Newsletter
Put your email below to subscribe our latest PROMO & NEWS
+6281-1227-7954
klien7summitstravel@gmail.com
“Ini nggak kelihatan seperti India sama sekali.”
Kalimat seperti itu sering muncul saat foto danau Udaipur, kota-kota tertata di Asia, atau lanskap hijau di negara berkembang beredar di media sosial. Sekilas terdengar sebagai pujian, namun sebenarnya menyimpan asumsi lama bahwa keindahan, keteraturan, dan kemajuan hanya sah jika menyerupai Barat. Dari sinilah julukan seperti “Venice of the East” lahir dan terus dipakai dalam dunia pariwisata hingga hari ini.
Bagi 7summits travelers, bahasa perjalanan bukan sekadar kata-kata promosi. Ia membentuk cara kita memandang suatu tempat, bahkan sebelum kita benar-benar menginjakkan kaki di sana.
Julukan “Venice of the East”, “Paris of Asia”, atau “lost civilisation” berasal dari era kolonial, ketika destinasi non-Barat diperkenalkan ke dunia melalui perbandingan dengan kota-kota Eropa. Tujuannya sederhana: membuat tempat asing terasa akrab bagi pembaca Barat. Namun konsekuensinya panjang.
Alih-alih berdiri dengan identitas sendiri, sebuah kota seolah hanya layak diapresiasi jika bisa dibandingkan dengan Barat. Ketika Udaipur disebut “Venice of the East”, fokusnya bukan lagi pada sejarah kerajaan Rajasthan, sistem danau tradisional, atau budaya lokalnya, melainkan pada seberapa mirip ia dengan Venesia. Bahasa ini secara halus menempatkan Barat sebagai standar, dan tempat lain sebagai turunan atau versi alternatif.
Istilah luas seperti “Global South” pun sering bekerja dengan cara serupa menyatukan wilayah yang sangat beragam ke dalam satu label kabur, menghapus detail, konteks, dan perbedaan yang justru menjadi kekuatannya.
Dalam pariwisata modern, cara pandang seperti ini mulai dipertanyakan. Travelers tidak lagi hanya mencari destinasi “mirip” tempat lain, melainkan pengalaman yang autentik dan berakar pada konteks lokal. Udaipur tidak perlu Venesia untuk menjadi indah, begitu pula kota-kota di Asia, Afrika, atau Amerika Latin yang selama ini dipasarkan lewat metafora Barat.
Bagi 7summits travelers, meninggalkan julukan klise membuka ruang untuk perjalanan yang lebih jujur. Ketika kita berhenti membandingkan, kita mulai benar-benar mendengarkan: bagaimana sebuah kota tumbuh, bagaimana warganya hidup, dan apa makna tempat itu bagi mereka sendiri. Di titik inilah perjalanan berubah dari konsumsi visual menjadi pengalaman kultural.
Julukan seperti “Venice of the East” mungkin pernah membantu dunia mengenal tempat-tempat baru. Namun hari ini, bahasa itu terasa semakin usang. Dunia pariwisata bergerak menuju cara bercerita yang lebih setara, di mana setiap destinasi dihargai bukan karena kemiripannya dengan tempat lain, tetapi karena identitasnya sendiri.
Bagi travelers yang ingin melampaui klise, mungkin inilah saatnya bertanya: apakah kita benar-benar ingin melihat dunia, atau hanya mencari pantulan dari apa yang sudah kita kenal?
Ayo temuin paket paket-paket tour murah di 7summitstravel.com atau kamu bisa custom serta konsultasi gratis terkait tour kamu lewat whatsapp kami di nomor 0811-2277-954
Comments