TOUR PACKAGE

Mobile: +6281322379153 (also whatsapp) | Mail: marketing@7summitstravel.com

SERUNYA BERWISATA KOTA DI BANDUNG

HEY TRAVELISTA!

Gak cuma objek wisata alam saja lho ada di Kota Kembang ini, main-main juga ke pusat kotanya yuk..! Kamu bisa berkunjung ke beberapa museum bersejarah juga shopping sepuasnya di beberapa Factory Outletnya :) check this out!!

1. Taman Makam Pahlawan Cikutra

Taman Makam Pahlawan Cikutra adalah komplek pemakaman bagi pejuang dan tentara di Kota Bandung. Pemakaman ini berlokasi di Kelurahan Cikutra, Cibeunying Kidul, Bandung, di bagian timur laut kota. Adapun Tokoh-Tokoh yang dimakamkan di TMP Cikutra:

  • Ernest Dewes Dekker
  • Abdul Muis
  • Alex Evert Kawilarang

Jangan sekali-kali bangsa ini melupakan sejarah (Deklarator RI) atau lebih terkenal dengan slogan “Jas Merah”. Sejarah bangsa ini dibangun oleh keringat, darah dan air mata para pejuang kita di masa lampau untuk membebaskan negeri ini dari belenggu penjajahan kolonialisme bangsa asing. Merekalah para pahlawan yang telah gugur mendahului kita dan rela mengorbankan segalanya demi kemerdekaan bumi pertiwi.

Mengenang Para Pahlawan

Kini, mereka tengah menyaksikan anak cucunya mengelola negeri ini dalam kebisuan. Mereka terbaring lemah di keabadian. Mereka disimbolkan dengan nisan-nisan yang kelu dan tak pernah bicara. Rumahnya bercat putih, beratapkan tanah. Para pahlawan itu kini sudah tenang di pusaranya masing-msaing. Kita sebagai anak cucunya hanya bisa melongoknya dari kejauhan diatas pusaranya. Untuk mengenangnya sesekali cobalah untuk pergi ke rumah mereka, salah satunya: Taman Makam Pahlawan Cikutra.

Taman makam ini merupakan kompleks pemakaman khusus bagi para pejuang dan tentaraKota Bandung yang gugur. Taman makam pahlawan ini dibangun pada tahun 1958. Dari kejauhan, tugu pahlawan sudah nampak seolah menyambut setiap peziarah yang datang berupa dua benteng kokoh. Sebuah tembok besar memanjang di pinggir lapangan yang berada di tengah-tengah lokasi makam.

Di dalam taman itu berderet rapi makam pahlawan dengan nisan berwarna putih. Pohon-pohon pinus membagi makam menjadi dua bagian. Jalan dengan lebar kurang lebih sepuluh meter menjembatani antara blok satu dengan blok lainnya.

Di tengah lapangan, bendera di sebuah tugu, merah putih berkibar setengah tiang. Membelakangi sebuah tugu yang baru dibangun 2005 lalu. Lapangan inilah yang biasa digunakan untuk upacara. Seperti pada hari-hari besar nasional, Hari Pahlawan 10 November, HUT RI, 17 Agustus atau pada 5 Oktober.

2. Museum Geologi Bandung

Museum Geologi letaknya di Jalan Diponegoro, tidak jauh dari Gedung Sate Museum ini didirikan pada tanggal 16 Mei 1928 dan telah direnovasi dengan dana bantuan dari JICA (Japan International Cooperation Agency). Disini dapat diperoleh berbagai informasi yang berhubungan dengan ilmu geologi. Diantara benda-benda yang menjadi koleksinya adalah fosil tengkorak manusia pertama di dunia, fosil-fosil kerangka binatang pra-sejarah, batu bintang seberat 156 kg yang jatuh pada 30 Maret 1884 di Jatipelangon, Madiun. Sebagai sebuah monumen bersejarah, museum ini dianggap sebagai peninggalan nasional dan berada dibawah perlindungan pemerintah. Museum ini menyimpan dan mengelola materi geologi yang berlimpah, seperti fosil, batuan, mineral, yang dikumpulkan selama kerja lapangan di Indonesia sejak 1850.

