Newsletter
Put your email below to subscribe our latest PROMO & NEWS
+6281-1227-7954
klien7summitstravel@gmail.com
Pernah sedang menikmati penerbangan, lalu tiba-tiba pesawat terasa seperti melewati jalan yang berlubang? Pesawat berguncang, tubuh ikut terdorong, dan tidak jarang penumpang langsung melihat sekeliling dengan wajah panik.
Kondisi tersebut disebut turbulensi. Bagi penumpang, turbulensi mungkin terasa menegangkan. Namun sebenarnya, turbulensi merupakan bagian yang cukup umum dalam penerbangan dan dapat terjadi karena berbagai kondisi atmosfer.
Turbulensi sendiri merupakan kondisi ketika aliran udara yang dilewati pesawat tidak lagi bergerak secara mulus dan teratur. Perubahan aliran udara tersebut membuat pesawat mengalami perubahan gerakan atau percepatan yang kemudian terasa sebagai guncangan bagi penumpang.
Lalu, apa sebenarnya yang menyebabkan turbulensi?
Udara memang tidak selalu bergerak dengan kondisi yang sama. Ada perubahan tekanan, kecepatan angin, suhu, hingga kondisi cuaca yang dapat membuat aliran udara menjadi tidak stabil.
Menurut Federal Aviation Administration atau FAA, turbulensi dapat dipengaruhi oleh beberapa kondisi seperti jet stream, pegunungan, front udara dingin atau hangat, serta badai petir. Bahkan, turbulensi bisa terjadi ketika langit terlihat cerah tanpa awan besar di sekitar pesawat.
Ketika pesawat melewati area dengan perbedaan aliran udara tersebut, perubahan gerakan udara bisa membuat pesawat terasa naik, turun, atau berguncang.
Jadi, turbulensi bukan berarti pesawat tiba-tiba “kehilangan kendali”. Pesawat sedang melewati kondisi udara yang berbeda dari sebelumnya.
Banyak orang mengira turbulensi hanya terjadi ketika pesawat melewati awan tebal atau cuaca buruk.
Padahal, ada jenis turbulensi yang bisa terjadi bahkan ketika langit terlihat bersih. Kondisi ini dikenal sebagai clear-air turbulence atau CAT.
Clear-air turbulence lebih sulit dikenali secara visual karena tidak selalu berkaitan dengan awan yang bisa dilihat dari jendela pesawat. Perubahan aliran udara di sekitar jet stream menjadi salah satu kondisi yang dapat memicunya.
Inilah salah satu alasan mengapa pesawat terkadang tiba-tiba berguncang meskipun dari luar terlihat seperti sedang terbang dalam cuaca yang cerah. FAA juga mencatat bahwa turbulensi dapat terjadi tanpa tanda visual yang jelas.
Pegunungan juga dapat memengaruhi pergerakan udara.
Ketika angin melewati area pegunungan, aliran udara dapat berubah dan menghasilkan gelombang atmosfer yang dikenal sebagai mountain wave turbulence.
Kondisi seperti ini menjadi salah satu hal yang diperhatikan dalam perencanaan penerbangan, terutama ketika rute melewati wilayah dengan pegunungan.
Selain turbulensi akibat kondisi atmosfer, ada pula wake turbulence, yaitu gangguan udara yang terbentuk di belakang pesawat akibat gaya angkat yang dihasilkan sayap.
FAA menjelaskan bahwa setiap pesawat yang menghasilkan lift akan menciptakan pusaran udara di belakangnya. Karena itu, pesawat yang terbang di belakang pesawat lain dapat mengalami efek dari pusaran tersebut, terutama jika mengikuti pesawat yang lebih besar.
Turbulensi yang terasa di kabin tidak otomatis berarti pesawat berada dalam kondisi berbahaya.
Pesawat dirancang untuk menghadapi berbagai kondisi penerbangan dan struktur pesawat telah diperhitungkan untuk menghadapi beban yang terjadi selama operasi.
