Whatsapp

+6281-1227-7954

klien7summitstravel@gmail.com

Blog Image

23

Aug

Karhutla di Nabire Papua Tengah: Asap Mulai Ganggu Aktivitas dan Penerbangan

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian di Kabupaten Nabire, Papua Tengah. Dalam beberapa hari terakhir, kebakaran dilaporkan muncul di sejumlah wilayah dan menghasilkan kepulan asap yang cukup tebal.

Situasi ini tidak hanya berdampak pada lingkungan. Aktivitas masyarakat hingga perjalanan udara ikut terdampak karena jarak pandang di sekitar Bandara Douw Aturure Nabire menurun drastis akibat asap.

279 Titik Panas Terdeteksi di Nabire

Data BMKG Nabire pada periode 20–21 Agustus 2026 menunjukkan terdapat 512 titik panas di Papua Tengah.

Dari jumlah tersebut, 279 titik berada di Kabupaten Nabire, menjadikannya wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak di Papua Tengah pada periode tersebut.

Hotspot sendiri merupakan indikator awal adanya sumber panas dan tidak otomatis berarti seluruh titik merupakan kebakaran, tetapi jumlah yang tinggi menjadi tanda perlunya kewaspadaan, terutama ketika kondisi cuaca mendukung penyebaran api.

Kebakaran Terjadi di Sejumlah Wilayah

Kebakaran lahan dilaporkan muncul di beberapa lokasi di Nabire, termasuk Sairera SP 3, SP 2 Jalur 4, Waroki, Waharia, Sanoba, hingga Banda Lama.

Kondisi kering dalam beberapa waktu terakhir membuat vegetasi lebih mudah terbakar dan meningkatkan risiko api menyebar.

Di Kampung Waroki, misalnya, tim gabungan TNI dan BPBD melaporkan sekitar 95 persen titik api telah berhasil dikendalikan pada Jumat malam, 21 Agustus. Sekitar 80 personel TNI turut dikerahkan dalam operasi pemadaman.

Sementara itu, di Nabire Barat, Polda Papua Tengah juga mengerahkan personel gabungan dan Brimob untuk mencegah api meluas ke area lain.

Asap Mulai Berdampak pada Penerbangan

Dampak karhutla juga terasa di sektor transportasi.

Pada 21 Agustus 2026, asap tebal membuat jarak pandang di sekitar Bandara Douw Aturure Nabire turun hingga di bawah 70 meter. Kondisi tersebut menyebabkan dua penerbangan dibatalkan sementara demi keselamatan penerbangan.

Bagi sektor pariwisata, kondisi seperti ini perlu menjadi perhatian karena Nabire merupakan salah satu pintu perjalanan menuju berbagai wilayah di Papua Tengah.

Gangguan penerbangan dapat berdampak pada jadwal wisata, mobilitas wisatawan, hingga rencana perjalanan menuju destinasi di sekitarnya.

Pemerintah Bentuk Satgas Karhutla

Pemerintah Provinsi Papua Tengah kemudian memperkuat respons terhadap kondisi tersebut.

Pemprov membentuk Satgas Penanganan Karhutla untuk mengantisipasi dan menangani meningkatnya titik panas di sejumlah wilayah Papua Tengah. Koordinasi juga melibatkan berbagai instansi, termasuk BPBD, Dinas Kehutanan, Dinas Kesehatan, kepolisian, BMKG, dan BNPB.

Langkah ini penting karena penanganan karhutla tidak hanya berkaitan dengan memadamkan api, tetapi juga mengurangi dampak asap, melindungi masyarakat, serta mencegah kebakaran meluas.

Bagaimana Dampaknya bagi Wisata?

Karhutla menunjukkan bahwa kondisi lingkungan memiliki hubungan langsung dengan perjalanan wisata.

Ketika asap semakin tebal, bukan hanya kualitas udara yang terganggu. Jarak pandang, transportasi udara, aktivitas outdoor, dan kenyamanan wisatawan juga dapat terdampak.

Karena itu, wisatawan yang memiliki rencana perjalanan ke Nabire dan wilayah Papua Tengah sebaiknya memantau informasi resmi mengenai kondisi cuaca, kualitas udara, titik kebakaran, serta status penerbangan sebelum berangkat.

Pada akhirnya, isu karhutla bukan hanya tentang api yang membakar lahan.

Ketika lingkungan terganggu, perjalanan wisata juga ikut terdampak.


Ayo temuin paket paket-paket tour murah di 7summitstravel.com atau kamu bisa custom serta konsultasi gratis terkait tour kamu lewat whatsapp kami di nomor 0811-2277-954

Share This News

Comments

Newsletter

Put your email below to subscribe our latest PROMO & NEWS