Museum geologi awalnya berfungsi sebagai laboratorium dan tempat penyimpanan hasil penyelidikan geologi dan pertambangan dari berbagai wilayah Indonesia lalu berkembang lagi sebagai sarana pendidikan, penyedia berbagai informasi tentang ilmu kebumian dan objek pariwisata. Pergeseran fungsi museum seirama dengan kemajuan teknologi adalah menjadikan museum geologi sebagai:

  • Tempat pendidikan luar sekolah yang berkaitan dengan bumi dan usaha pelestariannya.
  • Tempat orang melakukan kajian awal sebelum penelitian lapangan. Dimana Museum Geologi sebagai pusat informasi ilmu kebumian yang menggambarkan keadaan geologi bumi Indonesia dalam bentuk kumpulan peraga.
  • Objek geowisata yang menarik.

Museum ini buka dari Senin hingga Kamis antara jam 09.00-15.00 WIB, sedangkan Sabtu dan Minggu setiap pukul 09.00-13.00 WIB. Khusus hari Jumat dan hari libur nasional tutup. “Museum ini tutup karena kami juga perlu merawat benda-benda koleksi disini.” Museum Geologi terbagi menjadi beberapa ruang pamer yang menempati lantai I dan II.

Lantai I

Terbagi menjadi 3 ruang utama: Ruang orientasi di bagian tengah, Ruang Sayap Barat dan Ruang Sayap Timur.

Ruang Orientasi

Berisi peta geografi Indonesia dalam bentuk relief layar lebar yang menayangkan kegiatan geologi dan museum dalam bentuk animasi, bilik pelayanan informasi museum serta bilik pelayanan pendidikan dan penelitian.

Ruang Sayap Barat

Dikenal sebagai Ruang Geologi Indonesia, yang terdiri dari beberapa bilik yang menyajikan informasi tentang:

  • Hipotesis terjadinya bumi di dalam sistem tata surya.
  • Tatanan tektonik regional yang membentuk geologi Indonesia; diujudkan dalam bentuk maket model gerakan lempeng-lempeng kulit bumi aktif.
  • Keadaan geologi sumatera,Jawa, Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara serta Irian Jaya.

Selain maket dan panel-panel informasi, masing-masing bilik di ruangan ini juga memamerkan beragam jenis batuan (beku, sedimen, malihan) dan sumber daya mineral yang ada di setiap daerah.Dunia batuan dan mineral menempati bilik di sebelah baratnya, yang memamerkan beragam jenis batuan, mineral dan susunan kristalografinya dalam bentuk panel dan peraga asli. Masih di dalam ruangan yang sama, dipamerkan kegiatan penelitian geologi Indonesia termasuk jenis-jenis peralatan/perlengkapan lapangan, sarana pemetaan dan penelitian serta hasil akhir kegiatan seperti peta (geolologi, geofisika, gunung api, geomorfologi, seismotektonik dan segalanya) dan publikasi-publikasi sebagai sarana pemasyarakan data dan informasi geologi Indonesia.

Ujung ruang sayap barat adalah ruang kegunung apian, yang mempertunjukkan keadaan beberapa gunung api aktif di Indonesia seperti: Tangkuban Perahu, Krakatau, Galunggung, Merapi dan Batu. Selain panel-panel informasi ruangan ini dilengkapi dengan maket kompleks Gunung Api Bromo-Kelut-Semeru. Beberapa contoh batuan hasil kegiatan gunung api tertata dalam lemari kaca.

Ruang Sayap Timur

Ruangan yang mengambarkan sejarah pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup, dari primitif hingga moderen, yang mendiami planet bumi ini dikenal sebagai ruang sejarah kehidupan.

Lantai II

Terbagi menjadi 3 ruangan utama: ruang barat, ruang tengah dan ruang timur.

Ruang Barat: dipakai oleh staf museum.

Sementara ruang tengah dan ruang timur di lantai II yang digunakan untuk peragaan dikenal sebagai ruang geologi untuk kehidupan manusia.

