Whatsapp

+6281-1227-7954

klien7summitstravel@gmail.com

Blog Image

16

Oct

Terinspirasi Jalur Ziarah Spanyol, Indonesia Punya Camino de Flores, Seperti Apa Rutenya?

Selama ini, nama Flores lebih sering dikaitkan dengan Labuan Bajo, Pulau Padar, dan Taman Nasional Komodo. Namun, ada cara lain untuk mengenal pulau di Nusa Tenggara Timur ini, yakni dengan berjalan kaki melewati lanskap alam, desa-desa, serta tempat-tempat yang memiliki nilai spiritual dan sejarah.

Konsep tersebut dihadirkan melalui Camino de Flores: The Sacred Journey of Flores, sebuah perjalanan wisata jalan kaki yang terinspirasi dari tradisi ziarah Camino de Santiago di Spanyol. Program ini dirancang bukan sekadar untuk mengunjungi destinasi, tetapi juga memberi kesempatan kepada wisatawan untuk menikmati perjalanan dengan lebih perlahan dan mengenal kehidupan masyarakat di sepanjang rute.

Lantas, seperti apa jalur yang akan dilalui dan apa yang membuat Camino de Flores menarik untuk dikembangkan sebagai pengalaman wisata baru di Indonesia?

Apa Itu Camino de Flores?

Camino de Flores merupakan perjalanan wisata jalan kaki yang memadukan spiritualitas, alam, sejarah, budaya, dan kegiatan sosial. Program ini digagas oleh Mari Elka Pangestu dan didukung oleh Kementerian Pariwisata bersama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF).

Gagasannya terinspirasi dari pengalaman Mari mengikuti Camino de Santiago di Spanyol, jalur ziarah yang telah berkembang selama berabad-abad. Dari perjalanan tersebut, muncul ide untuk menghadirkan pengalaman serupa di Indonesia dengan memanfaatkan kekayaan Flores.

Flores dipilih karena memiliki beragam daya tarik yang dapat dirangkai menjadi satu perjalanan. Mulai dari kawasan pegunungan, desa wisata, situs religi, hingga tradisi masyarakat yang masih hidup dan berkembang.

Camino de Flores juga diarahkan untuk menjangkau wisatawan yang mencari pengalaman lebih mendalam, seperti komunitas peziarah dan pencinta perjalanan berbasis ketenangan atau mindfulness tourism. Dengan begitu, aktivitas berjalan kaki bukan hanya sarana berpindah tempat, melainkan bagian utama dari pengalaman wisata itu sendiri.

Seperti Apa Rute Camino de Flores?

Pada tahap awal, Camino de Flores akan dikembangkan melalui Etape Tengah yang menghubungkan Bajawa–Boawae–Ende, dengan jarak sekitar 70 kilometer. Rute ini berada di wilayah daratan Flores, Nusa Tenggara Timur, dan direncanakan ditempuh selama lima hari, yakni pada 23–27 Oktober 2026.

Perjalanan tersebut menjadi proyek percontohan untuk mengevaluasi kesiapan rute, operasional, keselamatan, serta keterlibatan masyarakat sebelum konsepnya dikembangkan lebih lanjut.

Berikut gambaran tahapan pengembangan rutenya.

1. Etape Tengah: Bajawa–Boawae–Ende

Etape Tengah menjadi rute awal yang diprioritaskan dalam proyek percontohan Camino de Flores. Perjalanan ini melintasi wilayah Kabupaten Ngada, Nagekeo, hingga Ende.

Peserta akan diajak menikmati lanskap Flores sekaligus mengenal kehidupan masyarakat di sepanjang perjalanan. Unsur spiritual, sejarah, dan budaya menjadi bagian penting dari pengalaman tersebut, bukan sekadar latar perjalanan.

2. Etape Barat: Labuan Bajo–Ruteng

Etape Barat direncanakan menghubungkan Labuan Bajo dengan Ruteng. Pengembangan ini berpotensi memperluas pengalaman wisata dari kawasan pesisir dan gerbang menuju Taman Nasional Komodo ke wilayah dataran tinggi Flores.

Rute ini masih menjadi bagian dari rencana pengembangan Camino de Flores, sehingga detail perjalanan dan pelaksanaannya perlu menunggu informasi resmi berikutnya.

3. Etape Timur: Maumere–Larantuka

Di bagian timur Flores, rute yang direncanakan adalah Maumere–Larantuka. Kawasan ini memiliki potensi wisata religi dan budaya, termasuk tradisi Semana Santa di Flores Timur yang dikenal sebagai salah satu perayaan keagamaan penting di wilayah tersebut.

Jika seluruh etape dapat dikembangkan, wisatawan berpeluang mengenal Flores melalui perjalanan lintas wilayah, bukan hanya berkunjung ke satu destinasi populer.

Informasi mengenai rencana ketiga etape tersebut disampaikan oleh Kementerian Pariwisata dan BPOLBF. Namun, rute yang sudah disiapkan untuk proyek percontohan perlu dibedakan dari etape lain yang masih direncanakan. Sumber: Kementerian Pariwisata

Bukan Sekadar Jalan Kaki, tetapi Mengenal Flores Lebih Dekat

Salah satu hal yang membedakan Camino de Flores dari wisata biasa adalah cara menikmati destinasi. Wisatawan tidak hanya datang, mengambil foto, lalu berpindah ke tempat berikutnya. Mereka diajak meluangkan waktu untuk merasakan suasana dan berinteraksi dengan lingkungan yang dilalui.

