Newsletter
Put your email below to subscribe our latest PROMO & NEWS
+6281-1227-7954
klien7summitstravel@gmail.com
Halo 7summits Traveler!
Baru aja DPR mengesahkan Undang-Undang Kepariwisataan yang jadi tonggak baru dalam arah pembangunan pariwisata Indonesia. Tapi di balik euforia “era baru pariwisata berkelanjutan” ini, ternyata banyak juga pelaku industri yang menyampaikan kritik dan kekhawatiran.
Beberapa asosiasi pariwisata dan pengusaha hotel menilai kalau UU baru ini masih meninggalkan sejumlah pertanyaan besar. Mereka menganggap beberapa pasal bisa berpotensi membatasi ruang gerak industri wisata, terutama dalam hal izin usaha, investasi, dan pengelolaan destinasi.
Banyak pelaku usaha khawatir bahwa penekanan besar pada aspek lingkungan dan keberlanjutan akan menambah beban administratif serta biaya operasional. Padahal, sektor pariwisata masih terus berjuang pulih setelah pandemi dan butuh dukungan agar bisa berkembang kembali dengan cepat.
Konsep pariwisata berkelanjutan memang penting, tapi sebagian pelaku usaha berharap pemerintah bisa menemukan titik tengah antara idealisme dan realitas lapangan. Mereka menilai, jangan sampai niat baik menjaga alam dan budaya justru membuat pelaku industri kesulitan menjalankan usaha.
Beberapa pengusaha juga menyoroti perlunya koordinasi yang jelas antar lembaga, agar kebijakan di pusat dan daerah tidak tumpang tindih. Banyak yang berharap UU ini bisa dilengkapi dengan aturan turunan yang lebih sederhana dan mudah diterapkan.
Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata menegaskan bahwa UU ini dirancang bukan untuk membatasi, melainkan untuk memperkuat ekosistem pariwisata agar bisa bertahan jangka panjang. Pemerintah juga membuka ruang dialog dengan asosiasi pelaku wisata untuk memastikan regulasi turunannya bisa disesuaikan dengan kebutuhan industri.
Selain itu, ada rencana mempercepat digitalisasi izin dan sertifikasi usaha wisata supaya prosesnya lebih efisien dan transparan.
Buat kamu, 7summits Traveler, isu ini menarik banget buat dipahami. Sebagai wisatawan, kamu juga bagian dari ekosistem pariwisata. Dengan tahu konteks di balik kebijakan baru ini, kamu bisa lebih menghargai usaha para pelaku wisata yang berjuang menjaga keseimbangan antara pengalaman seru dan kelestarian destinasi.
Kesimpulan:
Kritik terhadap UU Kepariwisataan menunjukkan kalau transisi menuju pariwisata berkelanjutan nggak semudah membalikkan tangan. Butuh waktu, dialog, dan penyesuaian agar idealisme ramah lingkungan bisa berjalan seiring dengan kenyataan bisnis di lapangan.
Buat 7summits Traveler, ini jadi momen penting untuk mulai mendukung destinasi dan pelaku wisata yang berkomitmen terhadap keberlanjutan, tanpa melupakan esensi liburan: menikmati, belajar, dan menghargai.
Comments