Newsletter
Put your email below to subscribe our latest PROMO & NEWS
+6281-1227-7954
klien7summitstravel@gmail.com
Tama adalah kucing calico atau kucing belang tiga yang tinggal di sekitar Kishi Station. Sebelum mendapatkan jabatan resmi, Tama merupakan kucing yang biasa berada di dekat toko di samping stasiun.
Pada saat itu, Kishigawa Line yang dioperasikan oleh Wakayama Electric Railway menghadapi masalah jumlah penumpang yang terus menurun. Jalur sepanjang sekitar 14 kilometer tersebut bahkan sempat berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan setelah operator sebelumnya memutuskan untuk menutupnya.
Situasi tersebut kemudian berubah ketika Tama diangkat sebagai stationmaster atau kepala stasiun pada 2007.
Tentu saja Tama tidak benar-benar menjalankan pekerjaan administratif seperti kepala stasiun pada umumnya.
Tugasnya jauh lebih sederhana: menyambut penumpang dan menjadi simbol bagi Kishi Station.
Tama biasanya berada di area loket atau pintu masuk stasiun dengan mengenakan topi kecil dan lencana kepala stasiun. Kehadirannya kemudian menarik perhatian media dan wisatawan.
Dalam waktu singkat, orang-orang mulai datang ke Kishi Station bukan hanya untuk naik kereta, tetapi juga untuk melihat Tama.
Popularitas Tama berkembang jauh melampaui perkiraan awal perusahaan kereta.
Setelah pengangkatannya, semakin banyak orang datang ke Kishi Station untuk melihat sang kepala stasiun berbulu. Keberadaan Tama kemudian menjadi bagian dari strategi promosi Kishigawa Line dan membantu memperkenalkan jalur tersebut kepada wisatawan.
Tama bahkan mendapatkan berbagai penghargaan dan kenaikan jabatan simbolis. Pada 2009, ia diangkat sebagai executive officer Wakayama Electric Railway, kemudian mendapat posisi senior executive officer pada 2011 dan assistant company president pada 2013.
Popularitas Tama akhirnya tidak hanya mengubah cara orang melihat stasiun, tetapi juga tampilan stasiunnya.
Pada 2010, Kishi Station direnovasi dengan desain yang terinspirasi dari Tama. Atap bangunannya dibuat menyerupai telinga kucing, sementara di dalamnya terdapat ruang kepala stasiun dan fasilitas bertema Tama.
Kehadiran Tama juga menginspirasi berbagai kereta bertema, termasuk Tama Densha, yang semakin memperkuat identitas jalur kereta tersebut.
Yang membuat kisah Tama menarik bukan hanya karena seekor kucing menjadi kepala stasiun.
Kisah ini menunjukkan bagaimana cerita sederhana dapat menjadi aset pariwisata. Sebuah jalur kereta lokal yang sebelumnya menghadapi penurunan penumpang memiliki identitas baru yang mudah diingat: kereta menuju stasiun yang memiliki kepala stasiun seekor kucing.
Ini menjadi contoh menarik bagaimana karakter lokal dapat digunakan untuk membangun daya tarik destinasi tanpa harus mengandalkan pembangunan atraksi besar.
Tama meninggal pada 22 Juni 2015 setelah mencapai usia sekitar 16 tahun. Kepergiannya mendapatkan perhatian besar dari masyarakat dan penggemarnya.
Setelah meninggal, Tama tidak begitu saja dilupakan. Sebuah kuil kecil bernama Tama Jinja didirikan di area Kishi Station untuk mengenangnya. Ia juga dihormati secara khusus sebagai sosok yang dianggap berjasa bagi jalur kereta dan kawasan setempat.
Warisan Tama kemudian diteruskan oleh kucing-kucing lain yang mengambil peran sebagai kepala stasiun.
Setelah Tama, Nitama menjadi penerusnya di Kishi Station. Tradisi tersebut kemudian terus berkembang dengan beberapa kucing lain yang menjalankan peran di stasiun-stasiun pada Kishigawa Line.
Saat ini, nama Tama masih menjadi bagian penting dari pengalaman wisata di Kishi Station. Pengunjung dapat melihat berbagai elemen bertema Tama sekaligus mengenal sejarah sang kucing yang pernah membuat sebuah stasiun kecil menjadi terkenal.
Kisah Tama menunjukkan bahwa daya tarik wisata tidak selalu harus berupa bangunan megah, wahana besar, atau destinasi alam spektakuler.
Tama memiliki cerita yang mudah diingat, visual yang ikonik, dan hubungan yang kuat dengan masyarakat lokal. Kombinasi tersebut membuatnya bukan sekadar maskot, tetapi bagian dari sejarah Kishigawa Line dan pariwisata Wakayama.
Bagi wisatawan, perjalanan menuju Kishi Station akhirnya bukan hanya tentang naik kereta. Ada cerita yang membuat perjalanan tersebut terasa lebih personal.
Tama mungkin hanyalah seekor kucing, tetapi kisahnya memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada yang diperkirakan.
Dari kucing yang tinggal di sekitar stasiun, Tama berubah menjadi kepala stasiun, ikon wisata, hingga simbol revitalisasi sebuah jalur kereta lokal. Setelah kepergiannya, warisan tersebut tetap dilanjutkan oleh generasi kepala stasiun kucing berikutnya.
Kisah Tama menjadi bukti bahwa dalam pariwisata, sesuatu yang sederhana dan autentik justru bisa menjadi cerita yang paling kuat.
Ayo temuin paket paket-paket tour murah di 7summitstravel.com atau kamu bisa custom serta konsultasi gratis terkait tour kamu lewat whatsapp kami di nomor 0811-2277-954
Put your email below to subscribe our latest PROMO & NEWS
Copyright ©2024 | 7SUMMITS TRAVEL. All Rights Reserved.
Comments