Whatsapp

+6281-1227-7954

klien7summitstravel@gmail.com

Blog Image

16

Sep

Persaingan Airlines di Era Wisatawan yang Makin Selektif

Perubahan ini membuat persaingan antar-airlines ikut bergeser. Maskapai tidak cukup hanya menawarkan kursi dari satu kota ke kota lain. Mereka harus mampu membuat seluruh perjalanan terasa praktis, transparan, dan sepadan dengan uang yang dikeluarkan.

Harga Tetap Penting, Tapi Bukan Segalanya

Harga masih menjadi salah satu pertimbangan utama wisatawan. Namun, penumpang semakin terbiasa melihat harga akhir, bukan hanya angka yang muncul di awal pencarian.

Bagasi, pemilihan kursi, makanan, perubahan jadwal, hingga layanan tambahan bisa membuat harga tiket awal berubah. Model unbundled pricing seperti ini semakin umum di industri penerbangan. IATA memperkirakan pendapatan dari layanan tambahan (ancillary revenue) mencapai sekitar US$145 miliar pada 2026, hampir 14% dari total pendapatan airlines.

Artinya, persaingan airlines juga terjadi pada kemampuan menawarkan pilihan: penumpang yang hanya membutuhkan kursi bisa membayar lebih sedikit, sementara mereka yang membutuhkan lebih banyak layanan bisa menambahkannya.

Wisatawan Mulai Membandingkan “Value”, Bukan Sekadar Tarif

Dua tiket dengan harga berbeda belum tentu memberikan pengalaman yang berbeda jauh. Sebaliknya, tiket yang terlihat murah bisa menjadi kurang menarik setelah ditambah bagasi, kursi, atau biaya lainnya.

Survei IATA menunjukkan 72% responden lebih memilih membayar tarif dasar serendah mungkin dan membayar layanan tambahan yang memang mereka perlukan.

Di sinilah konsep value for money menjadi penting.

Maskapai harus bisa menjawab satu hal: apa yang didapat penumpang dari uang yang mereka bayarkan?

Pengalaman Digital Ikut Menjadi Medan Persaingan

Wisatawan juga semakin mengharapkan proses yang serba praktis.

Menurut IATA Global Passenger Survey 2025, 54% penumpang ingin berinteraksi langsung dengan airlines, terutama melalui perangkat mobile. Sebanyak 78% bahkan ingin menggunakan satu smartphone yang menggabungkan dompet digital, identitas perjalanan, dan kartu loyalitas untuk mengurus perjalanan.

Artinya, aplikasi maskapai bukan lagi sekadar tempat membeli tiket.

Check-in, boarding pass, pembayaran, informasi penerbangan, loyalty program, sampai informasi bagasi menjadi bagian dari pengalaman yang ikut menentukan persepsi penumpang terhadap sebuah maskapai.

Kecepatan dan Kemudahan Semakin Dicari

Wisatawan juga semakin sensitif terhadap waktu.

Dalam data IATA, meminimalkan total waktu perjalanan menjadi salah satu faktor penting ketika penumpang memilih penerbangan. Pada saat yang sama, kenyamanan dan kemudahan proses di bandara juga semakin mendapat perhatian.

Karena itu, penerbangan langsung bisa memiliki nilai lebih meskipun tarifnya sedikit lebih mahal.

Bagi wisatawan, selisih beberapa jam perjalanan bisa berarti lebih banyak waktu untuk menikmati destinasi. Untuk perjalanan bisnis atau MICE, efisiensi waktu bahkan bisa menjadi pertimbangan utama.

Loyalty Program Tidak Bisa Hanya Mengandalkan Miles

Program loyalitas juga menghadapi tantangan baru.

Penumpang tidak selalu setia hanya karena memiliki miles. Mereka bisa berpindah maskapai ketika menemukan kombinasi harga, jadwal, rute, atau layanan yang dianggap lebih sesuai.

Karena itu, loyalty program perlahan perlu memberikan manfaat yang lebih relevan dengan kebiasaan perjalanan: kemudahan upgrade, prioritas layanan, fleksibilitas, akses lounge, hingga integrasi dengan ekosistem perjalanan.

Persaingan akhirnya bukan hanya tentang siapa yang punya program miles paling banyak, tetapi siapa yang mampu membuat penumpang merasa perjalanan berikutnya akan lebih mudah jika tetap bersama mereka.

Airlines Harus Mengenal Penumpangnya Lebih Baik

Wisatawan saat ini juga semakin beragam. Ada yang mengejar tiket murah, ada yang mementingkan bagasi, ada yang memilih penerbangan langsung, sementara sebagian lain lebih mengutamakan pengalaman premium.

Data IATA menunjukkan preferensi tersebut bahkan berbeda antarwilayah dan kelompok usia. Penumpang muda, misalnya, lebih aktif menggunakan aplikasi dan teknologi digital, tetapi juga termasuk kelompok yang paling sulit merasa sangat puas dengan perjalanan mereka.

Ini membuat strategi “satu produk untuk semua orang” semakin sulit diterapkan.

Persaingan Airlines Bergerak ke Pengalaman

Pada akhirnya, persaingan airlines bukan lagi sekadar siapa yang memiliki pesawat lebih banyak atau tiket lebih murah.

Maskapai bersaing sejak seseorang mencari tiket, memilih penerbangan, melakukan pembayaran, check-in, masuk ke bandara, naik pesawat, mengambil bagasi, sampai merencanakan penerbangan berikutnya.

IATA mencatat tingkat kepuasan penumpang global mencapai 86% pada 2025, angka tertinggi yang tercatat dalam surveinya.

Justru karena standar pengalaman semakin tinggi, wisatawan punya alasan semakin banyak untuk membandingkan.

Di era ini, airlines yang mampu menawarkan harga yang masuk akal, proses yang mudah, jadwal yang sesuai, layanan yang jelas, dan pengalaman yang konsisten punya lebih banyak kesempatan untuk memenangkan kepercayaan penumpang.

Karena bagi wisatawan yang makin selektif, pertanyaannya bukan lagi sekadar “maskapai mana yang paling murah?”

Tetapi: “maskapai mana yang paling masuk akal untuk perjalanan saya?”

Share This News

Comments

Newsletter

Put your email below to subscribe our latest PROMO & NEWS