Whatsapp

+6281-1227-7954

klien7summitstravel@gmail.com

Blog Image

28

Sep

Kenapa Slow Travel Mulai Menarik Perhatian Traveler?

Dulu, liburan sering identik dengan itinerary yang penuh. Dalam beberapa hari, traveler ingin mengunjungi sebanyak mungkin tempat, mencoba berbagai aktivitas, dan membawa pulang sebanyak mungkin foto.

Namun, belakangan muncul cara traveling yang berbeda: slow travel.

Konsep ini bukan berarti traveler tidak melakukan apa-apa selama liburan. Slow travel lebih menekankan pada bagaimana seseorang menikmati sebuah destinasi dengan tempo yang lebih santai, mengurangi perpindahan yang terlalu sering, dan memberikan waktu untuk benar-benar mengenal tempat yang dikunjungi.

Tren ini semakin menarik perhatian karena tidak semua traveler sekarang mencari liburan yang penuh aktivitas. Sebagian mulai mencari perjalanan yang terasa lebih santai dan tidak melelahkan.

Apa Itu Slow Travel?

Secara sederhana, slow travel adalah pendekatan traveling yang memberikan lebih banyak waktu untuk menikmati satu destinasi atau kawasan.

Misalnya, daripada mengunjungi tiga kota dalam empat hari, traveler bisa memilih satu atau dua kota dan mengalokasikan waktu lebih panjang di masing-masing tempat.

Dengan begitu, perjalanan tidak hanya berisi perpindahan dari satu objek wisata ke objek wisata lainnya.

Traveler punya kesempatan untuk berjalan kaki, mencoba makanan lokal, mengunjungi pasar, duduk di cafe, menggunakan transportasi lokal, atau sekadar mengamati kehidupan sehari-hari di destinasi tersebut.

Tidak Harus Mengejar Semua Destinasi

Salah satu hal yang membuat slow travel menarik adalah perubahan cara melihat itinerary.

Dalam perjalanan konvensional, itinerary sering dibuat sepadat mungkin agar banyak tempat bisa dikunjungi. Masalahnya, semakin banyak destinasi yang dimasukkan, semakin banyak pula waktu yang digunakan untuk berpindah.

Slow travel mencoba mengurangi hal tersebut.

Bukan berarti traveler harus melewatkan landmark terkenal. Big Ben, Eiffel Tower, Colosseum, atau destinasi populer lainnya tetap bisa masuk itinerary.

Bedanya, traveler tidak harus memaksakan terlalu banyak tempat dalam satu hari hanya demi mengejar checklist.

Waktu di Satu Kota Bisa Jadi Lebih Bermakna

Tinggal lebih lama di satu destinasi memberikan kesempatan untuk melihat sisi kota yang mungkin tidak terlihat dalam kunjungan singkat.

Hari pertama mungkin digunakan untuk mengunjungi landmark utama. Hari berikutnya bisa digunakan untuk menjelajahi kawasan lokal, mencoba makanan, atau mencari tempat yang tidak terlalu ramai wisatawan.

Dengan waktu yang lebih panjang, traveler juga bisa lebih fleksibel ketika menemukan sesuatu yang menarik secara spontan.

Misalnya, ketika menemukan pasar lokal yang sedang ramai atau cafe kecil yang menarik, tidak perlu langsung pergi karena masih ada lima tempat lain yang harus dikunjungi.

Slow Travel Bisa Membuat Perjalanan Terasa Lebih Santai

Perjalanan yang terlalu padat bisa membuat waktu liburan terasa seperti mengejar jadwal.

Bangun pagi, sarapan, berangkat ke destinasi pertama, berpindah ke tempat berikutnya, mengejar waktu makan, kemudian kembali ke hotel dan bersiap untuk itinerary berikutnya.

Slow travel menawarkan ritme yang berbeda.

Dengan jumlah aktivitas yang lebih sedikit, traveler punya lebih banyak ruang untuk beristirahat di antara perjalanan. Hal ini juga bisa membuat pengalaman traveling terasa lebih santai, terutama untuk perjalanan bersama keluarga atau orang yang tidak ingin menghabiskan sebagian besar waktu liburannya di perjalanan.

