Whatsapp

+6281-1227-7954

klien7summitstravel@gmail.com

Blog Image

23

Aug

Kalimantan Terbakar Lagi: Kenapa Karhutla Terus Berulang?

Data terbaru menunjukkan persoalannya bukan hanya tentang api yang terlihat dari permukaan. Kondisi cuaca, lahan gambut, aktivitas manusia, hingga kesiapan penanganan semuanya ikut menentukan seberapa cepat kebakaran berkembang.

Karhutla Terjadi di Sejumlah Wilayah Kalimantan

Kebakaran tidak hanya terjadi di satu provinsi.

Operasi pengendalian karhutla di Kalimantan telah memasuki hari ke-48 dan melibatkan 12.880 personel gabungan. Kementerian Kehutanan juga mengerahkan ratusan personel Manggala Agni di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Luas karhutla yang tercatat dalam operasi tersebut mencapai sekitar 57.088 hektare.

Kalimantan Barat menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian serius. BPBD Kalbar mencatat luas area terbakar mencapai 38.310,86 hektare sepanjang Januari hingga Agustus 2026.

Sementara itu, di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, BPBD mencatat 298 kejadian kebakaran lahan pada periode 1 Juni hingga 19 Agustus 2026 dengan luas sekitar 261,41 hektare.

Kenapa Kalimantan Rentan Terjadi Karhutla?

Salah satu faktor penting adalah kondisi cuaca dan musim kemarau.

Ketika curah hujan berkurang, vegetasi dan permukaan tanah menjadi lebih kering sehingga api lebih mudah muncul dan menyebar. BNPB juga menjelaskan bahwa karhutla merupakan hasil interaksi beberapa faktor, terutama kondisi cuaca dan iklim, kondisi lahan, serta aktivitas manusia.

Lahan gambut menjadi perhatian khusus.

Ketika gambut dalam kondisi kering, api dapat menyebar bukan hanya di permukaan, tetapi juga membakar material organik di bawah tanah. Kondisi seperti ini membuat proses pemadaman menjadi jauh lebih sulit.

Aktivitas Manusia Juga Menjadi Faktor

Karhutla tidak selalu muncul karena faktor alam.

Aktivitas manusia juga dapat menjadi pemicu, terutama ketika api digunakan di kawasan yang kondisi lahannya kering dan mudah terbakar.

Karena itu, pencegahan tidak cukup hanya dilakukan ketika kebakaran sudah terjadi.

Patroli, deteksi dini, edukasi masyarakat, pengawasan kawasan rawan, serta penegakan aturan menjadi bagian penting dari upaya mencegah api berkembang menjadi kebakaran besar.

Dampaknya Bukan Cuma Hutan yang Terbakar

Ketika kebakaran terjadi dalam skala besar, dampaknya bisa merambat ke berbagai sektor.

Salah satunya adalah kualitas udara.

Asap dari kebakaran dapat mengganggu aktivitas masyarakat dan berpotensi menyebabkan persoalan kesehatan. Selain itu, jarak pandang dapat menurun sehingga transportasi juga ikut terdampak.

Di Kalimantan Barat, pemerintah daerah bahkan memperkuat patroli dan deteksi dini karena peningkatan titik panas di sejumlah wilayah, terutama Kabupaten Ketapang.

Artinya, karhutla bukan sekadar persoalan lingkungan.

Ini juga bisa menjadi persoalan sosial, kesehatan, ekonomi, hingga transportasi.

Satwa Liar Juga Terancam

Salah satu dampak yang sering tidak terlihat adalah ancaman terhadap satwa liar.

Ketika habitat terbakar, satwa kehilangan tempat berlindung dan sumber makanan. Sebagian bahkan terpaksa keluar dari habitatnya dan masuk ke kawasan yang berdekatan dengan permukiman atau perkebunan.

Contohnya terjadi di Ketapang, Kalimantan Barat.

Pada Agustus 2026, BKSDA Kalbar bersama sejumlah pihak mengevakuasi seekor orangutan jantan dari kawasan perkebunan warga karena terancam karhutla. Evakuasi dilakukan sekaligus untuk mencegah konflik antara manusia dan satwa.

