Newsletter
Put your email below to subscribe our latest PROMO & NEWS
+6281-1227-7954
klien7summitstravel@gmail.com
Ribuan penonton memadati Sirkuit Internasional Mandalika pada 9–11 Oktober 2026. Deru mesin motor balap bukan satu-satunya hal yang menjadi perhatian. Di luar lintasan, kedatangan pengunjung juga membawa aktivitas ekonomi bagi berbagai sektor yang terhubung dengan pariwisata.
Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir menyebut jumlah penonton MotoGP Mandalika tahun ini menembus 157 ribu orang, menjadikannya capaian tertinggi selama penyelenggaraan ajang tersebut di Indonesia. Sementara itu, pemerintah memperkirakan efek pengganda ekonomi dari penyelenggaraan tahun ini mencapai Rp5 triliun.
Angka tersebut menunjukkan bahwa sebuah ajang olahraga internasional dapat memiliki peran lebih luas daripada sekadar menghadirkan tontonan. Pertanyaannya, bagaimana balapan di Mandalika bisa memberikan dampak terhadap pariwisata Lombok?
Bagi penggemar motorsport, MotoGP merupakan alasan utama untuk datang ke Mandalika. Namun, perjalanan mereka tidak selalu berakhir ketika balapan selesai.
Sebagian wisatawan juga membutuhkan akomodasi, transportasi, makanan, dan aktivitas selama berada di Lombok. Mereka bisa memperpanjang masa tinggal untuk mengunjungi pantai, menikmati kuliner khas, atau mengenal budaya masyarakat setempat.
Kombinasi antara agenda olahraga dan pengalaman wisata inilah yang membuat MotoGP masuk dalam kategori sport tourism.
Menurut Kementerian Pariwisata, penyelenggaraan MotoGP Mandalika telah menunjukkan perkembangan positif selama empat tahun terakhir, termasuk melalui peningkatan jumlah penonton dan perhatian internasional.
Bagi Lombok, situasi ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan destinasi kepada pengunjung yang mungkin sebelumnya hanya mengenal kawasan tersebut melalui ajang balap.
Estimasi dampak ekonomi Rp5 triliun yang disampaikan pemerintah merupakan efek pengganda dari penyelenggaraan MotoGP 2026, bukan berarti seluruh nilai tersebut menjadi pendapatan langsung masyarakat Lombok.
Dampaknya dapat menjangkau sejumlah sektor yang saling terhubung.
1. Perhotelan dan penginapan
Lonjakan kedatangan penonton meningkatkan kebutuhan kamar hotel dan akomodasi lainnya. Kementerian Pariwisata melaporkan tingkat okupansi hotel mencapai 100 persen di kawasan Mandalika serta sekitar 90 persen di Lombok Tengah dan Kota Mataram selama penyelenggaraan. <Cite refs={["turn315027news0"]}/>
Kondisi ini memperlihatkan bagaimana event besar dapat meningkatkan permintaan akomodasi dalam waktu singkat.
2. Transportasi dan jasa perjalanan
Wisatawan membutuhkan transportasi dari bandara menuju penginapan, sirkuit, restoran, hingga destinasi wisata lain. Kebutuhan tersebut membuka peluang bagi penyedia kendaraan, pengemudi, biro perjalanan, dan pemandu wisata.
3. Kuliner dan UMKM
Kebutuhan makan dan minum pengunjung turut membuka peluang bagi restoran, pedagang makanan, serta usaha lokal. Produk kerajinan dan suvenir juga berpotensi mendapatkan perhatian lebih besar ketika pengunjung mencari buah tangan.
4. Destinasi wisata sekitar
Pengunjung yang memiliki waktu luang sebelum atau setelah balapan berpotensi melanjutkan perjalanan ke pantai, desa wisata, dan kawasan alam di Lombok. Semakin banyak wisatawan yang melakukan aktivitas tambahan, semakin besar peluang belanja mereka menyebar ke berbagai usaha lokal.
Namun, besarnya manfaat yang diterima setiap usaha tetap bergantung pada lokasi, akses, kemampuan melayani pengunjung, dan keterlibatan mereka dalam ekosistem pariwisata.
Salah satu keunggulan Mandalika adalah keberadaan sirkuit yang berada di kawasan pesisir dengan lanskap khas Lombok.
Wisatawan dapat menggabungkan agenda balapan dengan kunjungan ke Pantai Tanjung Aan, Bukit Merese, atau Desa Adat Sade. Untuk perjalanan yang lebih panjang, mereka juga dapat mengeksplorasi destinasi lain di Lombok sesuai waktu dan kondisi perjalanan.
Kombinasi tersebut memberi peluang bagi Lombok untuk menawarkan lebih dari satu alasan berkunjung.