Ruang Tengah

Berisi maket pertambangan emas terbesar di dunia, yang terletak di Pegunungan Tengan Irian Jaya. Tambang terbuka Gransberg yang mempunyai cadangan sekitar 1,186 milyar ton; dengan kandungan tembaga 1,02%, emas 1,19 gram/ton dan perak 3 gram/ton. Gabungan beberapa tambang terbuka dan tambang bawahtanah aktif di sekitarnya memberikan cadangan bijih sebanyak 2,5 milyar ton. Bekas Tambang Ertsberg (Gunung Bijih) di sebelah tenggara Grasberg yang ditutup pada tahun 1988 merupakan situs geologi dan tambang yang dapat dimanfaatkan serta dikembangkan menjadi objek geowisata yang menarik. Beberapa contoh batuan asal Irian Jaya (Papua) tertata dan terpamer dalam lemari kaca di sekitar maket. Miniatur menara pemboran minyak dan gas bumi juga diperagakan di sini.

Ruang Timur

Terbagi menjadi 7 ruangan kecil, yang kesemuanya memberikan informasi tentang aspek positif dan negatif tataan geologi bagi kehidupan manusia, khususnya di Indonesia.

3. Gedung Sate Bandung (Kantor Gubernur Jawa Barat)

Bangunan gedung ini dirancang arsitek Ir J. Berger dari Landsgeboundienst, dinas pembangunan gedung-gedung pemerintah Negeri Belanda. Dibutuhkan tenaga hingga 2.000 orang pekerja. Di antara ribuan pekerja itu, terdapat lebih kurang 150 Cina Konghu atau Kanton, tukang kayu dan pemahat batu yang trampil di negerinya. Arsitek Belanda, Dr. Hendrik Petrus Berlage, menyebut bahwa Gedung Sate beserta rancangan kompleks Pusat Perkantoran Instansi Pemerintahan Sipil Hindia Belanda di Bandung merupakan sebuah karya besar. Sementara Coor Passchier dan Jan Wittenberg, dua arsitek Belanda yang menginventarisir bangunan kolonial di Bandung, menyebut Gedung Sate sebagai sebagai bangunan monumental yang anggun mempesona, serta memiliki gaya arsitektur yang unik, dan gigantik.

Gedung Sate sendiri sebenarnya hanya bagian kecil atau sekira 5% dari “Kompleks Pusat Perkantoran Insatansi Pemerintah Sipil” Hindia Belanda yang menempati lahan Bandung Utara seluas 27.000 meter persegi. Oleh penduduk tempo dulu “Gedong Sate” dinamai “Gedong Bebe” yang kemudian lebih populer dengan “Gedung Sate” karena di puncak menara gedung tersebut terdapat “tusuk sate” dengan 6 buah ornamen berbentuk jambu air.

4. Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat

Monumen ini terletak di sebelah utara Gedung Sate Bandung. Jika kita berada di plaza monumen tersebut, secara garis lurus, kita dapat melihat dengan jelas bangunan Gedung Sate. Antara monumen dan Gedung sate,  terdapat Taman Kota, Jl. Surapati, Lapangan Gasibu, dan Jl. Diponegoro. Monumen ini dekat juga dengan Kampus Universitas Padjajaran di Jalan Dipati Ukur Bandung. Di sebelah barat dari monumen ini berdiri tegak Gedung Telkom Indonesia, dan di sebelah timur berdiri Gedung Pertamina Indonesia.

Banyak aktivitas yang sering dilakukan di monumen ini. Selain sebagai titik massa untuk berkumpul sebelum dan sesudah aksi dalam berbagai isu tuntutan, di monumen ini sering pula diadakan acara-acara hiburan. Seperti pasar malam, acara dangdut, dan acara-acara lain yang diselenggarakan oleh salah satu stasiun televisi di negeri ini. Bila sore hari, pada setiap harinya di sekitar monumen ini selalu ada atraksi motor dan tak ketinggalan balap motor juga sering diadakan. Aktivitas yang kebanyakan dilakukan oleh kaum muda ini ada yang bermain skateboard, latihan marching band, latihan menari, dan sepak bola.

