Newsletter
Put your email below to subscribe our latest PROMO & NEWS
+6281-1227-7954
klien7summitstravel@gmail.com
Fenomena ini menjadi bagian dari Yi Peng, festival tradisional masyarakat Lanna di Thailand Utara yang berlangsung berdekatan dengan perayaan Loy Krathong. Pada 2026, perayaan di Chiang Mai dijadwalkan berlangsung pada 23–25 November, dengan malam puncak Loy Krathong pada 24 November.
Namun, Yi Peng bukan sekadar momen melepas ribuan lentera. Di balik pemandangan yang mendunia tersebut, terdapat tradisi, makna spiritual, dan pengalaman budaya yang membuat festival ini begitu istimewa.
Yi Peng merupakan festival tradisional masyarakat Lanna, kelompok budaya yang memiliki sejarah panjang di wilayah Thailand Utara.
Nama Yi Peng berasal dari penanggalan tradisional Lanna. Perayaan ini berlangsung pada bulan purnama dalam kalender tersebut, yang biasanya bertepatan dengan November.
Dalam tradisinya, masyarakat menghias rumah dan tempat ibadah dengan lentera, menyalakan lampu, serta melakukan berbagai kegiatan keagamaan. Cahaya menjadi simbol harapan, penghormatan, dan doa untuk kehidupan yang lebih baik.
Seiring berkembangnya pariwisata, Yi Peng semakin dikenal secara internasional. Pemandangan lentera yang menghiasi langit Chiang Mai kini menjadi salah satu pengalaman budaya yang menarik perhatian wisatawan dari berbagai negara.
<escape> </escape>
Salah satu daya tarik yang paling identik dengan Yi Peng adalah khom loi, yaitu lentera udara berbahan ringan yang diterbangkan menggunakan udara panas.
Ketika lentera dilepaskan secara bersamaan, cahaya yang bergerak perlahan di langit malam menciptakan pemandangan yang dramatis. Momen inilah yang sering terlihat dalam foto dan video festival Yi Peng.
Namun, perlu diketahui bahwa pelepasan lentera dalam jumlah besar biasanya berlangsung di acara khusus berbayar yang diselenggarakan di luar pusat kota. Sementara itu, perayaan publik di Chiang Mai memiliki rangkaian kegiatan yang berbeda, seperti pemasangan lentera, pertunjukan budaya, parade, dan penerangan di kawasan kota tua.
Pada 2026, pelepasan lentera udara hanya diperbolehkan di lokasi yang mendapat izin dan mengikuti waktu yang ditentukan. Pemerintah setempat juga memberlakukan pembatasan pelepasan lentera di kawasan perkotaan demi keselamatan penerbangan dan mengurangi risiko kebakaran. <Cite refs={["turn315897search2","turn315897search5"]}/>
Banyak wisatawan mengenal Yi Peng dan Loy Krathong sebagai satu festival. Padahal, keduanya memiliki tradisi yang berbeda meskipun berlangsung pada waktu yang berdekatan.
Yi Peng merupakan tradisi masyarakat Lanna di Thailand Utara yang identik dengan lentera dan cahaya.
Sementara itu, Loy Krathong dirayakan di berbagai wilayah Thailand. Dalam perayaan ini, masyarakat menghanyutkan krathong, yaitu wadah kecil yang biasanya dibuat dari daun pisang dan dihias bunga, lilin, serta dupa, ke sungai atau perairan.
Kegiatan tersebut memiliki makna simbolis sebagai bentuk penghormatan kepada air sekaligus melambangkan pelepasan hal-hal buruk dan harapan untuk kehidupan yang lebih baik.
Di Chiang Mai, kedua perayaan ini berlangsung bersamaan sehingga wisatawan dapat menikmati berbagai tradisi dalam satu rangkaian perjalanan.
Selain lentera, Yi Peng juga menghadirkan berbagai kegiatan budaya yang memperlihatkan identitas masyarakat Thailand Utara.
Wisatawan dapat menemukan pertunjukan tari tradisional, parade krathong, kompetisi lentera hias, hingga berbagai kegiatan yang melibatkan komunitas lokal.
Pada rangkaian perayaan 2026, salah satu agenda yang dijadwalkan adalah Grand Krathong Parade pada 25 November. Parade ini menjadi kesempatan untuk menyaksikan krathong berukuran besar dengan dekorasi yang menggambarkan kreativitas dan budaya masyarakat setempat.
Kawasan kota tua Chiang Mai juga menjadi bagian menarik dari festival. Gerbang kota, area sekitar parit, dan sejumlah kuil dihiasi cahaya lampu serta lentera yang menciptakan suasana berbeda pada malam hari.
