Newsletter
Put your email below to subscribe our latest PROMO & NEWS
+6281-1227-7954
klien7summitstravel@gmail.com
Kini, salju abadi Papua berada dalam kondisi yang semakin mengkhawatirkan. Luas dan ketebalan tutupan es di Puncak Jaya terus menyusut akibat perubahan iklim, sehingga keberadaannya sebagai ikon alam Indonesia semakin terancam.
Tutupan es Puncak Jaya berada di kawasan pegunungan tinggi Papua, yang dikenal sebagai salah satu wilayah tropis dengan gletser.
Keberadaannya menjadi sesuatu yang sangat langka. Tidak banyak tempat di wilayah sekitar garis khatulistiwa yang mampu mempertahankan es secara permanen. Karena itu, salju abadi Papua bukan hanya menarik bagi wisatawan dan pendaki, tetapi juga penting bagi ilmuwan yang mempelajari perubahan iklim.
Namun istilah “salju abadi” sebenarnya lebih tepat dipahami sebagai tutupan es atau gletser yang bertahan dalam jangka panjang, bukan salju yang selalu turun dan tidak pernah mencair.
Data BMKG menunjukkan perubahan yang cukup drastis.
Pada 2022, estimasi luas tutupan es di sekitar Puncak Jaya mencapai sekitar 0,23 km². Pada 2024, luasnya diperkirakan tinggal 0,11–0,16 km², atau menyusut sekitar 30–50 persen hanya dalam waktu sekitar dua tahun.
Penipisan juga terjadi pada ketebalannya. BMKG mencatat ketebalan es sekitar 6 meter pada Desember 2022 dan sekitar 4 meter pada akhir 2023 atau awal 2024. Sejak 2016, laju penipisan diperkirakan mencapai sekitar 2–2,5 meter per tahun.
Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalannya bukan sekadar luas permukaan yang mengecil. Lapisan esnya sendiri juga semakin tipis.
Menurut BMKG, pencairan tutupan es Puncak Jaya dipicu oleh pemanasan global dan dapat diperparah oleh fenomena El Niño yang kuat. Ada perubahan penting lain: sejak 1997, rata-rata ketinggian garis beku 0°C telah berada di atas ketinggian puncak es Puncak Jaya.
Akibatnya, presipitasi yang sebelumnya dapat turun sebagai salju lebih sering hadir dalam bentuk hujan. Kondisi ini membuat es semakin sulit mendapatkan tambahan massa untuk menggantikan es yang mencair.
Dengan kata lain, masalahnya bukan hanya es mencair lebih cepat, tetapi juga es baru semakin sulit terbentuk.
Fenomena El Niño dapat membuat kondisi tertentu menjadi lebih kering dan hangat di wilayah Indonesia. BMKG mencatat fenomena tersebut turut mempercepat pencairan tutupan es Puncak Jaya.
Namun, penting untuk melihat El Niño sebagai faktor yang dapat memperburuk kondisi, bukan satu-satunya penyebab. Tren penyusutan tutupan es Papua berlangsung dalam konteks perubahan iklim jangka panjang.
BMKG sendiri mencatat bahwa pencairan telah berlangsung dari tahun ke tahun dan berkaitan dengan pemanasan global.
Hilangnya es Papua bukan sekadar berarti Indonesia kehilangan satu pemandangan unik.
Gletser merupakan arsip alami. Lapisan es dapat menyimpan informasi tentang kondisi atmosfer dan iklim pada masa lalu. Karena itu, ketika gletser tropis menghilang, sebagian rekaman lingkungan yang tersimpan di dalamnya juga ikut terancam hilang.
Penelitian dan pengambilan inti es dari gletser Papua sebelumnya telah memberikan rekaman penting mengenai variabilitas iklim di kawasan Pasifik barat khatulistiwa.
BMKG dalam laporan Climate State 2024 memperkirakan bahwa jika laju penyusutan terus berlangsung seperti periode sebelumnya, tutupan es Puncak Jaya dapat menghilang paling lambat pada 2026.
Namun, angka tersebut sebaiknya tidak dipahami sebagai tanggal pasti kepunahan. Kondisi gletser dapat berubah mengikuti variasi cuaca dan iklim, sementara pemantauan terus dilakukan. Yang jelas, tren penyusutannya sudah sangat nyata.
Pada skala global, kehilangan gletser tropis juga menjadi persoalan yang semakin serius. Studi yang terbit di npj Climate Action pada 2026 memperkirakan sebagian gletser tropis yang diteliti berpotensi hilang sebelum 2050, sementara gletser di Indonesia telah mengalami penyusutan sangat besar dibandingkan luas historisnya.
Salju abadi Papua selama ini menjadi pengingat bahwa Indonesia tidak hanya memiliki hutan tropis, pantai, dan gunung api. Di ketinggian tertentu, negeri yang berada di garis khatulistiwa ini juga pernah memiliki dunia esnya sendiri.
Kini, dunia itu semakin kecil.
Hilangnya salju abadi Papua bukan hanya kehilangan sebuah fenomena alam yang langka, tetapi juga pengingat bahwa perubahan iklim dapat mengubah lanskap yang selama ini terasa permanen.
Dan mungkin, justru karena disebut “abadi”, kita baru menyadari nilainya ketika keberadaannya mulai tidak lagi bisa dianggap abadi.
Ayo temuin paket paket-paket tour murah di 7summitstravel.com atau kamu bisa custom serta konsultasi gratis terkait tour kamu lewat whatsapp kami di nomor 0811-2277-954
Comments