Di monumen ini terdapat relief-relief mengenai perjuangan rakyat Jawa Barat dalam melawan penjajah. Kedua pintu besi yang menuju ke sebuah ruang di bawah monumen, dan seharusnya di ruangan itu terdapat perpustakaan, diorama perjuangan rakyat Jawa Barat, dan auditorium. Tetapi dari berdirinya monumen itu, sekitar tahun 1996 sampai sekarang, belum dibuka. Palem botol yang tinggi berjajar menghubungkan antara monumen dan Jalan Surapati, cukup menghadirkan susasana monumental. Taman kota yang merupakan public space ini, lumayan bisa meredam karbondioksida dan dapat menampung segala aktivitas masyarakat. Namun sayang, aksi vandalisme masih bisa terlihat di sini. Kesadaran masyarakat kiranya masih perlu ditingkatkan, demi keindahan sebuah karya.

5. Kebun Binatang Bandung

Terletak di Jl. Tamansari. Kebun Binatang Bandung ini pada awalnya dikenal dengan nama Derenten (dalam bahasa sunda, dierentuin) yang artinya kebun binatang. Kebun Binatang Bandung didirikan pada tahun 1930 oleh Bandung Zoological Park (BZP), yang dipelopori oleh Direktur Bank Dennis, Hoogland. Pengesahan pendirian Kebun Binatang ini diwenangi oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan pengesahannya dituangkan pada keputusan 12 April 1933 No.32. Pada saat Jepang menguasai daerah ini, tempat wisata ini kurang terkelola, hingga pada tahun 1948, dilakukan rehabilitasi untuk mengembalikan fungsi tempat wisata ini. Pada tahun 1956, atas inisiatif dari R. Ema Bratakoesoema, Bandung Zoological Park dibubarkan dan berganti menjadi Yayasan Marga Satwa Tamansari pada tahun 1957.

6. Taman Ganesha Bandung

Adalah sebuah taman kota yang terletak di Jalan Ganesha – Bandung, persis di depan Kampus Institut Teknologi Bandung. Dari segi ukuran, taman ini tidak begitu luas namun sangat asri karena berbagai tumbuhan yang ada di taman dan sekitarnya. Taman dilengkapi dengan banyak tempat duduk yang dapat digunakan untuk refreshing khususnya di siang hari. Karena lokasinya tidak jauh dari Kebun Binatang Bandung, taman ini sering digunakan oleh para pengunjung kebun binatang untuk beristirahat bersama keluarga sambil menikmati makan siang.

Di sekitar taman tumbuh pepohonan yang tinggi yang dihuni oleh beraneka ragam burung. Memang, kawasan Jalan Ganesha diperuntukkan bagi konservasi beraneka ragam burung sehingga tidak satu pun burung yang ada diperbolehkan untuk diburu.

Bagi yang ingin berkuda sambil berkeliling taman, di sekitar taman terdapat banyak sekali penyewaan kuda. Bagi anak kecil dapat didampingi oleh sang pemilik kuda, atau bagi yang sudah berani berkuda sendiri dapat melakukannya tanpa didampingi sang pemilik kuda. Bagi keluarga yang ingin beramai-ramai menikmati taman dapat menyewa dokar yang dikendalikan oleh sang pemilik dokar.

7. Taman Lansia Bandung

Taman Lansia adalah sebuah taman kota yang terletak di sebelah kanan Gedung Sate Bandung. Merupakan sarana refreshing dan istirahat bagi warga kota Bandung maupun warga luar Bandung yang sedang berkunjung ke kota Bandung.

Di sekitar taman terdapat beberapa tempat yang menyajikan berbagai penganan dan makanan. Sebut saja Youghourt Cisangkuy, merupakan tempat yang cukup tersohor bagi kalangan warga Jakarta. Ada juga kios yang menyediakan surabi dengan berbagai macam rasa, mulai dari rasa keju, coklat, susu, pisang, dan lain-lain. Seringkali ada mobil keliling yang menjajakan beraneka barang pecah belah dan kerajinan keramik.

Bagi yang ingin berkuda sambil berkeliling taman, di sekitar taman terdapat banyak sekali penyewaan kuda. Bagi anak kecil dapat didampingi oleh sang pemilik kuda, atau bagi yang sudah berani berkuda sendiri dapat melakukannya tanpa didampingi sang pemilik kuda. Bagi keluarga yang ingin beramai-ramai menikmati taman dapat menyewa dokar yang dikendalikan oleh sang pemilik dokar.

