Newsletter
Put your email below to subscribe our latest PROMO & NEWS
+6281-1227-7954
klien7summitstravel@gmail.com
Kalau melihat makanan Korea, ada satu hal yang cukup mudah ditemukan: fermentasi.
Kimchi, doenjang, gochujang, hingga jeotgal merupakan beberapa contoh makanan atau bahan makanan yang dibuat melalui proses fermentasi. Bagi masyarakat Korea, fermentasi bukan sekadar teknik memasak, tetapi sudah menjadi bagian dari sejarah dan budaya kuliner.
Lalu, kenapa makanan Korea banyak yang difermentasi?
Salah satu alasan utamanya berkaitan dengan cara masyarakat Korea menyimpan makanan.
Korea memiliki musim dingin yang panjang dan kondisi cuaca yang membuat mendapatkan sayuran segar sepanjang tahun tidak selalu mudah. Fermentasi menjadi salah satu cara untuk mengawetkan bahan makanan agar dapat dikonsumsi lebih lama.
Sebelum adanya kulkas dan teknologi penyimpanan modern, teknik seperti ini tentu sangat penting.
Masyarakat dapat mengolah sayuran dan bahan makanan lainnya menjadi produk fermentasi yang bisa disimpan untuk waktu lebih lama.
Ketika berbicara tentang fermentasi Korea, makanan yang paling terkenal tentu saja kimchi.
Kimchi dibuat dari sayuran, terutama sawi putih atau lobak, yang diberi bumbu kemudian melalui proses fermentasi.
Proses tersebut menghasilkan rasa yang khas: asam, pedas, asin, dan umami.
Menariknya, kimchi bukan hanya memiliki satu jenis.
Ada berbagai variasi kimchi yang berbeda berdasarkan bahan, daerah, musim, dan cara pembuatannya.
Jadi, kimchi yang ditemukan di satu wilayah Korea belum tentu memiliki rasa yang sama dengan kimchi dari wilayah lainnya.
Fermentasi dalam kuliner Korea jauh lebih luas daripada kimchi.
Ada doenjang, pasta kedelai fermentasi yang sering digunakan sebagai bahan dasar sup dan berbagai masakan.
Ada juga gochujang, pasta cabai fermentasi yang memberikan rasa pedas sekaligus gurih pada banyak hidangan Korea.
Kemudian ada jeotgal, bahan makanan laut yang diawetkan melalui proses penggaraman dan fermentasi.
Keberadaan berbagai bahan tersebut menunjukkan bahwa fermentasi sudah menjadi bagian penting dari cara masyarakat Korea membangun rasa dalam makanan.
Salah satu alasan teknik ini terus dipertahankan adalah karena fermentasi menghasilkan karakter rasa yang sulit didapatkan melalui proses memasak biasa.
Proses fermentasi dapat menghasilkan rasa umami, aroma yang khas, serta kompleksitas rasa pada makanan.
Itulah sebabnya bahan seperti doenjang dan gochujang tidak hanya berfungsi sebagai bumbu.
Keduanya dapat menjadi dasar rasa dari sebuah hidangan.
Budaya fermentasi Korea juga berkaitan erat dengan musim.
Pada masa lalu, masyarakat harus mempersiapkan persediaan makanan sebelum musim dingin tiba.
Salah satu tradisi yang berkembang adalah kimjang, yaitu kegiatan membuat kimchi dalam jumlah besar untuk persediaan.
Kimjang bukan hanya aktivitas menyiapkan makanan.
Tradisi ini juga menjadi kegiatan sosial yang melibatkan keluarga dan komunitas.
Pada 2013, budaya kimjang bahkan masuk dalam daftar Intangible Cultural Heritage of Humanity UNESCO.
Yang menarik, makanan fermentasi di Korea tidak hanya berkaitan dengan dapur.
Tradisi membuat dan berbagi makanan juga dapat mempererat hubungan antaranggota keluarga dan masyarakat.
Kimjang menjadi contoh paling jelas.
Masyarakat tidak hanya membuat kimchi untuk kebutuhan rumah sendiri, tetapi juga berbagi dengan keluarga, tetangga, dan orang lain.
Dengan begitu, makanan menjadi bagian dari interaksi sosial.
Dulu, fermentasi memiliki fungsi yang sangat praktis: membantu masyarakat menyimpan makanan lebih lama.
Namun, seiring waktu, teknik tersebut berkembang menjadi bagian dari identitas kuliner Korea.
Kini, makanan fermentasi Korea dikenal di berbagai negara.
Kimchi bahkan menjadi salah satu makanan yang paling mudah diasosiasikan dengan Korea Selatan.
Yang menarik, popularitasnya tidak membuat proses tradisional tersebut sepenuhnya hilang.
Sebaliknya, fermentasi tetap menjadi bagian dari banyak rumah tangga, restoran, dan industri makanan Korea.
Jawabannya bukan hanya karena tradisi.
Fermentasi memberikan rasa yang khas dan menjadi bagian dari pola makan masyarakat Korea selama beberapa generasi.
Selain itu, makanan fermentasi juga semakin menarik perhatian karena prosesnya menghasilkan mikroorganisme dan senyawa yang menjadi objek berbagai penelitian mengenai pangan dan kesehatan.
Namun, manfaat kesehatan setiap makanan fermentasi dapat berbeda-beda tergantung bahan dan proses pembuatannya.
Kalau dilihat dari sejarahnya, fermentasi sebenarnya merupakan contoh bagaimana manusia beradaptasi dengan lingkungan.
Masyarakat Korea menghadapi perubahan musim dan kebutuhan untuk menyimpan makanan dalam waktu lama.
Dari kebutuhan tersebut lahirlah teknik yang kemudian berkembang menjadi tradisi.
Hari ini, ketika kulkas sudah tersedia hampir di setiap rumah, fermentasi tetap dipertahankan.
Bukan lagi hanya karena harus mengawetkan makanan, tetapi karena rasa, tradisi, dan identitas budaya yang sudah melekat di dalamnya.
Jadi, alasan makanan Korea banyak yang difermentasi ternyata bukan sekadar karena orang Korea menyukai makanan dengan rasa asam atau kuat.
Di balik kimchi, doenjang, dan gochujang terdapat sejarah panjang tentang musim, cara bertahan hidup, tradisi keluarga, dan bagaimana sebuah teknik sederhana akhirnya menjadi identitas kuliner sebuah negara.
Ayo temuin paket paket-paket tour murah di 7summitstravel.com atau kamu bisa custom serta konsultasi gratis terkait tour kamu lewat whatsapp kami di nomor 0811-2277-954
Comments