Satu ekor orangutan yang ditemukan mungkin terlihat seperti kasus kecil.

Namun, di baliknya ada pertanyaan yang jauh lebih besar:

Berapa banyak satwa lain yang kehilangan habitat ketika hutan terbakar?

Pemerintah Memperkuat Penanganan

Berbagai daerah mengambil langkah khusus menghadapi ancaman karhutla.

Di Palangka Raya, misalnya, pemerintah memperpanjang status tanggap darurat karhutla dan kekeringan hingga 8 September 2026. Status tersebut digunakan untuk memperkuat koordinasi, mobilisasi personel, peralatan, dan penanganan di lapangan.

Di Kalimantan Selatan, kawasan Tahura Sultan Adam juga sempat ditutup sementara untuk mempercepat pembangunan akses bagi tim pengendalian karhutla. Tujuannya agar personel dan kendaraan pemadam dapat mencapai titik rawan dengan lebih cepat.

Karhutla Kalimantan Bukan Masalah Baru

Kebakaran hutan dan lahan sebenarnya bukan fenomena baru di Kalimantan.

Data historis menunjukkan luas kebakaran di berbagai provinsi Kalimantan mengalami naik-turun dari tahun ke tahun. Beberapa tahun bahkan mencatat lonjakan yang sangat besar, seperti 2019 dan 2023.

Karena itu, tantangannya bukan hanya bagaimana memadamkan api hari ini.

Tetapi bagaimana membuat kebakaran serupa tidak terus berulang setiap musim kering.

Kenapa Pencegahan Lebih Penting daripada Pemadaman?

Memadamkan api setelah kebakaran meluas membutuhkan personel, kendaraan, air, teknologi, dan waktu yang tidak sedikit.

Sementara itu, mencegah satu titik api berkembang menjadi kebakaran besar bisa jauh lebih efektif.

Deteksi dini menjadi sangat penting.

Begitu muncul indikasi kebakaran, petugas dan masyarakat dapat bergerak sebelum api menyebar ke area yang lebih luas.

Inilah alasan mengapa pemantauan titik panas, patroli lapangan, pengelolaan lahan gambut, dan keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dari strategi pengendalian karhutla.

Karhutla dan Masa Depan Pariwisata Kalimantan

Bagi sektor pariwisata, isu ini juga perlu mendapat perhatian.

Kalimantan memiliki kekayaan alam yang luar biasa: hutan hujan, sungai, lahan basah, kawasan konservasi, dan satwa endemik seperti orangutan.

Semua itu merupakan aset pariwisata berbasis alam.

Jika habitat rusak akibat kebakaran berulang, yang hilang bukan hanya pepohonan.

Potensi wisata alam, pengalaman wisatawan, kehidupan satwa, dan sumber penghidupan masyarakat sekitar juga ikut terancam.

Karena itu, menjaga hutan bukan hanya urusan lingkungan.

Bagi Kalimantan, menjaga hutan juga berarti menjaga masa depan pariwisatanya.

Penutup

Karhutla di Kalimantan pada 2026 kembali menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan merupakan persoalan yang kompleks.

Cuaca kering dapat meningkatkan risiko, kondisi gambut membuat kebakaran lebih sulit dikendalikan, sementara aktivitas manusia dapat menjadi pemicu.

Dampaknya pun jauh lebih luas daripada sekadar area yang terbakar.

Ada kualitas udara, kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, satwa liar, hingga masa depan kawasan wisata alam.

Karena itu, ketika melihat berita tentang kebakaran hutan di Kalimantan, persoalannya bukan hanya berapa hektare yang terbakar.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Apa yang harus dilakukan agar hutan yang tersisa tidak ikut menjadi angka berikutnya?

Ayo temuin paket paket-paket tour murah di 7summitstravel.com atau kamu bisa custom serta konsultasi gratis terkait tour kamu lewat whatsapp kami di nomor 0811-2277-954

Share This News

Comments

Newsletter

Put your email below to subscribe our latest PROMO & NEWS