Newsletter
Put your email below to subscribe our latest PROMO & NEWS
+6281-1227-7954
klien7summitstravel@gmail.com
Rusia dan China kembali menunjukkan kedekatan militer mereka melalui latihan gabungan bertajuk Maritime Interaction 2025 (versi Rusia) atau Joint Sea 2025 (versi China) yang berlangsung pada 1–5 Agustus 2025. Latihan ini digelar di Laut Jepang, tepatnya di dekat wilayah Vladivostok, dan melibatkan berbagai unsur angkatan laut dari kedua negara. Ini bukan kali pertama kedua kekuatan besar dunia ini berlatih bersama, namun intensitas dan cakupan latihan tahun ini dinilai semakin meningkat di tengah ketegangan global yang masih berlangsung.
Latihan gabungan ini meliputi sejumlah skenario tempur, seperti operasi anti-kapal selam (anti-submarine warfare/ASW), pertahanan udara, latihan artileri live-fire, hingga pencarian dan penyelamatan di laut. Rusia menurunkan kapal perang anti-kapal selam kelas Udaloy Admiral Tributs, sementara China mengerahkan dua kapal perusak modern Tipe 052D yaitu Shaoxing dan Urumqi. Selain itu, pesawat anti-kapal selam seperti Il-38 milik Rusia dan Y-8 milik China ikut memperkuat operasi udara selama latihan berlangsung.
Latihan ini tidak hanya sekadar unjuk kekuatan militer, namun juga merupakan pernyataan politik. Melalui kerja sama ini, Rusia dan China menegaskan komitmen mereka untuk menjaga stabilitas dan keamanan kawasan Asia-Pasifik berdasarkan kepentingan bersama, di luar dominasi Amerika Serikat dan sekutunya. Kehadiran dua kekuatan besar ini di Laut Jepang juga dipandang sebagai sinyal strategis bahwa Indo-Pasifik kini menjadi wilayah persaingan utama geopolitik global.
Tak berhenti pada latihan tempur, kedua negara juga sepakat membentuk satuan tugas gabungan untuk melakukan patroli bersama di kawasan Asia-Pasifik. Patroli ini dilakukan langsung setelah latihan usai, dan akan berlangsung di jalur-jalur laut strategis yang selama ini juga menjadi perhatian negara-negara barat, seperti Selat Tsushima dan wilayah perairan dekat Taiwan. Langkah ini dinilai sebagai upaya lanjutan untuk menunjukkan kesiapan militer serta solidaritas politik antara Moskow dan Beijing.
Meskipun latihan ini secara resmi disebut bersifat defensif dan bertujuan meningkatkan kerja sama bilateral, banyak pihak menilai manuver militer ini sebagai respons terhadap kebijakan AS, terutama terkait dukungan terhadap Ukraina dan kehadiran militer AS di Asia Timur. Di saat dunia tengah menyoroti konflik di Eropa Timur dan ketegangan di Laut China Selatan, pelatihan gabungan ini menjadi pengingat bahwa tatanan dunia multipolar terus terbentuk dengan cepat.
Ayo temuin paket paket-paket tour murah di 7summitstravel.com atau kamu bisa custom serta konsultasi gratis terkait tour kamu lewat whatsapp kami di nomor 0811-2277-954
Comments