau bahkan melewati 40°C. Kondisi seperti ini membuat aktivitas outdoor pada siang hari terasa jauh lebih berat.

Akibatnya, sebagian wisatawan mulai mempertimbangkan destinasi yang sebelumnya mungkin tidak masuk daftar liburan musim panas.

Bukan karena mereka tiba-tiba tidak suka pantai, tetapi karena kenyamanan mulai menjadi bagian penting dalam memilih destinasi.

Bukan Cuma Soal Suhu

Menariknya, coolcation ternyata tidak hanya menawarkan udara yang lebih sejuk.

Destinasi utara juga punya jenis pengalaman yang berbeda.

Di Norwegia, misalnya, wisatawan bisa menikmati fjord, hiking, glacier, dan pegunungan.

Di Islandia, ada lanskap vulkanik, air terjun, dan pemandian air panas.

Sementara Finlandia dan Swedia menawarkan danau, hutan, serta suasana kota yang lebih tenang.

Jadi, wisatawan tidak sekadar “kabur dari panas”, tetapi mendapatkan alasan baru untuk menjelajahi destinasi tersebut.

Destinasi Utara Mulai Dilirik Wisatawan

Perubahan minat ini mulai terlihat dalam data pencarian dan pemesanan.

Pada 2026, pencarian hotel di Copenhagen pada Hotels.com versi Prancis naik 246% setelah gelombang panas pertama melanda Prancis. Pencarian untuk Dublin juga meningkat 151%.

Di Amerika Serikat, penasihat perjalanan juga melaporkan pertumbuhan pemesanan ke Oslo dan Helsinki.

Sementara itu, penelitian Inghams Walking menempatkan Nuuk, Greenland sebagai salah satu destinasi coolcation yang paling cepat mengalami peningkatan minat pada 2026.

Artinya, peta destinasi musim panas perlahan mulai memiliki pilihan baru.

Coolcation Juga Bisa Berarti Liburan yang Lebih Aktif

Ada satu perbedaan menarik antara liburan panas tradisional dan coolcation.

Kalau suhu terlalu tinggi, wisatawan mungkin lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan atau menunggu sore sebelum melakukan aktivitas.

Di destinasi yang lebih sejuk, aktivitas seperti hiking, cycling, kayaking, trekking, dan menikmati alam bisa terasa lebih nyaman dilakukan sepanjang hari.

Makanya, coolcation cukup cocok untuk wisatawan yang memang ingin liburan sambil aktif bergerak.

Tapi Apakah Semua Orang Akan Beralih ke Destinasi Dingin?

Belum tentu.

Coolcation memang sedang naik, tetapi bukan berarti destinasi Mediterania seperti Spanyol, Italia, dan Yunani akan langsung ditinggalkan.

Wisatawan masih mempertimbangkan banyak faktor lain seperti harga, akses penerbangan, budaya, keamanan, fasilitas, dan daya tarik destinasi. Bahkan sejumlah negara Mediterania tetap mencatat pertumbuhan kunjungan yang kuat.

Jadi lebih tepat melihat coolcation sebagai pilihan tambahan, bukan pengganti total liburan pantai.

Bisa Jadi Cara Baru Menghindari Overtourism

Ada dampak lain yang menarik bagi industri pariwisata.

Jika wisatawan mulai menyebar ke wilayah utara atau destinasi yang sebelumnya kurang populer pada musim panas, konsentrasi wisatawan di destinasi tertentu bisa sedikit berkurang.

Beberapa pelaku industri bahkan melihat kemungkinan pembagian musim yang lebih fleksibel: destinasi panas bisa dikunjungi saat musim semi atau musim gugur, sementara musim panas dialihkan ke destinasi yang lebih sejuk.

Ini membuka peluang bagi destinasi yang sebelumnya tidak terlalu dianggap sebagai summer destination.

Indonesia Juga Punya Potensi Coolcation

Menariknya, konsep coolcation sebenarnya tidak harus selalu berarti terbang ke Eropa.

Indonesia juga punya destinasi dengan udara sejuk, terutama kawasan pegunungan dan dataran tinggi.

Bandung, Pangalengan, Lembang, Dieng, Batu, hingga beberapa kawasan pegunungan di Sumatra bisa menawarkan pengalaman liburan dengan suasana yang lebih sejuk dibandingkan kota-kota pesisir.

Bedanya, Indonesia mungkin bisa mengemasnya bukan sebagai “kabur dari musim panas”, tetapi sebagai escape dari panas dan rutinitas kota.

Dan ini menarik untuk industri travel: coolcation tidak harus dijual sebagai “destinasi dingin”, tetapi sebagai perjalanan untuk mencari kenyamanan.

Coolcation Menunjukkan Perubahan Cara Orang Berwisata

Pada akhirnya, tren ini memperlihatkan sesuatu yang lebih besar.

Wisatawan sekarang semakin mempertimbangkan bagaimana mereka ingin merasa selama perjalanan, bukan hanya tempat apa yang ingin mereka kunjungi.

Udara yang nyaman, aktivitas outdoor yang lebih menyenangkan, suasana yang tidak terlalu ramai, dan pengalaman yang terasa lebih santai mulai menjadi bagian dari keputusan perjalanan.

Jadi, coolcation mungkin memang terdengar seperti buzzword baru.

Tapi di balik istilah tersebut ada perubahan yang cukup nyata: cuaca semakin ikut menentukan ke mana orang ingin pergi.

Dan kalau tren ini terus berkembang, mungkin beberapa tahun lagi pertanyaan saat musim liburan bukan lagi:

“Mau ke pantai mana?”

Tapi:

“Mau cari adem di mana?”

Ayo temuin paket paket-paket tour murah di 7summitstravel.com atau kamu bisa custom serta konsultasi gratis terkait tour kamu lewat whatsapp kami di nomor 0811-2277-954

Share This News

Comments

Newsletter

Put your email below to subscribe our latest PROMO & NEWS