Whatsapp

+6281-1227-7954

klien7summitstravel@gmail.com

Blog Image

30

Jun

Bandara Tertua di Indonesia, Jejak Awal Penerbangan di Tanah Air


Bandar Udara Internasional Adisutjipto, Yogyakarta


Bandar Udara Internasional Adisutjipto memiliki sejarah yang bermula pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Kawasan ini awalnya merupakan lapangan terbang militer yang dibangun sekitar tahun 1940 dengan nama Lapangan Terbang Maguwo.

Pada masa pendudukan Jepang, lapangan terbang ini dimanfaatkan untuk kepentingan militer. Setelah Indonesia merdeka, Maguwo memiliki peran penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, terutama sebagai jalur pengiriman logistik dan bantuan dari luar negeri.

Nama bandara kemudian diubah menjadi Adisutjipto sebagai bentuk penghormatan kepada Agustinus Adisutjipto, seorang perintis TNI Angkatan Udara yang gugur saat menjalankan misi kemanusiaan pada tahun 1947.

Selama puluhan tahun, Adisutjipto menjadi pintu gerbang utama menuju Yogyakarta sebelum sebagian besar penerbangan komersial dipindahkan ke Bandar Udara Internasional Yogyakarta (YIA) pada tahun 2020.


Bandar Udara Husein Sastranegara, Bandung


Bandara bersejarah lainnya adalah Bandar Udara Husein Sastranegara di Bandung.

Bandara ini mulai digunakan pada tahun 1926 dengan nama Andir Airfield, sehingga menjadi salah satu lapangan terbang tertua di Indonesia. Pada masa kolonial Belanda, Andir digunakan untuk kepentingan militer dan penerbangan sipil.

Setelah Indonesia merdeka, nama bandara diubah menjadi Husein Sastranegara untuk mengenang Komodor Udara Husein Sastranegara, seorang pahlawan TNI Angkatan Udara.

Kini, meski penerbangan komersial reguler telah dialihkan ke Bandara Internasional Kertajati, Husein Sastranegara masih digunakan untuk keperluan militer dan penerbangan tertentu.


Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta


Bandara Halim Perdanakusuma juga termasuk salah satu bandara bersejarah di Indonesia.

Dibangun pada era kolonial Belanda sekitar tahun 1924, bandara ini awalnya dikenal sebagai Lapangan Terbang Cililitan. Setelah kemerdekaan Indonesia, namanya diubah menjadi Halim Perdanakusuma untuk mengenang pahlawan nasional dan penerbang TNI AU, Halim Perdanakusuma.

Selain melayani penerbangan militer, Halim juga beberapa kali menjadi bandara utama Jakarta sebelum berkembangnya Bandara Soekarno-Hatta.


Peran Bandara Tua dalam Sejarah Indonesia


Bandara-bandara tertua di Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai tempat lepas landas dan mendaratnya pesawat. Pada masa perjuangan kemerdekaan, bandara-bandara tersebut menjadi jalur strategis untuk mengirim logistik, pasukan, hingga bantuan internasional.

Selain itu, perkembangan bandara turut membuka akses transportasi udara yang mempercepat pertumbuhan ekonomi, perdagangan, dan pariwisata di berbagai daerah.


Masih Menjadi Bagian dari Sejarah Penerbangan


Meskipun sebagian telah digantikan oleh bandara yang lebih modern, keberadaan bandara-bandara tua tetap memiliki nilai sejarah yang tinggi.

Bangunan, landasan, dan berbagai fasilitas yang masih tersisa menjadi pengingat bagaimana dunia penerbangan Indonesia berkembang dari masa ke masa.


Bandara tertua di Indonesia menjadi saksi perjalanan panjang sejarah penerbangan nasional. Mulai dari Andir Airfield yang kini dikenal sebagai Bandara Husein Sastranegara, Lapangan Terbang Maguwo yang menjadi Bandara Adisutjipto, hingga Lapangan Terbang Cililitan yang sekarang dikenal sebagai Bandara Halim Perdanakusuma.

Ketiga bandara tersebut tidak hanya berperan dalam perkembangan transportasi udara, tetapi juga menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan dan pembangunan Indonesia.


Share This News

Comments

Newsletter

Put your email below to subscribe our latest PROMO & NEWS