Newsletter
Put your email below to subscribe our latest PROMO & NEWS
+6281-1227-7954
klien7summitstravel@gmail.com
Melihatnya dari bawah, peti mati tampak menempel di dinding tebing, berada beberapa meter di atas tanah.
Tapi kenapa masyarakat setempat memilih tempat yang sulit dijangkau seperti itu untuk menyimpan jenazah?
Hanging Coffins merupakan praktik pemakaman tradisional yang dikenal di Sagada, wilayah pegunungan di utara Filipina.
Alih-alih menguburkan peti mati di dalam tanah, sebagian masyarakat pada masa lalu menempatkannya di tebing atau celah batu.
Peti mati dapat dipasang pada sisi tebing menggunakan pasak atau struktur pendukung lainnya.
Tradisi ini telah menjadi salah satu ciri budaya Sagada dan kini juga menarik perhatian wisatawan yang datang ke kawasan tersebut.
Tidak ada satu penjelasan tunggal yang dapat menjelaskan seluruh praktik ini.
Namun, tradisi pemakaman di Sagada berkaitan dengan kepercayaan masyarakat mengenai kematian dan hubungan seseorang dengan dunia leluhur.
Salah satu pemahaman yang sering dikaitkan dengan praktik tersebut adalah bahwa posisi jenazah yang tinggi dianggap membantu mendekatkannya kepada dunia spiritual.
Ketinggian juga memiliki makna simbolis dalam tradisi masyarakat setempat.
Jadi, tebing bukan sekadar tempat yang sulit dijangkau.
Ada makna budaya dan spiritual di balik pemilihannya.
Dalam kepercayaan tradisional masyarakat Igorot di kawasan Cordillera, hubungan antara orang yang telah meninggal dengan keluarga dan komunitas tidak selalu dianggap berakhir setelah kematian.
Pemakaman menjadi bagian dari proses transisi menuju dunia leluhur.
Karena itu, posisi jenazah memiliki makna tersendiri.
Menempatkan peti mati di tempat yang tinggi dapat dipahami sebagai bagian dari simbolisme tersebut, meskipun interpretasi dan praktik dapat berbeda antar-komunitas.
Ada pula alasan praktis yang sering disebut dalam pembahasan mengenai tradisi ini.
Sagada merupakan kawasan pegunungan dengan banyak formasi batu kapur. Kondisi geografis tersebut membuat pemakaman di tanah tidak selalu menjadi pilihan yang mudah.
Namun, faktor geografis saja tidak cukup menjelaskan tradisi Hanging Coffins.
Praktik pemakaman merupakan hasil perpaduan antara lingkungan, adat, dan kepercayaan masyarakat.
Dengan kata lain, tebing dipilih bukan hanya karena tersedia, tetapi karena tempat tersebut juga memiliki arti dalam budaya setempat.
Peti mati tradisional yang digunakan dalam praktik ini memiliki bentuk yang berbeda dari peti mati modern yang umum digunakan saat ini.
Sebagian dibuat dari batang kayu dan ukurannya relatif kecil.
Hal ini berkaitan dengan cara masyarakat mempersiapkan jenazah serta proses pemakamannya.
Peti kemudian dibawa menuju lokasi yang telah dipilih.
Mengingat lokasinya berada di tebing, proses pemasangan tentu membutuhkan keterampilan dan kehati-hatian.
Ini mungkin bagian yang paling bikin penasaran.
Bayangkan harus membawa sebuah peti mati menuju sisi tebing yang curam tanpa menggunakan alat berat modern.
Dalam praktik tradisional, masyarakat menggunakan tenaga manusia dan teknik lokal untuk membawa serta memasang peti.
Peti dapat ditempatkan pada ceruk atau dipasang menggunakan pasak kayu yang ditanam ke batu.
Karena kondisi setiap lokasi berbeda, metode penempatannya juga tidak selalu sama.
Tidak.
