Whatsapp

+6281-1227-7954

klien7summitstravel@gmail.com

Blog Image

14

Aug

Ketika Menjadi Viral Justru Bisa Membahayakan Sebuah Destinasi

Viral Tidak Sama dengan Siap Menerima Wisatawan

Sebuah destinasi memiliki kapasitas tertentu.

Ada batas jumlah kendaraan yang bisa ditampung, jumlah sampah yang bisa dikelola, air yang tersedia, jalur yang bisa dilalui, hingga jumlah wisatawan yang dapat diterima tanpa mengurangi kualitas pengalaman.

Konsep ini dikenal sebagai carrying capacity.

Masalahnya, algoritma media sosial tidak mengenal carrying capacity.

Ketika sebuah destinasi viral, algoritma justru mendorong lebih banyak orang untuk melihat dan mengunjungi tempat tersebut.

Akibatnya, pertumbuhan permintaan bisa terjadi jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan destinasi untuk beradaptasi.

Ketika Infrastruktur Mulai Kewalahan

Dampak paling mudah terlihat biasanya adalah kepadatan.

Jalan yang sebelumnya cukup untuk masyarakat lokal tiba-tiba dipenuhi kendaraan wisatawan. Area parkir tidak mencukupi. Antrean panjang muncul di pintu masuk. Toilet dan fasilitas umum harus digunakan jauh lebih banyak dari kapasitas normal.

Masalah berikutnya adalah sampah.

Jika jumlah wisatawan meningkat tanpa sistem pengelolaan sampah yang ikut berkembang, lingkungan menjadi pihak pertama yang menerima dampaknya.

Hal yang sama berlaku untuk air bersih, energi, transportasi, dan fasilitas kesehatan.

Dengan kata lain, viralitas menciptakan demand, tetapi tidak otomatis menciptakan infrastructure.

Alam Bisa Menjadi Korban Popularitas

Destinasi alam memiliki kerentanan yang lebih besar.

Jalur trekking bisa mengalami erosi karena terlalu banyak diinjak. Vegetasi dapat rusak. Satwa bisa terganggu. Terumbu karang dapat mengalami tekanan akibat aktivitas wisata yang berlebihan.

Dalam beberapa kasus, wisatawan bahkan tidak menyadari bahwa aktivitas sederhana seperti keluar dari jalur yang ditentukan dapat memberikan dampak kumulatif yang besar ketika dilakukan oleh ribuan orang.

Satu orang mungkin tidak terasa.

Tetapi ribuan orang melakukan hal yang sama setiap hari?

Cerita menjadi berbeda.

Contohnya Bukan Hanya di Indonesia

Fenomena ini dikenal luas sebagai overtourism dan terjadi di berbagai destinasi dunia.

Hallstatt di Austria pernah menjadi contoh bagaimana popularitas media sosial dapat menciptakan tekanan besar bagi sebuah desa kecil. Desa yang sebenarnya memiliki populasi lokal terbatas harus menghadapi kunjungan wisatawan dalam jumlah besar karena citranya yang dianggap seperti negeri dongeng.

Di Spanyol, Barcelona juga menghadapi persoalan overtourism dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat lokal.

Sementara itu, Boracay di Filipina bahkan pernah ditutup sementara pada 2018 untuk menjalani rehabilitasi lingkungan setelah menghadapi persoalan akibat perkembangan pariwisata yang terlalu cepat.

Kasus-kasus tersebut menunjukkan bahwa masalah overtourism bukan sekadar persoalan “terlalu ramai”.

Ini menyangkut bagaimana sebuah destinasi mempertahankan kualitas lingkungan dan kehidupan masyarakatnya.

Viralitas Bisa Mengubah Karakter Lokal

Ada satu dampak lain yang lebih sulit diukur: perubahan identitas.

Ketika sebuah kawasan semakin populer, bisnis yang muncul biasanya mengikuti kebutuhan wisatawan.

