Newsletter
Put your email below to subscribe our latest PROMO & NEWS
+6281-1227-7954
klien7summitstravel@gmail.com
Bayangkan menyusuri perairan biru Sumbawa lalu melihat salah satu ikan terbesar di dunia berenang tidak jauh dari perahu. Pemandangan seperti ini bukan sekadar kemungkinan di Teluk Saleh. Berdasarkan pemantauan terbaru, 174 individu hiu paus telah teridentifikasi di kawasan tersebut, termasuk individu yang masih berusia muda.
Keberadaan ratusan individu yang teridentifikasi membuat Teluk Saleh bukan hanya menarik dari sisi wisata bahari. Kawasan ini juga memiliki peran penting bagi kehidupan hiu paus dan kini semakin mendapat perhatian dalam pengembangan konservasi serta pariwisata berkelanjutan.
Teluk Saleh merupakan teluk terbesar di Pulau Sumbawa dengan luas perairan sekitar 1.459 kilometer persegi. Secara administratif, kawasan ini berada di antara Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Dompu. Bentuknya yang semi-tertutup dan terhubung dengan Laut Flores menciptakan lingkungan laut dengan keanekaragaman hayati yang tinggi.
Salah satu alasan Teluk Saleh penting bagi hiu paus adalah ketersediaan sumber makanan. Hiu paus merupakan ikan penyaring yang memanfaatkan organisme berukuran kecil di perairan sebagai sumber makanan.
Kemunculan hiu paus secara alami dan relatif konsisten di Teluk Saleh menjadi salah satu indikator penting mengenai kondisi ekosistem kawasan tersebut. Sejumlah kajian juga menunjukkan bahwa perairan ini memiliki fungsi ekologis sebagai area pembesaran atau nursery ground bagi hiu paus.
Hal yang membuat Teluk Saleh semakin menarik adalah ditemukannya individu hiu paus berukuran sangat muda.
Pada 2025, ilmuwan mengonfirmasi temuan hiu paus neonatal dengan perkiraan panjang sekitar 135–145 sentimeter. Temuan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa Teluk Saleh kemungkinan memiliki fungsi sebagai area melahirkan atau pengasuhan anakan hiu paus.
Temuan individu muda menjadi penting karena informasi mengenai lokasi awal kehidupan hiu paus di alam masih relatif terbatas. Jika suatu kawasan mampu menyediakan lingkungan yang mendukung individu muda, artinya perairan tersebut memiliki fungsi ekologis yang lebih kompleks dibandingkan sekadar lokasi persinggahan atau mencari makan.
Karena itu, keberadaan hiu paus muda ikut memperkuat alasan mengapa Teluk Saleh perlu dikelola dengan memperhatikan kondisi habitatnya.
Peran penting Teluk Saleh juga diikuti dengan kebijakan perlindungan. Pada Mei 2026, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat menetapkan Teluk Saleh sebagai kawasan konservasi melalui Keputusan Gubernur NTB Nomor 100.3.3.1-196 Tahun 2026 tentang Pencadangan Kawasan Konservasi dan Perlindungan Hiu Paus di Perairan Teluk Saleh.
Kawasan yang dicadangkan memiliki luas sekitar 73.165,05 hektare dan diarahkan untuk melindungi habitat hiu paus, termasuk area makan, pembesaran, serta jalur pergerakannya.
Artinya, pengembangan pariwisata di kawasan tersebut perlu berjalan mengikuti daya dukung lingkungan. Aktivitas wisata tidak bisa hanya mengejar jumlah kunjungan, tetapi juga perlu mempertimbangkan keberlangsungan satwa dan habitatnya.
Selain memiliki nilai konservasi, hiu paus juga menjadi salah satu daya tarik utama wisata bahari Sumbawa.
Pada September 2026, wisata hiu paus di Teluk Saleh kembali mendapat perhatian melalui Festival Hiu Paus 2026 yang berlangsung pada 19–26 September. Festival tersebut menggabungkan kegiatan pariwisata, budaya, olahraga, ekonomi kreatif, dan edukasi konservasi.
Wisatawan juga dapat mengenal kawasan Teluk Saleh melalui aktivitas pengamatan hiu paus. Bahkan dalam rangkaian Sail to Indonesia 2026, para yachter mancanegara diarahkan untuk menikmati pengalaman melihat hiu paus di Teluk Saleh. Sekitar 15 kapal dengan 45–50 wisatawan singgah di Sumbawa pada September 2026.
