Newsletter
Put your email below to subscribe our latest PROMO & NEWS
+6281-1227-7954
klien7summitstravel@gmail.com
Sahur biasanya identik dengan makan sebelum subuh dalam suasana tenang. Namun di beberapa negara, sahur justru menjadi tradisi budaya yang hidup dan penuh warna. Bukan sekadar bangun untuk makan, tetapi juga momentum sosial yang memperlihatkan identitas lokal.
Bagi 7summits Travelers yang ingin melihat Ramadan dari perspektif lintas budaya, beberapa negara ini memiliki tradisi sahur paling unik di dunia.
Di Turki, tradisi penabuh drum sahur atau “Ramazan davulcusu” sudah berlangsung sejak era Kesultanan Utsmaniyah. Para penabuh drum berjalan keliling lingkungan pada dini hari untuk membangunkan warga.
Di kota seperti Istanbul, tradisi ini masih bertahan hingga sekarang meskipun alarm digital sudah umum digunakan. Suasana sahur terasa lebih komunal karena warga sadar mereka dibangunkan oleh tradisi yang sama.
Di Maroko, terdapat sosok bernama “Nafar” yang berkeliling membawa terompet tradisional untuk membangunkan warga sahur. Tradisi ini masih bisa ditemui di beberapa kota tua seperti Fes.
Nafar biasanya mengenakan pakaian tradisional dan menjadi simbol Ramadan yang khas. Ini bukan hanya fungsi membangunkan, tetapi juga bagian dari warisan budaya yang terus dijaga.
Di Mesir, tradisi sahur dikenal dengan “Musaharati”. Seseorang akan berjalan di gang-gang sambil menabuh drum kecil dan memanggil nama warga agar bangun sahur.
Di kota seperti Kairo, tradisi ini menghadirkan nuansa nostalgia yang kuat. Musaharati sering kali sudah dikenal warga setempat, sehingga ada kedekatan emosional yang terbentuk setiap Ramadan.
Di Indonesia, terutama di berbagai kota besar, tradisi sahur keliling menjadi fenomena unik. Sekelompok warga atau pemuda berkeliling sambil membawa alat musik sederhana, pengeras suara, atau bahkan membuat arak-arakan kecil untuk membangunkan masyarakat.
Walaupun di beberapa daerah sudah diatur agar tetap tertib, tradisi ini tetap menjadi bagian dari memori kolektif Ramadan di Indonesia. Sahur terasa lebih ramai dan penuh semangat kebersamaan.
Di Pakistan, beberapa wilayah masih menggunakan meriam atau sinyal suara keras sebagai penanda waktu sahur dan berbuka. Tradisi ini memiliki akar sejarah yang panjang dan menjadi simbol resmi dimulainya waktu puasa.
Suara tersebut menjadi penegas waktu sekaligus simbol bahwa Ramadan memiliki ritme tersendiri dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Tradisi sahur di berbagai negara menunjukkan bahwa Ramadan tidak hanya dijalani secara personal, tetapi juga kolektif. Ada unsur sejarah, seni, dan komunitas yang menyatu dalam praktik sederhana membangunkan orang sebelum subuh.
Bagi 7summits Travelers yang melihat perjalanan sebagai pengalaman budaya, tradisi sahur ini membuka perspektif baru. Ramadan bukan hanya tentang waktu berpuasa, tetapi tentang bagaimana masyarakat di berbagai belahan dunia merayakan kebersamaan dengan cara yang unik dan berakar kuat pada identitas mereka.
Ayo temuin paket paket-paket tour murah di 7summitstravel.com atau kamu bisa custom serta konsultasi gratis terkait tour kamu lewat whatsapp kami di nomor 0811-2277-954
Comments