Newsletter
Put your email below to subscribe our latest PROMO & NEWS
+6281-1227-7954
klien7summitstravel@gmail.com
Ada satu jalur di Gunung Semeru yang namanya terdengar romantis, tetapi ceritanya justru membuat banyak pendaki penasaran. Namanya Tanjakan Cinta.
Letaknya berada setelah Ranu Kumbolo dalam perjalanan menuju Oro-Oro Ombo. Jalur ini dikenal bukan hanya karena tanjakannya yang cukup menguras tenaga, tetapi juga karena mitos yang sudah lama berkembang di kalangan pendaki.
Konon, seseorang yang berhasil melewati Tanjakan Cinta tanpa menoleh ke belakang sambil memikirkan orang yang disayanginya dipercaya akan mendapatkan kisah cinta yang bahagia.
Kedengarannya seperti cerita romantis.
Tapi sebenarnya, dari mana mitos ini berasal?
Sebelum membahas Tanjakan Cinta, ada satu tempat yang tidak bisa dipisahkan dari cerita ini: Ranu Kumbolo.
Danau yang berada di kawasan Gunung Semeru ini menjadi salah satu tempat paling ikonik dalam jalur pendakian. Pemandangan perbukitan yang mengelilingi danau, udara pegunungan yang dingin, serta suasana pagi dengan cahaya matahari yang perlahan muncul membuat Ranu Kumbolo menjadi salah satu titik yang paling dinantikan pendaki.
Dari kawasan inilah perjalanan kemudian berlanjut menuju Tanjakan Cinta.
Menariknya, justru setelah menikmati pemandangan Ranu Kumbolo, pendaki akan menghadapi salah satu tanjakan yang paling terkenal di jalur tersebut.
Tidak ada satu sumber sejarah yang secara pasti menjelaskan kapan nama Tanjakan Cinta pertama kali digunakan.
Nama tersebut lebih dikenal melalui cerita dan mitos yang berkembang di kalangan pendaki.
Salah satu versi yang paling populer menyebutkan bahwa bentuk jalurnya memiliki kemiripan dengan simbol hati. Ada pula cerita mengenai kisah tragis sepasang kekasih yang kemudian dikaitkan dengan nama Tanjakan Cinta.
Namun, cerita tersebut merupakan legenda yang berkembang, bukan fakta sejarah yang telah terbukti.
Justru karena cerita tersebut terus diceritakan dari satu pendaki ke pendaki lainnya, Tanjakan Cinta akhirnya memiliki identitas yang sangat kuat.
Inilah bagian yang paling terkenal.
Menurut mitos yang beredar, pendaki yang melewati Tanjakan Cinta sambil memikirkan orang yang dicintainya dan tidak menoleh ke belakang sampai mencapai puncak dipercaya akan mendapatkan cinta yang langgeng atau keinginannya dalam urusan asmara akan terkabul.
Sebaliknya, ada kepercayaan bahwa jika menoleh ke belakang, hubungan cintanya bisa berakhir.
Tentu saja, tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa menoleh ke belakang di sebuah tanjakan dapat menentukan masa depan hubungan seseorang.
Jadi, mitos tersebut lebih tepat dipandang sebagai cerita budaya yang berkembang di kalangan pendaki.
Kalau cuma dilarang menoleh, mungkin terdengar mudah.
Masalahnya, Ranu Kumbolo berada tepat di belakang.
Ketika pendaki mulai menaiki Tanjakan Cinta, pemandangan danau perlahan terlihat dari ketinggian. Semakin tinggi posisi pendaki, semakin luas pula panorama yang bisa dilihat.
Di sinilah mitos tersebut terasa semakin menarik.
Pendaki harus memilih: terus melihat ke depan atau menyerah pada rasa penasaran dan menoleh ke belakang?
Tidak sedikit pendaki yang akhirnya menoleh.
Bukan karena tidak percaya mitos, tetapi karena pemandangan Ranu Kumbolo dari atas memang terlalu sayang untuk dilewatkan.
Salah satu versi legenda yang beredar menceritakan tentang sepasang kekasih yang mendaki Gunung Semeru.
Dalam cerita tersebut, sang pria berjalan lebih dahulu sementara pasangannya berada di belakang. Kemudian terjadi sebuah tragedi yang menyebabkan sang perempuan meninggal dunia.
Kisah tersebut kemudian dikaitkan dengan nama Tanjakan Cinta. Versi cerita ini telah lama beredar di kalangan pendaki, meskipun tidak terdapat bukti kuat yang dapat memastikan kisah tersebut sebagai peristiwa sejarah.