Namun, bukan berarti turbulensi sama sekali tidak memiliki risiko. Risiko terbesar bagi penumpang justru bisa terjadi ketika seseorang tidak menggunakan sabuk pengaman.
FAA menyebut turbulensi sebagai penyebab utama kecelakaan pada kategori penerbangan tertentu dan menjelaskan bahwa penumpang yang tidak mengenakan sabuk pengaman dapat terlempar dari kursi ketika terjadi guncangan mendadak.
IATA juga menjelaskan bahwa pesawat sendiri mampu menghadapi banyak gaya akibat turbulensi, tetapi orang di dalam kabin tetap dapat mengalami cedera jika tidak mengenakan sabuk pengaman.
Pilot dan maskapai tidak hanya mengandalkan kondisi yang terlihat dari jendela pesawat.
Informasi cuaca, laporan dari pesawat lain, radar cuaca, serta berbagai sistem pemantauan digunakan untuk membantu kru penerbangan mengidentifikasi area yang berpotensi mengalami turbulensi.
FAA juga mengembangkan sistem turbulence nowcast yang memberikan pembaruan prakiraan turbulensi secara berkala untuk membantu pilot dan flight dispatcher mengambil keputusan operasional.
IATA juga memiliki Turbulence Aware, sebuah platform yang menggunakan data turbulensi dari pesawat untuk membantu memberikan informasi yang lebih akurat secara real-time kepada pilot dan dispatcher.
Meski begitu, tidak semua turbulensi bisa diprediksi dengan sempurna. Clear-air turbulence khususnya lebih sulit dideteksi dibandingkan turbulensi yang berkaitan dengan cuaca yang terlihat.
Salah satu sensasi yang paling membuat penumpang panik adalah ketika pesawat terasa seperti tiba-tiba turun.
Sensasi tersebut bisa muncul ketika pesawat mengalami perubahan gerakan atau percepatan saat melewati aliran udara yang tidak stabil. Tubuh manusia sangat sensitif terhadap perubahan gerakan, sehingga guncangan yang sebenarnya berlangsung singkat dapat terasa cukup dramatis.
Perasaan “jatuh” juga tidak selalu berarti pesawat benar-benar jatuh dalam arti kehilangan kemampuan terbang.
Pesawat tetap dikendalikan oleh pilot dan sistem penerbangannya, sementara kru dapat mengambil langkah yang sesuai dengan kondisi turbulensi yang dihadapi.
Hal paling sederhana justru merupakan salah satu yang paling penting: gunakan sabuk pengaman.
FAA merekomendasikan penumpang untuk tetap mengenakan sabuk pengaman ketika duduk, bahkan ketika tanda sabuk pengaman sedang tidak menyala. Hal ini penting karena turbulensi dapat muncul secara tiba-tiba.
Selain itu, ikuti instruksi pilot dan awak kabin. Jika diminta kembali ke kursi atau mengencangkan sabuk pengaman, sebaiknya segera dilakukan.
Penumpang juga sebaiknya tidak panik ketika pesawat mulai berguncang. Ingat bahwa turbulensi merupakan kondisi yang memang dapat terjadi dalam penerbangan.
Guncangan selama penerbangan memang bisa membuat tidak nyaman, terutama bagi penumpang yang takut terbang.
Namun, memahami penyebabnya bisa membantu mengurangi rasa panik. Turbulensi terjadi karena adanya perubahan aliran udara dan dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, mulai dari jet stream dan badai hingga pegunungan atau perubahan atmosfer yang tidak terlihat.
Yang paling penting bagi traveler bukan menghindari turbulensi sepenuhnya—karena tidak semuanya bisa diprediksi atau dihindari—tetapi mengikuti prosedur keselamatan dan tetap menggunakan sabuk pengaman.
Jadi, ketika pesawat tiba-tiba berguncang pada penerbangan berikutnya, tidak perlu langsung berpikir bahwa ada sesuatu yang salah. Bisa jadi pesawat hanya sedang melewati bagian atmosfer dengan aliran udara yang lebih tidak stabil.
Comments