Whatsapp

+6281-1227-7954

klien7summitstravel@gmail.com

Blog Image

26

Sep

Kenapa Pastry Prancis Punya Tempat Istimewa dalam Budaya Kuliner Paris?

Berjalan-jalan di Paris rasanya belum lengkap tanpa mampir ke boulangerie atau pâtisserie. Dari aroma croissant yang baru keluar dari oven sampai deretan macarons dengan warna cantik di balik etalase, pastry bukan sekadar makanan manis di kota ini. Ada kebiasaan, sejarah, keterampilan, dan gaya hidup yang ikut melekat di dalamnya.

Tidak heran jika pastry Prancis, khususnya di Paris, punya tempat yang begitu kuat dalam budaya kuliner setempat. Bahkan bagi wisatawan, mencicipi croissant sambil menikmati kopi di pagi hari bisa menjadi bagian dari pengalaman mengenal Paris itu sendiri.

Bukan Sekadar Makanan, tapi Bagian dari Rutinitas

Salah satu hal yang membuat pastry terasa istimewa di Paris adalah kedekatannya dengan kehidupan sehari-hari. Boulangerie dan pâtisserie dapat ditemukan di berbagai sudut kota dan menjadi bagian dari aktivitas warga maupun wisatawan.

Croissant, pain au chocolat, baguette, hingga berbagai kue klasik bisa menjadi pilihan untuk sarapan, camilan, atau teman minum kopi. Paris je t’aime sendiri menempatkan croissant, macaron, baguette, dan sejumlah makanan lainnya sebagai bagian dari kuliner khas Paris.

Artinya, pastry tidak selalu hadir sebagai makanan yang hanya dinikmati pada acara khusus. Justru kesederhanaan menikmati viennoiserie di pagi hari menjadi salah satu gambaran kecil kehidupan Paris yang banyak dicari wisatawan.

Ada Sejarah Panjang di Balik Croissant

Croissant mungkin menjadi pastry yang paling mudah diasosiasikan dengan Paris. Namun, perjalanan makanan ini ternyata tidak sesederhana yang terlihat.

Menurut Paris je t’aime, croissant memiliki kaitan dengan tradisi bakery Austria yang berkembang di Paris pada abad ke-19. Seiring waktu, bentuk dan teknik pembuatannya berkembang hingga menghasilkan croissant berlapis yang renyah di luar dan memiliki rasa buttery yang khas.

Perkembangan tersebut menunjukkan bagaimana kuliner Paris terbentuk dari pertemuan berbagai pengaruh. Tradisi yang datang dari luar kemudian beradaptasi dengan teknik dan selera lokal hingga akhirnya menjadi bagian dari identitas kuliner Paris.

Teknik Membuat Pastry Dianggap sebagai Sebuah Keahlian

Di balik tampilan pastry yang terlihat sederhana, proses pembuatannya membutuhkan ketelitian. Croissant, misalnya, mengandalkan teknik pelipatan adonan dan penggunaan butter untuk menghasilkan lapisan yang ringan dan renyah.

Hal serupa juga terlihat pada pâtisserie klasik seperti mille-feuille, Paris-Brest, macaron, dan opéra. Paris je t’aime mencatat berbagai jenis pâtisserie tersebut sebagai bagian dari kekayaan kuliner manis yang bisa ditemukan di ibu kota Prancis.

Karena itu, pastry di Paris juga berkaitan dengan konsep savoir-faire, yaitu keterampilan yang diwariskan dan terus dikembangkan oleh para artisan. Tradisi tersebut tidak berhenti pada resep lama. Para pâtissier generasi baru juga terus bereksperimen dengan bentuk, rasa, dan teknik baru.

Tradisi Tetap Jalan, Inovasi Juga Ikut Berkembang

Menariknya, popularitas pastry Prancis tidak membuatnya berhenti berkembang. Paris justru menjadi tempat bertemunya pastry klasik dengan berbagai eksperimen baru.

Dalam beberapa tahun terakhir, kreasi seperti croissant dengan isian, croissant burger, hingga crookie—gabungan croissant dan cookie—menunjukkan bagaimana pastry klasik bisa dibuat lebih modern. Paris je t’aime bahkan mencatat fenomena crookie yang sempat menarik perhatian besar di media sosial.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa budaya pastry Paris tidak hanya bergantung pada nostalgia. Tradisi tetap dipertahankan, tetapi bentuk dan penyajiannya bisa berubah mengikuti perkembangan selera dan tren.

Pâtisserie Juga Berkaitan dengan Budaya “Menikmati”

Ada alasan lain mengapa makanan memiliki posisi penting dalam budaya Prancis. UNESCO mencatat bahwa gastronomic meal of the French atau tradisi makan gastronomi Prancis masuk dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity sejak 2010.

Tradisi tersebut menekankan pentingnya memilih makanan, menikmati rasa, memperhatikan penyajian, serta berbagi waktu bersama orang lain.

Dalam konteks Paris, prinsip tersebut dapat terlihat dalam cara orang menikmati makanan. Secangkir kopi dan sebuah pastry mungkin terlihat sederhana, tetapi pengalaman makan tidak hanya tentang menghabiskan makanan dengan cepat. Ada waktu untuk duduk, menikmati suasana, dan mengapresiasi apa yang disajikan.

Paris dan Pastry, Kombinasi yang Sulit Dipisahkan

Pastry akhirnya menjadi salah satu cara paling sederhana untuk mengenal karakter Paris. Wisatawan tidak harus selalu mencari restoran mewah untuk merasakan budaya kuliner kota ini. Masuk ke sebuah boulangerie, memilih croissant atau pain au chocolat, kemudian menikmatinya sambil berjalan atau duduk di kafe sudah bisa menjadi bagian dari pengalaman perjalanan.

Di sisi lain, perkembangan pâtisserie modern menunjukkan bahwa Paris tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga memberi ruang bagi kreativitas. Dari resep klasik hingga kreasi yang viral di media sosial, pastry terus menjadi bagian dari kehidupan kuliner kota.

Jadi, alasan pastry Prancis punya tempat istimewa dalam budaya kuliner Paris bukan hanya karena rasanya. Di balik satu croissant atau sepotong kue terdapat sejarah, keterampilan artisan, kebiasaan sehari-hari, dan cara masyarakat menghargai makanan. Itulah yang membuat pengalaman mencicipi pastry di Paris terasa lebih dari sekadar wisata kuliner.


Ayo temuin paket paket-paket tour murah di 7summitstravel.com atau kamu bisa custom serta konsultasi gratis terkait tour kamu lewat whatsapp kami di nomor 0811-2277-954

Share This News

Comments

Newsletter

Put your email below to subscribe our latest PROMO & NEWS