Newsletter
Put your email below to subscribe our latest PROMO & NEWS
+6281-1227-7954
klien7summitstravel@gmail.com
Perkembangan media sosial membuat tren wisata bergerak sangat cepat. Satu tempat viral, orang datang, kontennya menyebar, lalu muncul banyak tempat lain dengan konsep yang hampir sama.
Akibatnya, pengalaman melihat destinasi yang “Instagramable” bisa terasa repetitif.
Spot dengan bunga warna-warni, bangunan estetik, infinity pool, ayunan dengan pemandangan, atau kafe dengan interior unik memang menarik. Namun ketika konsep serupa bisa ditemukan di banyak kota, daya tariknya perlahan berkurang.
Wisatawan mulai mencari sesuatu yang tidak bisa sekadar ditiru oleh destinasi lain.
Salah satu perubahan yang terlihat dalam cara orang traveling adalah meningkatnya minat terhadap pengalaman.
Bukan hanya datang ke suatu tempat, berfoto, lalu pindah ke destinasi berikutnya. Wisatawan mulai tertarik mencoba aktivitas lokal, mencicipi makanan khas, mengenal budaya, mengikuti kegiatan masyarakat, atau menikmati suasana yang memang tidak bisa didapatkan di tempat lain.
Misalnya, berkunjung ke sebuah desa wisata bukan hanya untuk mendapatkan foto dengan latar sawah.
Wisatawan mungkin justru lebih mengingat pengalaman membuat kerajinan bersama warga, belajar memasak makanan lokal, mengikuti tradisi setempat, atau sekadar berbincang dengan masyarakat.
Foto bisa menjadi dokumentasi. Pengalamanlah yang menjadi ceritanya.
Menariknya, kejenuhan terhadap destinasi yang terlalu populer juga membuat sebagian wisatawan mulai melirik tempat yang belum terlalu ramai.
Tempat seperti ini menawarkan sesuatu yang berbeda: suasana yang lebih tenang, interaksi lokal yang lebih terasa, dan pengalaman yang tidak terlalu “diatur” untuk kebutuhan kamera.
Bukan berarti destinasi viral sudah tidak menarik.
Justru, wisatawan sekarang punya pertimbangan tambahan: apakah tempat tersebut menawarkan pengalaman yang sepadan dengan waktu, biaya, dan keramaian yang harus dihadapi?
Menjadi Instagramable sebenarnya bukan masalah. Visual yang menarik tetap menjadi salah satu faktor yang membuat orang tertarik menemukan sebuah destinasi.
Masalahnya muncul ketika sebuah tempat hanya mengandalkan tampilan.
Wisatawan bisa mendapatkan foto bagus dalam beberapa menit. Tetapi kalau tidak ada aktivitas, cerita, suasana, atau interaksi yang membuat mereka ingin tinggal lebih lama, pengalaman tersebut bisa cepat terlupakan.
Karena itu, destinasi yang punya kombinasi antara visual dan pengalaman punya peluang lebih besar untuk tetap menarik.
Pemandangannya bagus, tetapi ada cerita di baliknya.
Makanannya menarik, tetapi ada budaya yang bisa dipelajari.
Tempatnya cantik, tetapi ada aktivitas yang membuat wisatawan ikut terlibat.
Pada akhirnya, traveling memang tidak selalu tentang seberapa banyak foto yang berhasil diambil.
Ada perjalanan yang justru paling diingat karena hujan tiba-tiba turun, ngobrol dengan warga lokal, tersesat di jalan kecil, mencoba makanan yang sebelumnya tidak dikenal, atau mengikuti aktivitas yang awalnya tidak ada di itinerary.
Hal-hal seperti itu mungkin tidak selalu terlihat sempurna di Instagram.
Tapi justru di situlah pengalaman traveling terasa lebih personal.
Jadi, kalau wisatawan mulai bosan dengan tempat yang terlalu “Instagramable”, mungkin bukan karena mereka sudah tidak peduli dengan visual.
Mereka hanya mulai mencari sesuatu yang lebih sulit digantikan oleh sebuah foto: pengalaman yang benar-benar terasa.
Comments