Transportasi Juga Menjadi Bagian dari Pengalaman

Slow travel bukan hanya tentang mengurangi jumlah destinasi. Cara berpindah dari satu tempat ke tempat lain juga bisa menjadi bagian dari pengalaman.

Kereta, bus, kapal, atau berjalan kaki dapat memberikan kesempatan untuk melihat pemandangan dan kehidupan lokal selama perjalanan.

Misalnya, perjalanan kereta antarkota tidak hanya dilihat sebagai waktu untuk mencapai destinasi berikutnya. Pemandangan dari jendela, stasiun yang dilewati, hingga suasana kota kecil yang terlihat sepanjang perjalanan bisa menjadi bagian dari pengalaman.

Karena itu, slow travel sering kali membuat perjalanan terasa tidak hanya berfokus pada tujuan akhir.

Bisa Membantu Traveler Lebih Mengenal Kehidupan Lokal

Tinggal lebih lama di suatu tempat juga memungkinkan traveler berinteraksi lebih banyak dengan lingkungan sekitar.

Mengunjungi restoran lokal, berbelanja di pasar, menggunakan transportasi umum, atau sekadar berjalan di kawasan tempat tinggal warga bisa memberikan perspektif berbeda dibandingkan hanya mengunjungi objek wisata populer.

Pengalaman seperti ini memang tidak selalu terlihat spektakuler di foto.

Namun, justru hal-hal sederhana tersebut bisa menjadi bagian yang paling diingat setelah perjalanan selesai.

Bukan Berarti Slow Travel Harus Mahal

Ada anggapan bahwa slow travel selalu membutuhkan waktu liburan yang panjang dan biaya lebih besar.

Padahal, konsepnya bisa disesuaikan dengan budget dan durasi perjalanan.

Traveler dengan waktu terbatas tetap bisa menerapkannya dengan memilih satu kawasan untuk dieksplorasi lebih dalam daripada berpindah ke banyak tempat.

Contohnya, jika hanya punya tiga hari di sebuah kota, tidak harus mengunjungi semua destinasi di sekitarnya. Pilih beberapa tempat yang memang ingin dinikmati, kemudian sisakan waktu untuk berjalan-jalan tanpa jadwal yang terlalu padat.

Jadi, slow travel lebih berkaitan dengan cara mengatur perjalanan daripada seberapa mahal atau panjang liburannya.

Cocok untuk Traveler dengan Gaya Berbeda

Slow travel juga bisa diterapkan dalam berbagai jenis perjalanan.

Untuk family trip, tempo yang lebih santai bisa membuat perjalanan lebih nyaman karena tidak terlalu banyak berpindah tempat.

Untuk couple, waktu yang lebih panjang di satu destinasi memberikan kesempatan untuk menikmati perjalanan tanpa terus melihat jam.

Sementara bagi solo traveler, slow travel bisa menjadi cara untuk lebih bebas menentukan aktivitas tanpa harus mengikuti itinerary yang terlalu padat.

Artinya, tidak ada satu cara khusus untuk melakukan slow travel. Setiap orang bisa menyesuaikannya dengan gaya traveling masing-masing.

Apakah Slow Travel Akan Menggantikan Traveling Konvensional?

Tidak juga.

Traveler tetap punya alasan untuk membuat itinerary padat, terutama jika waktu liburan terbatas dan ingin mengunjungi beberapa destinasi sekaligus.

Slow travel lebih tepat dilihat sebagai pilihan lain dalam menikmati perjalanan.

Bagi sebagian orang, kepuasan traveling datang dari berhasil mengunjungi banyak tempat. Bagi yang lain, pengalaman terbaik justru muncul ketika mereka punya waktu untuk tinggal lebih lama dan menikmati satu destinasi.

Pada akhirnya, traveling tidak selalu harus tentang berapa banyak tempat yang berhasil dikunjungi.

Terkadang, memberikan lebih banyak waktu untuk satu tempat justru membuat perjalanan terasa lebih berkesan.


Ayo temuin paket paket-paket tour murah di 7summitstravel.com atau kamu bisa custom serta konsultasi gratis terkait tour kamu lewat whatsapp kami di nomor 0811-2277-954

Share This News

Comments

Newsletter

Put your email below to subscribe our latest PROMO & NEWS