Newsletter
Put your email below to subscribe our latest PROMO & NEWS
+6281-1227-7954
klien7summitstravel@gmail.com
Restoran konvensional biasanya menjadi bagian dari itinerary. Wisatawan mengunjungi sebuah kota, kemudian mencari tempat makan.
Namun, konsep experiential dining membalik pola tersebut. Restoran itu sendiri justru menjadi tujuan perjalanan.
Salah satu contohnya adalah Ithaa Undersea Restaurant di Maladewa. Restoran ini berada di bawah permukaan laut sehingga pengunjung dapat menikmati hidangan sambil melihat kehidupan laut melalui dinding kaca di sekeliling ruang makan.
Makanan tetap menjadi bagian utama, tetapi pengalaman berada di bawah laut membuat aktivitas makan memiliki nilai yang jauh berbeda.
Wisatawan tidak hanya bertanya, "Apa yang dimakan?" tetapi juga, "Apa yang dirasakan selama makan?"
Konsep lain yang menarik datang dari Giraffe Manor di Nairobi, Kenya.
Tempat ini terkenal karena jerapah dapat muncul di sekitar area bangunan, termasuk ketika tamu sedang menikmati sarapan. Pengalaman tersebut membuat aktivitas makan menjadi sesuatu yang sulit ditemukan di restoran biasa.
Namun, konsep seperti ini juga menunjukkan pentingnya pengelolaan satwa. Wildlife experience seharusnya tidak mengubah hewan menjadi sekadar objek hiburan.
Karena itu, keberhasilan destinasi semacam ini sangat bergantung pada bagaimana interaksi manusia dan satwa dikelola secara bertanggung jawab.
Ada juga restoran yang menjadikan lokasi dan lanskap sebagai bagian dari pengalaman.
Restoran di atas kapal, restoran di tepi tebing, atau tempat makan yang menghadap langsung ke laut menggunakan lingkungan sebagai bagian dari value proposition.
Dalam kondisi tersebut, pemandangan bukan sekadar dekorasi. Ia menjadi bagian dari produk yang dibeli wisatawan.
Ini menjelaskan mengapa dua restoran dengan makanan yang sama bisa memiliki nilai jual yang sangat berbeda. Satu menawarkan makanan, sementara yang lain menawarkan makanan + lokasi + atmosfer + cerita.
Dari perspektif industri, experiential dining menarik karena wisatawan tidak hanya membandingkan harga makanan.
Ketika pengalaman menjadi bagian dari produk, keputusan pembelian juga dipengaruhi oleh faktor lain: keunikan, suasana, visual, eksklusivitas, dan kemampuan pengalaman tersebut untuk menjadi cerita yang dibagikan.
Itulah sebabnya restoran dengan konsep unik sering memiliki harga yang lebih tinggi.
Wisatawan sebenarnya tidak hanya membayar makanan di piring. Mereka membayar kesempatan untuk mengatakan, "Saya pernah makan di tempat seperti ini."
Media sosial semakin memperkuat tren ini.
Restoran dengan konsep visual yang kuat lebih mudah menarik perhatian karena pengalaman makan dapat diterjemahkan menjadi foto dan video.
Namun, visual saja tidak cukup untuk menciptakan destinasi yang kuat.
Jika sebuah restoran hanya mengandalkan spot foto tetapi makanannya buruk atau pelayanannya mengecewakan, pengalaman akan cepat kehilangan nilainya.
Karena itu, experiential dining yang berhasil biasanya memiliki tiga elemen yang saling mendukung: produk yang baik, pengalaman yang berbeda, dan storytelling yang kuat.
Bagi destinasi wisata, kuliner memiliki potensi besar untuk memperkuat branding.
Sebuah kota tidak hanya dikenal melalui landmark, tetapi juga melalui bagaimana wisatawan makan dan menghabiskan waktu di sana.
Bayangkan jika sebuah destinasi memiliki pengalaman makan yang hanya bisa ditemukan di tempat tersebut. Kuliner otomatis menjadi bagian dari identitas destinasi.
Hal ini juga berlaku untuk Indonesia. Kekayaan kuliner lokal sebenarnya memberikan peluang besar untuk mengembangkan pengalaman yang lebih dari sekadar makan.
Misalnya, makan di tengah sawah, menikmati hidangan tradisional sambil melihat proses memasak, mengikuti aktivitas membuat makanan lokal, atau menggabungkan kuliner dengan cerita sejarah suatu kawasan.
Konsep experiential dining juga cukup relevan untuk family trip.
Anak-anak biasanya lebih mudah mengingat pengalaman yang melibatkan aktivitas dan lingkungan unik. Makan di tempat yang berbeda bisa menjadi bagian dari perjalanan, bukan sekadar waktu istirahat.
Untuk corporate dan incentive trip, pengalaman kuliner juga bisa menjadi salah satu cara memberikan memorable experience kepada peserta.
Daripada hanya mengadakan makan malam di ballroom hotel, perusahaan dapat memilih dining experience yang memiliki konsep dan cerita tertentu.
Namun, pemilihan harus disesuaikan dengan karakter peserta. Pengalaman yang unik belum tentu cocok untuk semua kelompok.
Indonesia sebenarnya memiliki modal yang kuat untuk mengembangkan konsep ini.
Kita memiliki kuliner yang sangat beragam, lanskap alam yang kuat, tradisi makan yang unik, serta budaya lokal yang berbeda di setiap daerah.
Tantangannya adalah bagaimana mengemas semuanya menjadi pengalaman yang autentik tanpa menghilangkan karakter aslinya.
Jangan sampai konsep experiential dining justru membuat budaya lokal hanya menjadi dekorasi.
Pengalaman yang paling kuat biasanya adalah pengalaman yang memiliki cerita nyata di baliknya.
Destinasi kuliner masa kini menunjukkan bahwa aktivitas makan telah berkembang menjadi bagian dari pengalaman wisata.
Wisatawan tidak selalu mencari restoran dengan menu paling mahal. Mereka mencari tempat yang memberikan sesuatu yang sulit ditemukan di tempat lain.
Karena itu, masa depan wisata kuliner bukan hanya tentang apa yang dimakan, tetapi juga tentang di mana, bagaimana, dengan siapa, dan cerita apa yang dibawa pulang setelahnya.
Bagi industri pariwisata, ini membuka peluang besar: menjadikan kuliner bukan sekadar fasilitas pendukung perjalanan, tetapi alasan seseorang memilih sebuah destinasi
Ayo temuin paket paket-paket tour murah di 7summitstravel.com atau kamu bisa custom serta konsultasi gratis terkait tour kamu lewat whatsapp kami di nomor 0811-2277-954
Comments