Newsletter
Put your email below to subscribe our latest PROMO & NEWS
+6281-1227-7954
klien7summitstravel@gmail.com
Di Addis Ababa, tradisi menikmati makanan Ethiopia tidak bisa dilepaskan dari injera, roti pipih bertekstur seperti spons yang menjadi makanan pokok masyarakat Ethiopia.
Berbagai lauk seperti daging, sayuran, dan kacang-kacangan biasanya diletakkan di atas injera yang disajikan dalam satu nampan besar. Makanan kemudian disantap menggunakan potongan injera sebagai pengganti sendok dan garpu.
Makan bersama dari satu nampan membuat pengalaman kuliner terasa lebih sosial. Hidangan bukan hanya dinikmati sendiri, tetapi menjadi bagian dari interaksi antarorang.
Tokyo memiliki tradisi kuliner yang sangat berbeda melalui konsep omakase.
Dalam pengalaman omakase, pelanggan menyerahkan pilihan menu kepada chef. Alih-alih memilih setiap makanan dari daftar menu, chef menentukan hidangan berdasarkan bahan yang tersedia, musim, dan konsep restoran.
Pengalaman ini membuat makan menjadi seperti sebuah perjalanan. Setiap hidangan disajikan secara bertahap dan biasanya dinikmati langsung di depan chef.
Salah satu ciri khas kuliner Korea Selatan adalah keberadaan banchan, yaitu berbagai hidangan kecil yang disajikan sebagai pendamping makanan utama.
Ketika makan di Seoul, satu meja dapat dipenuhi berbagai mangkuk kecil berisi kimchi, sayuran, tahu, ikan, dan lauk lainnya.
Banchan membuat pengalaman makan terasa lebih beragam. Satu hidangan utama dapat dinikmati bersama banyak rasa dan tekstur berbeda dalam satu meja.
Kuliner Thailand terkenal dengan perpaduan rasa yang kuat, seperti manis, asam, asin, pedas, dan gurih.
Di Bangkok, berbagai hidangan sering diletakkan di tengah meja untuk dinikmati bersama. Nasi menjadi pendamping berbagai lauk, sementara setiap orang dapat mengambil makanan sesuai selera.
Konsep makan bersama ini membuat satu kali makan bisa menghadirkan banyak jenis hidangan sekaligus.
Marrakech memiliki tradisi kuliner yang sangat erat dengan tajine, hidangan yang dimasak menggunakan wadah tanah liat dengan penutup berbentuk kerucut.
Tajine dapat berisi daging, ayam, sayuran, buah kering, hingga berbagai rempah. Bentuk wadahnya membantu mempertahankan uap selama proses memasak sehingga bahan makanan menjadi lembut dan kaya rasa.
Bagi wisatawan, menikmati tajine bukan hanya tentang mencicipi makanan, tetapi juga mengenal teknik memasak tradisional Maroko.
Lima dikenal sebagai salah satu pusat kuliner terpenting di Amerika Selatan. Salah satu makanan yang sangat identik dengan kota ini adalah ceviche.
Ceviche dibuat dari ikan atau makanan laut yang dipadukan dengan bahan seperti air jeruk nipis, bawang, cabai, dan rempah.
Tradisi menikmati ceviche juga berkaitan erat dengan budaya pesisir Peru. Kesegaran bahan menjadi bagian penting dari hidangan sehingga makanan ini biasanya dinikmati dalam kondisi segar.
Indonesia juga memiliki budaya makan yang tidak kalah menarik. Di Bandung dan wilayah Jawa Barat, pengalaman kuliner sering kali berkaitan dengan budaya ngariung, yaitu berkumpul bersama sambil menikmati makanan.
Warung Sunda, rumah makan tradisional, hingga tempat makan sederhana dapat menjadi ruang untuk berkumpul bersama keluarga dan teman.
Hidangan seperti nasi timbel, lalapan, sambal, tahu, tempe, dan berbagai lauk sering disajikan untuk dinikmati bersama. Kesederhanaan makanan justru menjadi bagian dari pengalaman kuliner yang terasa dekat dengan kehidupan masyarakat.
Tradisi makan memberikan pengalaman yang berbeda dari sekadar mencoba makanan khas.
Wisatawan dapat mengetahui bagaimana masyarakat setempat memperlakukan makanan, bagaimana mereka berkumpul, hingga nilai sosial yang ada di balik sebuah hidangan.
Karena itu, wisata kuliner sebenarnya bisa menjadi salah satu cara paling sederhana untuk memahami budaya suatu kota.
Sebuah kota dapat dikenal bukan hanya melalui landmark atau bangunan bersejarahnya, tetapi juga melalui cara masyarakatnya makan.
Addis Ababa memiliki budaya berbagi injera, Tokyo menawarkan pengalaman omakase, Seoul terkenal dengan banchan, sementara Marrakech memiliki tajine sebagai bagian dari tradisi kulinernya.
Masing-masing menunjukkan bahwa makanan dapat menjadi identitas yang melekat pada sebuah tempat.
Tradisi makan di berbagai kota menunjukkan bahwa kuliner tidak pernah sekadar tentang makanan. Cara menyajikan, memilih, memasak, hingga menikmatinya dapat menjadi bagian dari budaya yang membuat sebuah destinasi semakin menarik.
Bagi wisatawan, mencoba makanan lokal sekaligus mengikuti tradisi makannya bisa memberikan pengalaman yang jauh lebih berkesan. Karena terkadang, cara terbaik mengenal sebuah kota adalah duduk di meja makannya.
Comments