Newsletter
Put your email below to subscribe our latest PROMO & NEWS
+6281-1227-7954
klien7summitstravel@gmail.com
Lukla Airport atau Tenzing-Hillary Airport dikenal sebagai gerbang utama menuju Gunung Everest. Bandara ini berada di ketinggian sekitar 2.845 meter di atas permukaan laut dan dikelilingi pegunungan Himalaya.
Yang membuatnya menantang adalah landasan pacunya yang hanya sekitar 527 meter. Salah satu ujung runway berbatasan dengan tebing curam, sementara ujung lainnya mengarah ke lereng gunung. Karena itu, pilot harus memiliki keterampilan khusus untuk mendarat di sini.
Paro merupakan satu-satunya bandara internasional di Bhutan. Lokasinya berada di tengah lembah sempit yang dikelilingi pegunungan setinggi lebih dari 5.000 meter.
Pilot harus melakukan manuver yang sangat presisi saat memasuki jalur pendaratan. Tidak semua pilot diperbolehkan menerbangkan pesawat ke Paro karena diperlukan sertifikasi dan pelatihan khusus.
Bandara ini terkenal karena letaknya yang sangat dekat dengan Pantai Maho. Saat pesawat akan mendarat, badan pesawat terlihat melintas sangat rendah di atas kepala para wisatawan yang sedang berada di pantai.
Meski terlihat menegangkan, fenomena ini justru menjadi salah satu daya tarik wisata paling terkenal di Karibia.
Madeira Airport berada di Pulau Madeira, Portugal. Lokasinya diapit oleh pegunungan dan Samudra Atlantik, sehingga sering mengalami angin silang yang cukup kuat.
Untuk mengatasi keterbatasan lahan, sebagian landasan pacu dibangun di atas struktur beton raksasa yang menjorok ke arah laut. Desain ini membuat bandara tersebut menjadi salah satu yang paling unik di dunia.
Bandara Courchevel berada di kawasan Pegunungan Alpen Prancis yang terkenal sebagai destinasi ski kelas dunia.
Runway di bandara ini memiliki panjang yang relatif pendek dan kemiringan yang cukup curam. Kondisi tersebut membuat proses pendaratan dan lepas landas menjadi lebih sulit dibandingkan bandara pada umumnya.
Barra Airport memiliki keunikan yang tidak dimiliki bandara lain. Landasan pacunya berada langsung di atas pantai berpasir.
Pesawat hanya dapat mendarat saat air laut surut. Ketika air pasang, sebagian area runway akan tertutup air sehingga operasional penerbangan harus menyesuaikan kondisi alam.
Bandara yang berada di Pulau Saba ini memiliki salah satu landasan pacu komersial terpendek di dunia, dengan panjang sekitar 400 meter.
Di sekeliling runway terdapat tebing dan lautan, sehingga pilot harus melakukan pendaratan dengan sangat hati-hati. Karena keterbatasan tersebut, bandara ini hanya melayani pesawat berukuran kecil.
Meskipun terlihat ekstrem, seluruh bandara tersebut tetap beroperasi dengan standar keselamatan yang ketat. Pilot yang bertugas biasanya menjalani pelatihan tambahan dan harus memahami karakteristik bandara secara mendalam.
Selain itu, teknologi navigasi modern dan prosedur penerbangan yang ketat membantu memastikan keselamatan setiap penerbangan.
Bagi sebagian orang, pengalaman mendarat di bandara-bandara ini bahkan menjadi petualangan yang tak kalah seru dibandingkan destinasi wisatanya.
Comments