Bagi wisatawan yang ingin menikmati Yi Peng tanpa harus mengikuti acara pelepasan lentera berbayar, kawasan kuil dan kota tua bisa menjadi pilihan.
Pada periode festival, beberapa tempat dihiasi lentera gantung dan lampu tradisional. Pengunjung dapat berjalan menyusuri kawasan bersejarah, menikmati suasana malam, dan menyaksikan aktivitas masyarakat dalam merayakan tradisi mereka.
Salah satu hal yang menarik adalah bagaimana cahaya menjadi bagian dari pengalaman spiritual sekaligus estetika. Kuil yang biasanya memiliki suasana tenang berubah menjadi ruang yang semakin hidup, tetapi tetap mempertahankan nilai budaya dan religiusnya.
Wisatawan juga perlu menghormati aturan berpakaian dan tata krama ketika memasuki tempat ibadah.
Festival Yi Peng dapat menjadi alasan untuk memperpanjang perjalanan di Chiang Mai.
Pada siang hari, wisatawan bisa menjelajahi kawasan kota tua, mengunjungi kuil, menikmati kuliner khas Thailand Utara, atau berbelanja di pasar lokal. Ketika malam tiba, suasana kota berubah dengan rangkaian kegiatan festival yang berlangsung di berbagai lokasi.
Kombinasi ini membuat perjalanan terasa lebih lengkap. Wisatawan tidak hanya datang untuk mengambil foto lentera, tetapi juga mengenal kehidupan masyarakat, sejarah, dan karakter kota.
Untuk perjalanan November 2026, wisatawan sebaiknya mempertimbangkan tiba sebelum rangkaian festival dimulai dan menginap hingga acara utama selesai. Dengan begitu, pengalaman menikmati Yi Peng tidak harus dilakukan secara terburu-buru.
Yi Peng memperlihatkan bagaimana tradisi lokal dapat berkembang menjadi daya tarik wisata yang dikenal secara global.
Pemandangan lentera memang menjadi daya tarik visual yang kuat. Namun, nilai budaya dan cerita di baliknya membuat festival ini memiliki karakter yang berbeda dari sekadar pertunjukan cahaya.
Dari perspektif pariwisata, Yi Peng juga memberikan dampak terhadap berbagai sektor pendukung, mulai dari akomodasi, transportasi, kuliner, hingga pelaku usaha lokal.
Festival ini menjadi contoh bagaimana event budaya dapat memperkuat identitas destinasi sekaligus menciptakan alasan bagi wisatawan untuk berkunjung pada periode tertentu.
Di sisi lain, meningkatnya jumlah pengunjung juga menuntut pengelolaan yang lebih baik. Pembatasan pelepasan lentera, pengaturan lalu lintas, dan perhatian terhadap keselamatan menjadi bagian penting agar tradisi ini dapat terus berlangsung tanpa mengabaikan lingkungan serta masyarakat setempat.
Bagi wisatawan yang berencana menikmati festival ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
Catat tanggalnya: rangkaian festival kota berlangsung 23–25 November 2026, sedangkan malam Loy Krathong jatuh pada 24 November.
Pesan akomodasi lebih awal: permintaan hotel biasanya meningkat menjelang festival.
Pahami perbedaan acara gratis dan berbayar: festival publik di kota berbeda dengan acara pelepasan lentera massal di lokasi khusus.
Periksa aturan lentera: jangan menerbangkan lentera secara sembarangan. Ikuti ketentuan lokasi, izin, dan waktu yang ditetapkan.
Siapkan waktu untuk menjelajah: jangan hanya berfokus pada satu acara. Kawasan kota tua, kuil, pasar, dan tepi Sungai Ping juga menawarkan pengalaman menarik.
Informasi mengenai jadwal, lokasi, dan aturan pelaksanaan dapat berubah. Karena itu, wisatawan sebaiknya memeriksa pengumuman resmi menjelang keberangkatan.
Yi Peng 2026 menjadi salah satu agenda yang menarik bagi wisatawan yang ingin merasakan suasana Thailand Utara pada November.
Di balik ribuan lentera yang menghiasi langit, festival ini menyimpan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ada doa, penghormatan, kebersamaan, dan harapan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Lanna.
Bagi wisatawan, pengalaman ini menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar pemandangan indah. Yi Peng menjadi kesempatan untuk mengenal budaya melalui perayaan yang hidup dan dirasakan langsung oleh masyarakatnya.
Sebab, perjalanan yang paling berkesan bukan hanya tentang menyaksikan sesuatu yang indah, tetapi juga memahami cerita dan makna di baliknya.
Ayo temuin paket paket-paket tour murah di 7summitstravel.com atau kamu bisa custom serta konsultasi gratis terkait tour kamu lewat whatsapp kami di nomor 0811-2277-954
Comments