Newsletter
Put your email below to subscribe our latest PROMO & NEWS
+6281-1227-7954
klien7summitstravel@gmail.com
Pernah nggak, baru melihat sebuah pesawat dari kejauhan, kamu sudah bisa menebak itu maskapai dari negara mana?
Warna pesawatnya familiar. Logonya langsung dikenali. Atau bahkan baru melihat seragam awak kabinnya, kita sudah bisa membayangkan negara yang menjadi asal maskapai tersebut.
Hal seperti ini bukan kebetulan.
Di dunia penerbangan, maskapai tidak hanya menjual kursi dari satu kota ke kota lain. Terutama bagi maskapai nasional atau flag carrier, identitas negara bisa ikut dibawa ke dalam pengalaman perjalanan. Mulai dari warna pesawat, seragam, makanan, hingga cara pelayanan, semuanya dapat menjadi bagian dari cerita tentang sebuah negara.
Bagi banyak wisatawan, pesawat justru menjadi salah satu pengalaman pertama sebelum benar-benar tiba di negara tujuan.
Sebelum melihat jalanan Tokyo, seseorang mungkin sudah lebih dulu bertemu dengan Japan Airlines. Sebelum mendarat di Paris, penumpang mungkin sudah melihat identitas Prancis lewat Air France. Begitu juga ketika seseorang terbang menggunakan Garuda Indonesia, Singapore Airlines, atau maskapai nasional negara lainnya.
Karena itu, identitas visual menjadi penting.
Logo, warna, dan desain pesawat harus cukup kuat untuk membuat sebuah maskapai mudah dikenali. Dalam industri penerbangan, livery dan logo bahkan sering menggunakan simbol yang berkaitan dengan identitas nasional atau budaya.
Pesawat akhirnya bukan hanya kendaraan di udara, tetapi juga semacam billboard yang terbang ke berbagai negara.
Salah satu contoh paling mudah adalah Singapore Airlines.
Identitasnya sangat kuat dengan kombinasi warna biru tua dan emas, logo burung khas, serta seragam sarong kebaya untuk awak kabinnya. Seragam tersebut memiliki sejarah panjang dan awalnya dirancang oleh desainer Prancis Pierre Balmain pada 1968 untuk Malaysia-Singapore Airlines, sebelum kemudian menjadi bagian dari identitas Singapore Airlines.
Yang menarik, unsur budaya tidak berhenti di pakaian.
Singapore Airlines juga sejak lama memberikan perhatian pada makanan dan pengalaman di dalam pesawat. Bahkan mereka membentuk International Culinary Panel pada 1998 untuk mengembangkan menu penerbangan.
Jadi ketika seseorang berada di dalam pesawat Singapore Airlines, pengalaman yang diberikan bukan hanya soal “sedang terbang ke Singapura”.
Ada kesan Asia dan Singapura yang ikut dibangun melalui berbagai detail.
Hal serupa bisa ditemukan pada Garuda Indonesia.
Seragam awak kabinnya menggunakan desain kebaya dengan kain batik. Dalam pengembangan seragam tersebut, desainer tekstil Josephine Komara atau Obin menggunakan unsur batik dan siluet yang terinspirasi dari Indonesia. Motifnya juga dirancang dengan elemen yang berkaitan dengan identitas budaya Indonesia.
Pengalaman di dalam pesawat juga pernah dirancang untuk memperkenalkan unsur lokal, termasuk musik tradisional dan pilihan makanan.
Artinya, penumpang bisa mulai merasakan sedikit nuansa Indonesia bahkan sebelum pesawat mendarat.
Ini menarik karena bagi wisatawan asing, detail seperti seragam dan makanan mungkin justru menjadi perkenalan pertama mereka dengan budaya Indonesia.
Kalau melihat Japan Airlines, kesan yang muncul juga berbeda.
Logo Tsuru atau burung bangau menjadi salah satu elemen identitas yang sangat dikenal dari JAL. Logo tersebut sudah menjadi bagian dari identitas maskapai sejak 1959.
Seragamnya pun mengalami perubahan mengikuti perkembangan zaman. JAL memiliki sejarah panjang pergantian desain seragam, termasuk desain dari Hanae Mori pada beberapa generasi sebelumnya.
Di sini terlihat bahwa identitas sebuah maskapai tidak selalu berarti menggunakan pakaian tradisional secara langsung.
Kadang, identitas sebuah negara justru muncul lewat simbol, warna, bentuk, dan cara desain tersebut diterjemahkan menjadi sesuatu yang modern.
Air France memberikan contoh yang sedikit berbeda lagi.
Identitas Prancis mereka sangat erat dengan dunia desain dan fashion. Sejarah seragam awak kabinnya melibatkan sejumlah nama desainer, dan pada 1990-an Air France bahkan mengembangkan seragam baru untuk menciptakan identitas bersama setelah berbagai proses konsolidasi perusahaan. Kemudian, Christian Lacroix merancang seragam yang memadukan kebutuhan identitas maskapai dengan gaya khas Prancis.
Jadi ketika melihat awak kabin Air France dengan tampilan yang rapi dan elegan, kesan “French” bukan muncul begitu saja.
Ada sejarah desain dan strategi identitas yang memang dibangun selama bertahun-tahun.
Menariknya, membawa identitas negara ke dalam maskapai tidak berarti harus selalu menggunakan pakaian tradisional, makanan lokal, atau simbol budaya secara terang-terangan.
Identitas bisa muncul dengan cara yang lebih subtle.
Bisa melalui warna.
Bisa lewat logo.
Bisa dari desain kabin.
Bisa melalui pilihan makanan.
Atau bahkan dari cara sebuah maskapai menggambarkan pelayanan mereka.
Karena itu, dua maskapai dari dua negara yang berbeda bisa memberikan pengalaman yang terasa sangat berbeda meskipun sama-sama menerbangkan pesawat dari satu kota ke kota lain.
Karena maskapai pada dasarnya tidak hanya membangun identitas sebagai perusahaan penerbangan.
Mereka juga bisa menjadi bagian dari nation branding—cara sebuah negara memperkenalkan citra dan karakter dirinya kepada dunia.
Itulah kenapa pengalaman perjalanan sebenarnya bisa dimulai jauh sebelum kita keluar dari bandara.
Saat melihat pesawat.
Saat bertemu awak kabin.
Saat membuka menu makanan.
Saat melihat desain kursi dan kabin.
Bahkan saat mendengar pengumuman sebelum pesawat lepas landas.
Semua detail kecil itu perlahan membentuk satu kesan.
Dan mungkin, itulah hal menarik dari perjalanan udara: sebelum pesawat membawa kita ke sebuah negara, maskapainya kadang sudah lebih dulu memperkenalkan seperti apa negara tersebut.
Ayo temuin paket paket-paket tour murah di 7summitstravel.com atau kamu bisa custom serta konsultasi gratis terkait tour kamu lewat whatsapp kami di nomor 0811-2277-954
Comments