Newsletter
Put your email below to subscribe our latest PROMO & NEWS
+6281-1227-7954
klien7summitstravel@gmail.com
Kesalahan yang cukup sering dilakukan traveler adalah membuat daftar destinasi terlebih dahulu.
Misalnya, dalam satu hari ingin mengunjungi lima tempat yang semuanya terlihat menarik. Setelah itu baru mencoba mencari tahu bagaimana cara berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.
Hasilnya bisa berantakan.
Destinasi pertama berada di utara kota, destinasi kedua di selatan, lalu kembali lagi ke pusat kota sebelum menuju kawasan lain.
Secara jumlah memang terlihat produktif. Tetapi sebagian besar waktu justru habis di perjalanan.
Cara yang lebih efisien adalah mengelompokkan destinasi berdasarkan lokasi.
Kalau beberapa tempat berada dalam satu kawasan, kunjungi secara berurutan. Setelah selesai di satu area, baru berpindah ke area berikutnya.
Strategi sederhana ini bisa memangkas waktu perjalanan tanpa harus mengurangi pengalaman.
Konsep ini dikenal sederhana sebagai geographical clustering.
Misalnya sedang membuat itinerary city tour Bandung. Daripada memilih destinasi berdasarkan popularitas satu per satu, tempat-tempat yang berada di kawasan berdekatan bisa dikelompokkan dalam satu rangkaian.
Contohnya, aktivitas di kawasan Braga dan pusat kota dapat dilakukan dalam satu sesi. Sementara destinasi di kawasan Lembang sebaiknya dikelompokkan dalam hari atau waktu yang berbeda.
Dengan begitu, kendaraan tidak perlu berkali-kali berpindah dari satu ujung kota ke ujung lainnya.
Untuk traveler, manfaatnya bukan hanya menghemat bensin atau ongkos transportasi. Waktu yang tersimpan bisa digunakan untuk menikmati destinasi lebih lama.
Ironisnya, salah satu cara mendapatkan lebih banyak waktu liburan adalah dengan mengurangi jumlah tempat yang dikunjungi.
Itinerary dengan delapan destinasi belum tentu lebih baik daripada itinerary dengan empat destinasi.
Bayangkan setiap perpindahan membutuhkan rata-rata 30 menit. Jika ada tujuh kali perpindahan, sudah lebih dari tiga jam yang digunakan hanya untuk berpindah lokasi.
Belum termasuk parkir, mencari lokasi, antre tiket, toilet, makan, dan waktu untuk berfoto.
Karena itu, itinerary sebaiknya tidak diukur dari berapa banyak tempat yang berhasil dicentang.
Lebih penting melihat berapa banyak waktu berkualitas yang benar-benar bisa dihabiskan di setiap tempat.
Strategi berikutnya sering dianggap sepele: cek jam operasional destinasi sebelum menyusun urutan perjalanan.
Jangan sampai sebuah tempat baru buka pukul 10.00, tetapi sudah dimasukkan sebagai destinasi pertama pukul 08.00.
Waktu dua jam tersebut akhirnya terbuang atau traveler harus mengubah rencana secara spontan.
Sebaliknya, destinasi yang buka lebih pagi bisa ditempatkan sebagai aktivitas pertama. Tempat yang baru aktif pada siang atau sore hari dapat dimasukkan setelahnya.
Dengan menyesuaikan itinerary terhadap jam operasional, perjalanan terasa lebih mengalir.
Tidak semua waktu di kendaraan harus dianggap sebagai waktu yang hilang.
Dalam perjalanan panjang, waktu tersebut bisa dimanfaatkan untuk istirahat, makan ringan, briefing, atau aktivitas ringan lainnya.
Untuk corporate trip atau gathering, perjalanan bahkan bisa digunakan untuk ice breaking, games ringan, pengumuman agenda, atau persiapan aktivitas berikutnya.
Namun, tetap perlu memperhatikan kondisi peserta. Jangan sampai setiap menit diisi kegiatan hanya karena ingin terlihat produktif.