Karena itulah, cerita tersebut sebaiknya ditulis sebagai legenda atau mitos, bukan sebagai fakta.
Popularitas Tanjakan Cinta juga tidak bisa dilepaskan dari novel dan film 5 CM.
Film tersebut menampilkan perjalanan sekelompok sahabat menuju Gunung Semeru dan membuat berbagai lokasi di jalur pendakian semakin dikenal masyarakat luas.
Salah satunya adalah Tanjakan Cinta.
Mitos untuk tidak menoleh ke belakang kemudian semakin populer dan menjadi bagian dari pengalaman yang ingin dicoba oleh sebagian pendaki ketika berada di sana. Detik juga mencatat bahwa kisah Tanjakan Cinta semakin dikenal setelah muncul dalam novel dan film 5 CM.
Kalau dipikir-pikir, mitos Tanjakan Cinta sebenarnya memiliki pesan yang cukup menarik.
Tidak menoleh ke belakang bisa dimaknai sebagai simbol untuk terus berjalan dan tidak terjebak pada masa lalu.
Memang, itu bukan makna resmi dari mitosnya.
Namun bagi sebagian orang, pengalaman mendaki tanjakan sambil berusaha tidak menoleh bisa menjadi pengalaman yang personal.
Ada yang memikirkan pasangan.
Ada yang memikirkan keluarga.
Ada yang memikirkan seseorang dari masa lalu.
Bahkan ada yang cuma memikirkan, “Kapan ini tanjakannya selesai?” ????
Di balik cerita romantisnya, Tanjakan Cinta tetap merupakan bagian dari jalur pendakian yang membutuhkan tenaga dan konsentrasi.
Ada pendaki yang menganggap larangan menoleh sebagai bagian dari mitos.
Namun, dari sisi keselamatan, menjaga fokus ketika melewati jalur menanjak memang jauh lebih penting daripada mencoba membuktikan sebuah cerita. Detik mencatat bahwa sebagian pendaki juga memandang larangan menoleh sebagai cara agar pendaki tetap fokus dan menjaga keseimbangan ketika melewati tanjakan.
Jadi, kalau mau mencoba mitosnya, jangan sampai malah memaksakan diri.
Cinta boleh diuji, keselamatan jangan.
Setelah melewati Tanjakan Cinta, perjalanan pendaki akan berlanjut menuju kawasan Oro-Oro Ombo.
Pemandangannya kemudian berubah. Jika Ranu Kumbolo menawarkan suasana danau yang dikelilingi perbukitan, Oro-Oro Ombo memberikan lanskap padang terbuka yang menjadi salah satu bagian menarik dari jalur Semeru.
Perubahan lanskap inilah yang membuat perjalanan dari Ranu Kumbolo terasa seperti memiliki beberapa bab.
Dan Tanjakan Cinta menjadi salah satu bab yang paling mudah diingat.
Jawabannya: tidak ada bukti ilmiah yang membuktikannya.
Menoleh atau tidak menoleh ke belakang tidak menentukan apakah hubungan seseorang akan bertahan atau berakhir.
Tetapi justru di situlah menariknya sebuah mitos.
Ia membuat perjalanan menjadi lebih berwarna.
Pendaki tidak hanya berjalan dari satu tempat ke tempat lain. Mereka membawa cerita, mencoba tradisi, bercanda bersama teman, bahkan mungkin menjadikan perjalanan tersebut sebagai kenangan bersama seseorang yang spesial.
Dan ketika sampai di puncak Tanjakan Cinta, barangkali hal pertama yang dilakukan justru...
menoleh ke belakang.
Bukan karena takut cintanya kandas.
Tetapi karena Ranu Kumbolo dari atas sana memang terlalu indah untuk tidak dilihat.
Ranu Kumbolo memberikan ketenangan.
Tanjakan Cinta memberikan tantangan.
Sementara mitosnya memberikan cerita.
Ketiganya membuat perjalanan menuju kawasan Semeru tidak hanya tentang mendaki gunung, tetapi juga tentang pengalaman yang akan diceritakan kembali setelah perjalanan selesai.
Jadi, apakah kamu percaya dengan mitos Tanjakan Cinta?
Percaya atau tidak, satu hal yang pasti: jangan lupa menikmati pemandangannya.
Dan kalau kamu akhirnya menoleh ke belakang?
Tenang.
Mungkin yang putus bukan hubunganmu.
Cuma napasmu karena tanjakannya.
Comments