Restoran lokal bisa berubah menjadi restoran yang menyesuaikan selera turis. Toko kebutuhan sehari-hari berganti menjadi toko oleh-oleh. Harga properti dan biaya hidup bisa meningkat.

Dalam jangka panjang, masyarakat lokal bisa merasa bahwa ruang yang sebelumnya menjadi bagian dari kehidupan mereka perlahan berubah menjadi ruang yang lebih ditujukan untuk wisatawan.

Di sinilah pariwisata menghadapi dilema.

Destinasi membutuhkan wisatawan, tetapi destinasi juga harus tetap menjadi tempat yang nyaman bagi masyarakat yang tinggal di dalamnya.

Jadi, Apakah Destinasi Sebaiknya Tidak Viral?

Bukan begitu.

Viralitas tetap bisa menjadi aset luar biasa bagi destinasi.

Masalahnya bukan pada viralnya, tetapi pada bagaimana viralitas tersebut dikelola.

Destinasi yang tiba-tiba populer perlu segera memiliki strategi pengaturan kunjungan.

Misalnya dengan sistem reservasi, pembatasan jumlah pengunjung, pembagian waktu kunjungan, tarif berbeda pada periode tertentu, pengelolaan parkir, hingga pengembangan destinasi alternatif di sekitar kawasan.

Dengan begitu, popularitas tidak hanya menghasilkan jumlah kunjungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang lebih terdistribusi.

Strategi yang Bisa Dipelajari Brand Travel

Fenomena ini juga penting bagi brand travel.

Ketika sebuah destinasi viral, jangan langsung menjualnya hanya dengan pesan “wajib datang”.

Brand travel bisa mengambil pendekatan yang lebih bertanggung jawab.

Misalnya dengan mengarahkan wisatawan datang pada waktu yang lebih sepi, mengedukasi aturan kunjungan, menggunakan pemandu lokal, memilih operator yang menerapkan prinsip responsible tourism, atau mengombinasikan destinasi populer dengan kawasan lain di sekitarnya.

Strategi tersebut justru dapat menciptakan pengalaman yang lebih baik.

Wisatawan tidak perlu berdesakan hanya untuk mendapatkan satu foto.

Dari “Viral” Menjadi “Sustainable”

Ini yang menjadi tantangan terbesar industri pariwisata saat ini.

Media sosial dapat membantu sebuah destinasi mendapatkan exposure dalam hitungan hari. Tetapi membangun sistem pariwisata yang berkelanjutan membutuhkan waktu jauh lebih lama.

Karena itu, ukuran keberhasilan destinasi seharusnya tidak berhenti pada jumlah views, jumlah pengunjung, atau seberapa sering tempat tersebut muncul di media sosial.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Apakah masyarakat lokal mendapatkan manfaat? Apakah lingkungan tetap terjaga? Dan apakah wisatawan masih mendapatkan pengalaman yang berkualitas?

Jika jawabannya iya, viralitas bisa menjadi peluang. Jika tidak, popularitas hanya akan mempercepat kerusakan. Menjadi viral memang terlihat seperti mimpi bagi sebuah destinasi. Tetapi ketika ribuan orang datang dalam waktu bersamaan, mimpi tersebut bisa berubah menjadi tantangan besar.

Destinasi yang kuat bukan hanya destinasi yang berhasil membuat orang ingin datang. Destinasi yang kuat adalah destinasi yang mampu menerima wisatawan tanpa kehilangan alasan mengapa tempat itu menarik sejak awal.

Bagi industri travel, ini menjadi pengingat bahwa tugas pariwisata bukan sekadar membawa lebih banyak orang ke suatu tempat.

Tugasnya adalah memastikan tempat tersebut tetap layak dikunjungi, tetap nyaman dihuni, dan tetap memiliki cerita untuk generasi berikutnya.

Share This News

Comments

Newsletter

Put your email below to subscribe our latest PROMO & NEWS