Sepanjang perjalanan, potensi alam Flores menjadi bagian dari pengalaman. Wilayah ini memiliki bentang alam yang beragam, mulai dari pegunungan dan hutan hingga kawasan pesisir. Di sisi lain, desa-desa dan tradisi masyarakat memberikan konteks budaya yang tidak selalu bisa diperoleh melalui kunjungan singkat.

Situs religi dan jejak sejarah juga memperkaya perjalanan. Dengan pendekatan tersebut, pengalaman wisata tidak hanya berpusat pada pemandangan, tetapi juga pada cerita dan kehidupan masyarakat setempat.

Konsep ini sejalan dengan tren perjalanan berbasis pengalaman, ketika wisatawan semakin tertarik untuk memahami suatu tempat, bukan sekadar mengumpulkan daftar destinasi yang telah dikunjungi.

Terinspirasi Camino de Santiago di Spanyol

Camino de Santiago merupakan jaringan jalur ziarah menuju Santiago de Compostela di Spanyol. Jalur ini dikenal luas karena menggabungkan perjalanan spiritual, aktivitas berjalan kaki, pertemuan antarpelancong, serta pengalaman menjelajahi kota dan pedesaan.

Camino de Flores mengambil inspirasi dari semangat perjalanan tersebut, tetapi mengadaptasikannya dengan karakter Flores. Artinya, konsep yang dihadirkan bukan menyalin seluruh rute atau tradisi Spanyol, melainkan mengembangkan pola perjalanan yang sesuai dengan potensi alam, budaya, dan spiritualitas lokal.

Perbedaan karakter destinasi justru menjadi daya tariknya. Jika Camino de Santiago dikenal melalui sejarah panjang ziarahnya di Eropa, Camino de Flores berpeluang memperkenalkan pengalaman perjalanan khas Indonesia Timur melalui interaksi dengan masyarakat dan lanskap Flores.

Peluang untuk Pariwisata Berkelanjutan

Camino de Flores juga memiliki tujuan yang lebih luas daripada menghadirkan aktivitas wisata baru. Selama ini, perhatian wisatawan yang datang ke Flores cenderung terkonsentrasi di Labuan Bajo dan wilayah Manggarai Barat.

Melalui pola perjalanan yang menghubungkan berbagai daerah, kunjungan wisatawan diharapkan dapat tersebar lebih merata. Desa-desa yang dilewati berpeluang memperoleh manfaat dari kebutuhan peserta terhadap makanan, penginapan, transportasi lokal, produk kerajinan, dan layanan pendukung lainnya.

Pendekatan ini penting karena keberhasilan pariwisata tidak hanya diukur dari jumlah pengunjung, tetapi juga dari seberapa besar manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat setempat.

Kementerian Pariwisata dan BPOLBF turut menempatkan Camino de Flores dalam konteks pemulihan Flores pascagempa. Kegiatan ini dirancang dengan unsur karitatif, termasuk rencana penggalangan dana untuk mendukung kebutuhan sosial dan fasilitas masyarakat.

Meski demikian, dampak ekonomi jangka panjangnya tetap bergantung pada pelaksanaan program, kesiapan fasilitas, keselamatan rute, dan keterlibatan masyarakat secara berkelanjutan. Proyek percontohan menjadi salah satu tahap penting untuk mengevaluasi berbagai aspek tersebut sebelum Camino de Flores dikembangkan menjadi produk wisata yang lebih luas.

Apakah Camino de Flores Bisa Menjadi Pilihan Wisata Baru?

Camino de Flores menawarkan alternatif bagi wisatawan yang ingin mengenal Flores dengan ritme berbeda. Perjalanan ini lebih cocok bagi mereka yang tertarik pada wisata jalan kaki, pengalaman budaya, refleksi spiritual, dan interaksi dengan masyarakat lokal daripada sekadar berpindah dari satu objek wisata ke objek wisata lainnya.

Namun, karena proyek percontohannya baru dijadwalkan pada 23–27 Oktober 2026, wisatawan yang tertarik mengikuti perjalanan serupa perlu memantau informasi resmi mengenai pendaftaran, kesiapan rute, fasilitas, serta persyaratan fisik yang dibutuhkan.

Jarak sekitar 70 kilometer juga bukan perjalanan ringan bagi semua orang. Persiapan kebugaran, alas kaki yang sesuai, perlengkapan pribadi, dan kepatuhan terhadap arahan penyelenggara akan menjadi hal penting apabila program ini dibuka untuk peserta lebih luas.

Pada akhirnya, Camino de Flores memperlihatkan bahwa kekuatan sebuah destinasi tidak selalu terletak pada satu tempat ikonik. Terkadang, daya tarik justru muncul dari rangkaian pengalaman yang menghubungkan alam, budaya, sejarah, dan manusia.

Jika dikembangkan secara konsisten, Camino de Flores berpotensi menghadirkan cara baru untuk menjelajahi Flores sekaligus memperluas manfaat pariwisata bagi masyarakat di sepanjang jalurnya.


Ayo temuin paket paket-paket tour murah di 7summitstravel.com atau kamu bisa custom serta konsultasi gratis terkait tour kamu lewat whatsapp kami di nomor 0811-2277-954

Share This News

Comments

Newsletter

Put your email below to subscribe our latest PROMO & NEWS