Newsletter
Put your email below to subscribe our latest PROMO & NEWS
+6281-1227-7954
klien7summitstravel@gmail.com
Lebaran di Jepang punya rasa yang berbeda. Bukan karena takbirnya lebih pelan atau makanannya lebih sedikit, tapi karena suasananya jauh dari mayoritas Muslim. Di negara seperti Jepang, umat Islam adalah minoritas. Tapi justru di situ letak pengalaman yang unik dan berkesan buat 7summits Travelers yang pernah atau berencana merayakan Idul Fitri di sana.
Di kota besar seperti Tokyo atau Osaka, Shalat Id biasanya dipusatkan di masjid besar atau community hall yang disewa khusus untuk momen tersebut. Salah satu masjid yang sering jadi pusat kegiatan adalah Masjid Tokyo Camii.
Suasananya ramai, tapi dengan cara yang berbeda dari Indonesia. Jemaah datang dari berbagai negara: Indonesia, Malaysia, Turki, Pakistan, Timur Tengah, sampai warga lokal Jepang yang sudah menjadi mualaf. Khutbah sering kali disampaikan dalam dua bahasa, bahkan tiga. Ada rasa global yang terasa kental.
Shaf sering meluber sampai ke luar area utama. Panitia biasanya sudah mengatur jadwal dalam beberapa sesi karena keterbatasan kapasitas. Ini bukan soal megahnya tempat, tapi soal rasa kebersamaan yang muncul di tengah keterbatasan.
Karena Idul Fitri bukan hari libur nasional di Jepang, banyak Muslim tetap harus menyesuaikan jadwal kerja atau kuliah. Ada yang ambil cuti, ada juga yang langsung berangkat kerja setelah Shalat Id.
Inilah bedanya dengan Indonesia. Tidak ada suasana kota yang sepi total atau jalanan kosong karena mudik. Aktivitas publik tetap berjalan normal. Kereta tetap penuh. Toko tetap buka. Tapi di dalam komunitas Muslim, suasana hangat tetap terasa.
Lebaran di Jepang terasa lebih personal dan intim. Tidak terlalu hingar-bingar, tapi justru membuat momen ibadah terasa lebih dalam.
Tidak ada ketupat di setiap rumah, tapi komunitas Indonesia biasanya tetap mengadakan acara makan bersama. Beberapa restoran halal di Tokyo dan Osaka juga menyiapkan menu spesial Lebaran.
Kadang acara halal bihalal dilakukan di taman atau aula kecil. Makanan dibawa potluck. Rendang berdampingan dengan kebab Turki dan nasi biryani. Lebaran berubah jadi ruang pertemuan lintas budaya.
Buat 7summits Travelers yang tinggal atau bekerja di Jepang, momen ini sering jadi obat rindu kampung halaman.
Merayakan Lebaran di negara minoritas Muslim seperti Jepang mengajarkan satu hal penting: esensi Idul Fitri bukan pada keramaian, tapi pada makna kembali ke fitrah.
Tidak ada suara takbir keliling yang menggema di setiap sudut kota. Tidak ada tradisi sungkeman besar-besaran. Tapi ada rasa syukur yang lebih terasa karena harus diperjuangkan.
Bagi 7summits Travelers yang sedang mempertimbangkan tinggal, studi, atau bahkan liburan panjang saat Ramadan dan Lebaran di Jepang, pengalaman ini bukan sekadar perjalanan geografis. Ini perjalanan emosional dan spiritual.
Dan justru di negeri yang tidak mayoritas Muslim, rasa kebersamaan itu terasa lebih kuat.
Ayo temuin paket paket-paket tour murah di 7summitstravel.com atau kamu bisa custom serta konsultasi gratis terkait tour kamu lewat whatsapp kami di nomor 0811-2277-954
Comments