Newsletter
Put your email below to subscribe our latest PROMO & NEWS
+6281-1227-7954
klien7summitstravel@gmail.com
Perubahan ini membuat influencer marketing semakin relevan dalam industri pariwisata. Influencer bukan hanya mempromosikan tempat, tetapi ikut membentuk bagaimana sebuah destinasi dilihat, dibayangkan, bahkan dipertimbangkan untuk dikunjungi.
Fenomena ini juga terasa di Bandung dan Jawa Barat, wilayah yang memiliki beragam destinasi mulai dari wisata alam, kuliner, budaya, hingga pengalaman kreatif.
Bagi Gen Z, media sosial tidak hanya digunakan setelah perjalanan untuk membagikan foto. Platform seperti Instagram dan TikTok juga menjadi bagian dari proses sebelum perjalanan dimulai.
Sebuah penelitian terhadap Gen Z di Indonesia menunjukkan bahwa media sosial menjadi salah satu sumber utama untuk mencari informasi dan inspirasi wisata. Kredibilitas influencer juga ditemukan berhubungan positif dengan sikap pengguna dan minat mengunjungi destinasi yang direkomendasikan.
Penelitian lain terhadap mahasiswa rantau di Bandung menunjukkan bahwa media sosial digunakan dalam berbagai tahap perjalanan, mulai dari mencari informasi, menentukan destinasi, merencanakan perjalanan, hingga membagikan pengalaman setelah berkunjung.
Artinya, konten influencer sebenarnya tidak hanya bekerja di tahap awareness. Ia bisa ikut masuk ke dalam customer journey wisatawan.
Salah satu kekuatan influencer terletak pada kemampuannya mengubah destinasi menjadi sebuah cerita.
Misalnya, sebuah tempat wisata alam mungkin punya pemandangan yang bagus. Namun ketika seorang kreator memperlihatkan bagaimana perjalanan menuju lokasi, aktivitas yang bisa dilakukan, suasana ketika matahari terbit, sampai reaksi orang yang mengunjunginya, audiens mendapatkan gambaran pengalaman yang jauh lebih konkret.
Penelitian mengenai travel influencer di Bandung Raya juga menemukan bahwa elemen visual, audio, dan tekstual menjadi bagian penting dalam menyampaikan pesan promosi destinasi melalui TikTok.
Di sinilah influencer marketing berbeda dari iklan konvensional. Destinasi tidak hanya dijual, tetapi diperlihatkan melalui sudut pandang seseorang yang dianggap dekat dengan audiensnya.
Jumlah followers memang mudah dijadikan ukuran awal ketika memilih influencer. Namun untuk pemasaran pariwisata, angka tersebut tidak selalu cukup.
Gen Z dapat melihat banyak sekali konten dalam waktu singkat. Ketika sebuah promosi terasa terlalu dibuat-buat, terlalu sempurna, atau tidak sesuai dengan pengalaman sebenarnya, kredibilitas konten bisa ikut dipertanyakan.
Studi terhadap Gen Z yang meneliti pemasaran influencer dan keputusan kunjungan ke destinasi wisata Bandung menemukan bahwa influencer marketing dan electronic word of mouth memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan kunjungan dalam sampel penelitian tersebut.
Sementara itu, penelitian lain tentang Instagram dan destinasi Yogyakarta menemukan bahwa daya tarik, kepercayaan, dan keahlian influencer berkaitan dengan parasocial interaction—rasa kedekatan audiens dengan influencer—yang kemudian memprediksi minat perjalanan.
Jadi, pertanyaannya bukan hanya “influencer ini punya berapa followers?”, tetapi juga “seberapa relevan influencer ini dengan pengalaman yang ingin dijual?”
Bandung punya keuntungan karena produk wisatanya sangat beragam dan mudah diterjemahkan ke dalam format konten.
Wisata alam bisa dikemas melalui visual lanskap dan aktivitas. Kuliner bisa dibangun melalui pengalaman mencicipi. Wisata kreatif bisa diperlihatkan melalui proses dan interaksi. Bahkan perjalanan corporate atau gathering dapat dikemas melalui cerita kebersamaan, bukan hanya dokumentasi tempat.
Hal ini membuat strategi influencer bisa diarahkan berdasarkan experience, bukan sekadar lokasi.
Penelitian mengenai pemasaran media sosial di Kabupaten Bandung juga menunjukkan bahwa promosi melalui media sosial dapat memperkuat citra dan daya tarik destinasi, yang kemudian berhubungan dengan kualitas pengalaman wisata dan niat berkunjung kembali.
Dengan kata lain, konten influencer seharusnya tidak berhenti pada membuat orang berkata, “tempatnya bagus.” Konten yang lebih strategis membuat audiens memahami apa yang bisa mereka rasakan ketika berada di sana.
Ada satu hal penting yang sering terlupakan: konten yang viral bisa mendatangkan perhatian, tetapi tidak otomatis menciptakan pengalaman wisata yang baik.
Jika ekspektasi yang dibangun influencer terlalu tinggi dibandingkan kondisi sebenarnya, justru bisa muncul kesenjangan antara ekspektasi dan pengalaman. Karena itu, pemasaran influencer sebaiknya berjalan bersama pengelolaan destinasi, pelayanan, aksesibilitas, informasi yang akurat, dan kualitas pengalaman di lapangan.
Bagi pelaku pariwisata, influencer marketing akhirnya bukan sekadar urusan mencari kreator dengan engagement tinggi. Yang lebih penting adalah menemukan figur yang mampu menerjemahkan karakter destinasi ke dalam cerita yang relevan dengan audiensnya.
Untuk Bandung dan Jawa Barat, peluangnya cukup besar: bukan hanya membuat destinasi terlihat menarik di layar, tetapi menjadikan konten digital sebagai pintu masuk menuju pengalaman wisata yang benar-benar ingin dijalani.
Ayo temuin paket paket-paket tour murah di 7summitstravel.com atau kamu bisa custom serta konsultasi gratis terkait tour kamu lewat whatsapp kami di nomor 0811-2277-954
Comments