Newsletter
Put your email below to subscribe our latest PROMO & NEWS
+6281-1227-7954
klien7summitstravel@gmail.com
Di tengah banyaknya kuliner Nusantara yang kaya rempah, Sate Klathak dari Yogyakarta justru tampil berbeda, sederhana, minimalis, tapi punya karakter yang kuat.
Buat banyak traveler, terutama yang datang ke Jogja, makan sate klathak bukan cuma soal rasa. Ini tentang pengalaman: duduk di warung sederhana, aroma daging terbakar, dan suara “klathak-klathak” dari proses memasaknya.
Di balik kesederhanaannya, ternyata ada filosofi yang cukup dalam, dan ini yang membuatnya relevan, bukan hanya untuk kuliner, tapi juga untuk cara kita melihat pengalaman dalam sebuah perjalanan.
Sate klathak adalah sate kambing khas Jogja yang berasal dari daerah Bantul, khususnya sekitar Pasar Jejeran. Yang membuatnya unik adalah satenya yang tidak menggunakan bumbu kacang atau kecap, hanya dibumbui garam dan sedikit rempah kemudian menggunakan jeruji besi (bukan tusuk bambu) sebagai alat panggang.
Nama “klathak” sendiri berasal dari suara daging yang dibakar di atas jeruji besi saat terkena api.
Kalau dilihat lebih dalam, sate klathak membawa filosofi yang cukup menarik. Kejujuran rasa, kesederhanaan proses dan fokus pada esensi dari makanan itu sendiri. Ini sangat selaras dengan budaya Jogja yang dikenal “nrimo” tapi tetap berkelas dalam caranya sendiri.
Salah satu nama yang sering disebut adalah Sate Klathak Pak Pong, yang berhasil membawa sate klathak ke level yang lebih dikenal luas. Menariknya, meskipun sudah viral dan sering didatangi wisatawan, banyak warung sate klathak tetap mempertahankan konsep lokasi yang sederhana dan tidak dibuat fancy, dengan masakan yang masih tradisional.
Comments