Hanging Coffins merupakan salah satu bentuk praktik pemakaman tradisional, bukan satu-satunya metode pemakaman masyarakat Sagada.
Seiring masuknya agama Kristen dan perubahan sosial, praktik pemakaman masyarakat setempat juga mengalami perubahan.
Pemakaman modern kini lebih umum dilakukan.
Karena itu, Hanging Coffins lebih tepat dipahami sebagai warisan budaya yang memiliki sejarah panjang, bukan gambaran mengenai seluruh praktik pemakaman masyarakat Sagada saat ini.
Tradisi pemakaman gantung di Sagada telah berlangsung selama beberapa generasi.
Namun, menentukan tanggal pasti kapan praktik tersebut pertama kali dimulai tidak mudah karena banyak pengetahuan mengenai tradisi diwariskan secara lisan.
Yang jelas, praktik tersebut telah menjadi bagian dari sejarah budaya masyarakat di kawasan Cordillera jauh sebelum Sagada berkembang sebagai destinasi wisata seperti sekarang.
Menariknya, Sagada tidak hanya memiliki Hanging Coffins.
Di kawasan Echo Valley dan sekitarnya terdapat kompleks gua serta lokasi pemakaman tradisional yang berkaitan dengan praktik masyarakat setempat.
Salah satu yang terkenal adalah Sumaguing Cave, meskipun gua ini lebih dikenal sebagai destinasi wisata alam daripada lokasi utama Hanging Coffins.
Keberadaan gua dan tebing batu kapur membuat lanskap Sagada memang sangat erat dengan praktik pemakaman tradisionalnya.
Hanging Coffins menjadi salah satu ikon wisata budaya Sagada karena bentuknya sangat berbeda dari pemakaman yang biasa dilihat wisatawan.
Namun, popularitasnya juga menghadirkan tantangan.
Peti mati tersebut bukan sekadar objek wisata.
Di baliknya terdapat orang yang pernah hidup, keluarga yang kehilangan anggota, dan tradisi yang masih memiliki nilai bagi komunitas lokal.
Karena itu, wisatawan perlu memperlakukannya sebagai situs budaya dan pemakaman, bukan sekadar spot foto ekstrem.
Di kawasan wisata, wisatawan memang dapat melihat Hanging Coffins dari titik tertentu.
Tetapi aturan mengenai akses dan fotografi dapat berbeda berdasarkan lokasi dan ketentuan masyarakat setempat.
Hal yang paling penting adalah tidak menyentuh, memindahkan, atau mencoba mendekati peti mati tanpa izin.
Jika ada pemandu atau aturan lokal, ikuti arahan mereka.
Menghormati tempat pemakaman jauh lebih penting daripada mendapatkan foto yang dramatis.
Hanging Coffins mungkin terlihat aneh jika dilihat dari sudut pandang kebiasaan pemakaman modern.
Namun, justru di situlah menariknya.
Setiap masyarakat memiliki cara sendiri dalam memahami kematian.
Bagi sebagian masyarakat Sagada pada masa lalu, tebing bukan sekadar batu tinggi.
Ia menjadi bagian dari ruang spiritual dan tempat untuk menempatkan orang yang telah meninggal dalam perjalanan menuju dunia leluhur.
Peti mati yang tergantung di tebing akhirnya bukan cuma tentang bagaimana jenazah dimakamkan, tetapi tentang bagaimana sebuah masyarakat memandang kehidupan, kematian, dan hubungan dengan leluhur.
Dan mungkin itu alasan mengapa Hanging Coffins tetap menarik untuk dipelajari hingga sekarang.
Bukan karena terlihat menyeramkan, tetapi karena di baliknya terdapat cara pandang tentang kematian yang lahir dari budaya dan lingkungan Sagada sendiri.
Ayo temuin paket paket-paket tour murah di 7summitstravel.com atau kamu bisa custom serta konsultasi gratis terkait tour kamu lewat whatsapp kami di nomor 0811-2277-954
Comments