Hal ini membuat hiu paus bukan hanya menjadi kekayaan alam, tetapi juga bagian dari cerita perjalanan yang dapat memperkenalkan Sumbawa kepada pasar wisata internasional.
Potensi hiu paus juga berkaitan dengan konsep ekonomi biru.
Pemerintah Kabupaten Sumbawa mendorong agar wisata hiu paus dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa menghilangkan fungsi ekologis kawasan. Model tersebut memungkinkan kegiatan wisata, jasa perahu, pemandu, kuliner, produk UMKM, hingga aktivitas masyarakat pesisir ikut terhubung dengan ekosistem pariwisata.
Konsep ini menarik karena satwa yang dilindungi tidak hanya dipandang sebagai objek yang harus dijaga, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem yang dapat memberikan manfaat ekonomi apabila dikelola secara bertanggung jawab.
Dengan begitu, masyarakat memiliki alasan ekonomi untuk ikut menjaga lingkungan yang menjadi sumber daya wisata mereka.
Semakin populer sebuah destinasi, semakin besar pula kebutuhan untuk mengatur aktivitas wisata.
Pemerintah Kabupaten Sumbawa menyebut pengaturan jumlah kapal dan wisatawan serta jarak aman dengan satwa menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan wisata hiu paus.
Ancaman terhadap ekosistem juga datang dari aktivitas lain. Pemerintah daerah sebelumnya memperketat tata ruang pengembangan tambak karena pencemaran dan perubahan lingkungan dapat berdampak pada kualitas perairan serta habitat hiu paus.
Karena itu, pengalaman wisata melihat hiu paus idealnya tidak hanya berorientasi pada mendapatkan foto sedekat mungkin dengan satwa. Edukasi mengenai perilaku satwa, aturan interaksi, dan kondisi ekosistem justru menjadi bagian penting dari pengalaman tersebut.
Dari sisi strategi pariwisata, hiu paus memberikan Sumbawa sebuah identitas destinasi yang spesifik.
Pantai, laut biru, dan pulau tropis memang menjadi daya tarik yang banyak dimiliki destinasi lain. Namun, kombinasi antara Teluk Saleh, hiu paus, budaya masyarakat pesisir, dan pengalaman wisata berbasis konservasi dapat membentuk cerita yang lebih khas.
Inilah yang membuat sebuah atraksi alam dapat berkembang menjadi destination branding. Wisatawan tidak hanya mengingat Sumbawa sebagai tempat dengan laut yang indah, tetapi juga sebagai salah satu lokasi untuk mengenal hiu paus di habitat alaminya.
Jika dikelola dengan baik, cerita tersebut bisa dikembangkan ke berbagai produk wisata seperti edukasi konservasi, snorkeling, wisata fotografi bawah laut, tur bahari berbasis masyarakat, hingga paket perjalanan yang menggabungkan hiu paus dengan budaya dan destinasi lain di Sumbawa.
Dengan 174 individu hiu paus yang telah teridentifikasi, keberadaan satwa ini menunjukkan betapa pentingnya Teluk Saleh bagi kehidupan laut Sumbawa. Ditambah temuan individu muda dan status kawasan konservasi, Teluk Saleh memiliki nilai ekologis yang jauh melampaui sekadar lokasi wisata.
Pada akhirnya, daya tarik terbesar Teluk Saleh justru terletak pada sesuatu yang masih hidup dan bergerak di dalam lautnya.
Hiu paus dapat menjadi alasan wisatawan datang, tetapi keberlanjutan habitatnya menjadi alasan kawasan ini harus terus dijaga. Jika konservasi, masyarakat, dan pariwisata dapat berjalan beriringan, Teluk Saleh berpeluang menjadi salah satu contoh bagaimana kekayaan alam dapat menjadi pengalaman wisata sekaligus sumber manfaat bagi masyarakat tanpa kehilangan fungsi ekologisnya.
Ayo temuin paket paket-paket tour murah di 7summitstravel.com atau kamu bisa custom serta konsultasi gratis terkait tour kamu lewat whatsapp kami di nomor 0811-2277-954
Comments