Newsletter
Put your email below to subscribe our latest PROMO & NEWS
+6281-1227-7954
klien7summitstravel@gmail.com
Situasi tersebut terjadi di Louisiana, Amerika Serikat. Komunitas Isle de Jean Charles menghadapi kehilangan daratan akibat erosi pesisir, kenaikan muka laut, penurunan tanah, dan badai. Wilayah yang dahulu mencakup lebih dari 22.000 acre kini tersisa sekitar 320 acre.
Relokasi kemudian dilakukan secara sukarela melalui pembangunan komunitas baru yang dikenal sebagai The New Isle.
Relokasi komunitas berbeda dengan memindahkan bangunan dari satu tempat ke tempat lain.
Yang ikut berpindah adalah hubungan sosial, budaya, sejarah, dan cara hidup masyarakat.
Isle de Jean Charles merupakan rumah bersejarah bagi komunitas masyarakat adat. Karena itu, pembangunan The New Isle dirancang bukan hanya untuk menyediakan rumah yang lebih aman, tetapi juga mempertahankan hubungan komunitas dan identitas budaya mereka.
Ini membuat relokasi menjadi persoalan sosial sekaligus lingkungan.
Kisah Isle de Jean Charles bukan satu-satunya.
Di Alaska, komunitas Shishmaref juga menghadapi ancaman erosi pantai, mencairnya permafrost, dan banjir. Pemerintah Alaska bahkan melakukan kajian untuk mencari lokasi baru yang lebih aman bagi komunitas tersebut.
Perubahan iklim dalam konteks ini bukan lagi isu yang hanya dibicarakan dalam konferensi internasional.
Dampaknya menyentuh pertanyaan yang sangat mendasar:
Di mana manusia akan tinggal ketika lingkungan tempat tinggalnya tidak lagi aman?
Pembangunan komunitas baru di Louisiana dirancang dengan mempertimbangkan karakter masyarakat asalnya.
Menurut pemerintah Louisiana, rumah-rumah di The New Isle dirancang untuk merefleksikan cara hidup komunitas sebelumnya, dengan ruang luar, area bersama, dan akses ke ruang hijau. Sebanyak 37 rumah telah dihuni oleh keluarga atau warga yang melakukan resettlement sejak 2022.
Pendekatan ini menarik dari perspektif destination development.
Sebuah tempat baru tidak hanya perlu aman secara fisik. Ia juga harus terasa seperti rumah bagi orang yang tinggal di dalamnya.
Kisah seperti ini memiliki potensi sebagai bentuk climate tourism education.
Bukan berarti komunitas yang mengalami dampak perubahan iklim harus dijadikan objek tontonan.
Sebaliknya, cerita mereka dapat membantu wisatawan memahami bahwa perubahan lingkungan memiliki dampak nyata terhadap kehidupan manusia.
Dalam konteks corporate experience, tema seperti perubahan iklim, adaptasi komunitas, dan pembangunan berkelanjutan bahkan dapat menjadi bagian dari program edukasi atau learning journey.
Indonesia memiliki ribuan pulau dan banyak komunitas yang hidup di kawasan pesisir.
Karena itu, isu adaptasi menjadi semakin relevan bagi perencanaan destinasi.
Pariwisata tidak bisa hanya bertanya bagaimana membuat sebuah kawasan semakin menarik bagi wisatawan.
Pertanyaan lainnya adalah:
Apakah kawasan tersebut masih mampu menopang kehidupan masyarakatnya dalam beberapa dekade ke depan?
Inilah mengapa sustainability seharusnya bukan sekadar tambahan dalam strategi pariwisata.
Kisah Isle de Jean Charles menunjukkan bahwa perubahan iklim dapat mengubah sesuatu yang paling mendasar dalam kehidupan manusia: tempat tinggal.
Relokasi bukan sekadar memindahkan rumah ke tanah yang lebih tinggi. Ada budaya, memori, hubungan sosial, dan identitas yang harus ikut dipertahankan.
Bagi pariwisata, kisah ini menjadi pengingat bahwa destinasi yang berkelanjutan bukan hanya destinasi yang menarik untuk dikunjungi hari ini.
Destinasi yang benar-benar berkelanjutan adalah tempat yang masih layak dihuni oleh masyarakatnya di masa depan.
Ayo temuin paket paket-paket tour murah di 7summitstravel.com atau kamu bisa custom serta konsultasi gratis terkait tour kamu lewat whatsapp kami di nomor 0811-2277-954
Comments