MotoGP menarik wisatawan melalui olahraga, sedangkan pantai, kuliner, dan budaya lokal dapat menjadi alasan untuk memperpanjang masa tinggal. Dengan demikian, event internasional berpotensi menjadi pintu masuk untuk mengenalkan kekayaan destinasi yang lebih luas.
Event internasional juga memiliki nilai promosi yang tidak selalu terlihat dari jumlah tiket terjual.
Liputan media, unggahan penonton, konten kreator, dan percakapan di media sosial dapat memperkenalkan Mandalika kepada audiens yang lebih luas. Ketika visual sirkuit dan lanskap Lombok muncul bersamaan, keduanya dapat membentuk citra destinasi yang lebih kuat.
Dalam strategi pemasaran pariwisata, hal ini penting karena sebuah destinasi perlu memiliki identitas yang mudah dikenali.
Mandalika tidak hanya dapat diposisikan sebagai tempat penyelenggaraan balapan, tetapi juga sebagai kawasan wisata yang menawarkan pengalaman olahraga, alam, kuliner, dan budaya dalam satu perjalanan.
Meski begitu, jangkauan promosi tidak otomatis berubah menjadi kunjungan wisata. Daya tarik yang ditampilkan perlu didukung informasi perjalanan yang jelas, akses yang memadai, serta layanan yang membuat wisatawan ingin datang kembali.
MotoGP berlangsung hanya beberapa hari, sementara pengembangan pariwisata membutuhkan aktivitas yang berkelanjutan.
Jika promosi dan kegiatan ekonomi hanya ramai ketika balapan berlangsung, manfaatnya berisiko terkonsentrasi pada periode acara. Karena itu, tantangan berikutnya adalah menjaga agar perhatian yang muncul selama MotoGP dapat mendorong kunjungan di luar jadwal balapan.
Beberapa langkah yang bisa dikembangkan antara lain membuat paket perjalanan sebelum dan sesudah event, menghubungkan penginapan dengan pelaku wisata lokal, memperkuat promosi kuliner, serta menyelenggarakan aktivitas lain di kawasan Mandalika sepanjang tahun.
UMKM juga perlu mendapat kesempatan untuk terlibat secara nyata melalui akses ke pasar, ruang berjualan yang layak, promosi digital, dan peningkatan kualitas produk.
Dengan pendekatan tersebut, manfaat pariwisata tidak hanya berpusat pada sirkuit, tetapi berpotensi menjangkau lebih banyak pelaku usaha dan masyarakat sekitar.
Capaian MotoGP Mandalika 2026 memperlihatkan potensi olahraga sebagai penggerak perjalanan wisata. Lebih dari 157 ribu penonton dan estimasi dampak ekonomi Rp5 triliun menjadi indikator besarnya skala kegiatan ini.
Namun, keberhasilan pariwisata tidak cukup diukur dari jumlah pengunjung atau besarnya nilai ekonomi yang diperkirakan. Hal yang tidak kalah penting adalah berapa banyak usaha lokal yang terlibat, bagaimana manfaatnya tersebar, dan apakah wisatawan terdorong untuk kembali setelah event berakhir.
Jika dikelola secara konsisten, MotoGP dapat berfungsi sebagai pengungkit yang menghubungkan olahraga internasional dengan potensi destinasi Indonesia.
Pada akhirnya, keberhasilan MotoGP Mandalika bukan hanya tentang siapa yang tercepat di lintasan, tetapi juga tentang sejauh mana momentum tersebut mampu membawa Lombok melangkah lebih jauh sebagai destinasi wisata dunia.
Dari perspektif strategi pariwisata, MotoGP Mandalika menunjukkan bagaimana event-based tourism dapat menciptakan permintaan dalam waktu singkat sekaligus memperkuat citra destinasi.
Strategi berikutnya adalah mengubah pengunjung event menjadi wisatawan yang mengeksplorasi kawasan lebih luas. Caranya bukan hanya dengan menjual tiket balapan, tetapi juga menghubungkan event dengan paket wisata, kuliner lokal, desa wisata, akomodasi, dan pengalaman budaya.
Bagi pelaku industri perjalanan, ini merupakan peluang untuk merancang paket yang sesuai dengan jadwal balapan, memperpanjang masa tinggal, dan mendistribusikan aktivitas wisata ke berbagai lokasi.
Dengan begitu, event internasional tidak berhenti sebagai agenda tahunan, melainkan menjadi bagian dari strategi pengembangan pariwisata yang lebih berkelanjutan.
Ayo temuin paket paket-paket tour murah di 7summitstravel.com atau kamu bisa custom serta konsultasi gratis terkait tour kamu lewat whatsapp kami di nomor 0811-2277-954
Comments