Whatsapp

+6281-1227-7954

klien7summitstravel@gmail.com

Blog Image

28

Jan

Kenapa Sih Wisatawan Rela Antri untuk Makanan Viral?



Di banyak kota dunia, pemandangan antrean panjang di depan kios makanan kini menjadi hal yang lumrah. Dari croissant viral di Paris hingga kentang goreng di kanal Amsterdam, makanan sederhana bisa berubah menjadi destinasi wisata tersendiri. Fenomena ini bukan lagi soal rasa semata, melainkan tentang pengalaman, eksistensi digital, dan dorongan untuk ikut dalam tren global.


Bagi 7summits travelers, momen melihat wisatawan berpose sambil memegang makanan di depan latar ikonik sudah menjadi bagian dari lanskap kota modern. Kamera ponsel terangkat, antrean bergerak perlahan, dan satu camilan menjadi simbol “aku pernah ke sini”. Di balik semua itu, ada dinamika sosial yang membuat makanan viral terus menarik orang untuk datang dan menunggu.


FOMO, Media Sosial, dan Budaya Pamer Pengalaman

Para pakar pariwisata dan perilaku konsumen menyebut FOMO (fear of missing out) sebagai salah satu pendorong utama. Ketika satu makanan muncul berulang kali di TikTok atau Instagram, otak kita mulai menganggapnya sebagai pengalaman wajib. Antrean panjang justru memperkuat persepsi bahwa makanan tersebut “layak ditunggu”, menciptakan apa yang dikenal sebagai social proof.


Contohnya terlihat jelas di Amsterdam, di mana wisatawan rela mengantre di jembatan Keizersgracht hanya untuk memegang cone kentang goreng bermerek terkenal dengan latar kanal abad ke-17. Aktivitas ini bukan sekadar makan, tetapi performa visual: sudut foto, latar ikonik, dan bukti kehadiran yang bisa dibagikan secara instan. Makanan menjadi alat narasi perjalanan, bukan tujuan akhir.


Dari Camilan Biasa ke Ikon Wisata Kota

Menariknya, banyak makanan viral sebenarnya sederhana dan terjangkau. Namun kombinasi lokasi strategis, cerita brand, dan momentum digital mengubahnya menjadi ikon wisata. Kota-kota pun tanpa sadar mengalami dampaknya: keramaian terkonsentrasi di satu titik, ruang publik berubah fungsi, dan ritme lokal ikut menyesuaikan.

Bagi 7summits travelers, fenomena ini mengajak refleksi tentang cara kita bepergian hari ini. Apakah perjalanan tentang eksplorasi rasa dan budaya lokal, atau tentang mengoleksi momen yang bisa divalidasi secara sosial? Makanan viral mungkin tidak selalu menawarkan pengalaman kuliner terbaik, tetapi ia mencerminkan wajah baru pariwisata global—di mana antrean, kamera, dan rasa ingin ikut menjadi satu paket pengalaman.



Share This News

Comments

Newsletter

Put your email below to subscribe our latest PROMO & NEWS