Kadang, waktu tenang di kendaraan justru dibutuhkan agar peserta punya energi ketika tiba di destinasi.
Rute yang sama bisa membutuhkan waktu yang sangat berbeda tergantung jam keberangkatan.
Ini sangat relevan untuk destinasi urban seperti Bandung, Jakarta, atau kota wisata yang mengalami lonjakan kendaraan pada akhir pekan.
Jika memungkinkan, aktivitas utama bisa dimulai lebih pagi atau perjalanan menuju destinasi dilakukan sebelum periode lalu lintas paling padat.
Bagi wisatawan, keuntungan datang lebih pagi bukan hanya menghindari macet. Destinasi juga biasanya belum terlalu ramai.
Jadi satu keputusan bisa memberikan dua manfaat sekaligus: menghemat waktu perjalanan dan meningkatkan kualitas pengalaman.
Itinerary yang terlalu presisi juga sebenarnya berbahaya.
Misalnya, setiap aktivitas dibuat hanya memiliki waktu 30 menit dan perpindahan berikutnya sudah dijadwalkan tepat setelahnya.
Masalahnya, perjalanan nyata tidak selalu berjalan sesuai spreadsheet.
Antrean bisa lebih panjang. Hujan bisa turun. Kendaraan terlambat. Peserta belum siap berkumpul.
Karena itu, itinerary yang baik membutuhkan buffer time.
Buffer bukan waktu yang sia-sia. Justru buffer membuat itinerary lebih tahan terhadap perubahan.
Daripada terlambat dua jam karena satu aktivitas mundur 30 menit, lebih baik menyediakan ruang sejak awal untuk mengantisipasi kondisi tersebut.
Strategi efisiensi juga harus menyesuaikan siapa yang ikut perjalanan.
Family trip dengan anak-anak tentu memiliki ritme berbeda dengan perjalanan kelompok dewasa.
Memaksakan terlalu banyak destinasi justru bisa membuat semua orang lelah. Akhirnya waktu di destinasi digunakan untuk istirahat, bukan menikmati aktivitas.
Untuk keluarga, kombinasi antara aktivitas, makan, istirahat, dan perjalanan perlu dibuat lebih seimbang.
Artinya, efisien bukan berarti bergerak secepat mungkin.
Efisien berarti menggunakan waktu sesuai kebutuhan peserta.
Dalam corporate trip, persoalannya menjadi lebih kompleks karena jumlah peserta lebih banyak.
Lima belas menit keterlambatan satu orang mungkin tidak terasa. Tetapi jika terjadi pada 50 atau 100 peserta, efeknya bisa sangat besar.
Karena itu, grouping, meeting point yang jelas, waktu kumpul, koordinasi kendaraan, hingga briefing sebelum perjalanan menjadi bagian dari strategi menghemat waktu.
Bagi perusahaan, efisiensi seperti ini juga berpengaruh terhadap pengalaman peserta.
Semakin sedikit waktu terbuang untuk hal-hal teknis, semakin banyak waktu yang bisa digunakan untuk team bonding, networking, dan menikmati destination experience.
Membuat liburan terasa lebih panjang ternyata tidak selalu membutuhkan tambahan satu atau dua hari.
Kadang, yang dibutuhkan hanyalah menghilangkan waktu yang tidak perlu terbuang.
Mulai dari mengelompokkan destinasi berdasarkan lokasi, menyesuaikan jam operasional, menghindari jam sibuk, mengurangi perpindahan yang tidak perlu, hingga menyediakan buffer time.
Karena itinerary yang baik bukan tentang seberapa banyak tempat yang bisa dimasukkan dalam satu hari.
Itinerary yang baik adalah ketika traveler pulang dengan perasaan, “Ternyata masih banyak waktu buat menikmati semuanya.”
Ayo temuin paket paket-paket tour murah di 7summitstravel.com atau kamu bisa custom serta konsultasi gratis terkait tour kamu lewat whatsapp kami di nomor 0811-2277-954
Comments