8. Pusat Sepatu dan Tas Cibaduyut

Diantara Anda pasti sudah banyak yang tahu dan familiar dengan nama Cibaduyut Bandung. Benar sekali, Cibaduyut merupakan salah satu daerah yang menjadi pusat kerajinan sepatu dan tas di Jawa Barat yang sangat terkenal. Bisa Anda saksikan sendiri di sepanjang jalan Cibaduyut tersebut kita bisa melihat berjejeran toko-toko yang memajang dagangan dengan didominasi tas dan sepatu.

Apalagi jika Anda masuk ke dalamnya, maka akan ditemukan lebih banyak lagi pertokoan tas dan sepatu. Meskipun namanya pusat sepatu dan tas namun yang dijual barangnya beraneka ragam seperti jaket kulit, tas kulit, dompet, ikat pinggang, boneka, sandal, tas gendong dan aksesoris lainnya. Keseluruhan barang-barang tersebut diproduksi oleh masyarakat lokal yang memang terkenal dengan kerajianan tangan dan keterampilannya.

Terpanjang di Dunia

Pusat sepatu dan tas Cibaduyut disebut-sebut sebagai pusat penjualan sepatu yang terpanjang di dunia. Pertama kali diresmikan pada tahun 1989 oleh Presiden Soeharto dan langsung dijadikan sebagai daerah tujuan wisata. Sampai-sampai Cibaduyut dikenal sebagai sentra kerajinan tangan yang cukup terkenal di Indonesia. Bahkan beberapa hasil kerajinannya seperti sepatu dan tas ada yang diekspor.

Namun sayang, seiring dengan perkembangan zaman dimana factory outlet makin menjamur, pamor Cibaduyut sebagai pusat kerajinan lokal pun mulai memudar. Sampai-sampai banyak pedagang dan penjual sepatu, tas dan lainnya yang gulung tikar akibat kalah bersaing dengan FO tersebut. Kebanyakan pelanggan berpindah ke FO yang menggila jumlahnya.

Namun, agaknya belakangan ini Cibaduyut kembali bergeliat, toko-toko sepatu mulai kembali ramai pengunjung, terutama hari libur seperti sekarang ini. Terlihat sangat ramai sekali sepanjang jalan Cibaduyut dipadati oleh para pengunjung/wisatawan baik dari dalam dan luar kota, bahkan tidak jarang terlihat wisatawan dari luar negeri. Bus-bus pariwisata dan mobil travel memadati tiap lahan parkir toko sepatu di Cibaduyut dan tidak jarang pula kendaraan-kendaraan tersebut mencari lahar parkir sampai ke dekat gedung TVRI Bandung karena tidak tersedianya lahan parkir yang memadai.

Dua buah patung sepatu besar laki-laki dan perempuan yang berdiri kokoh di dekat Terminal Leuwi Panjang, merupakan pintu gerbang menuju kawasan wisata ini dan sekaligus ciri khas yang akan selalu terekam dalam memori siapapun yang berkunjung dan melihatnya. Luas areal kawasan belanja Cibaduyut yang mencapai 14 kilometer meliputi lima kelurahan di Kota Bandung dan tiga kelurahan di Kabupaten Bandung ini, kini memiliki ratusan bahkan ribuan pengrajin sepatu dan sandal yang tersebar di daerah tersebut.

9. Museum Pos Indonesia Bandung

Keberadaan Museum Pos Indonesia yang berlokasi tidak jauh dari Gedung Sate (Jl. Cilaki No. 73 Bandung – 40115), tidak terlepas dari perjalanan sejarah Perusahaan Pos di Indonesia. Museum ini hadir sejak zaman Hindia Belanda, tepatnya pada tahun 1933 dengan nama Museum PTT (Pos Telegrap dan Telepon) dan menempati bagian sayap kanan bawah gedung kantor PTT . Bangunan museum ini dibangun pada tanggal 27 Juli 1920 dengan luas bangunan 706 m2 dan dirancang oleh arsitek Ir. J. Berger dan Leutdsgebouwdienst dengan gaya arsitektur Italia masa Renaissance sebagai sebuah tempat yang mengoleksi perangko-perangko dari berbagai negara.

Fasilitas:

  • Benda Koleksi Museum
  • Koleksi sejarah
  • Koleksi Filateli
  • Peralatan
  • Ruang Pameran

Keberadaan Museum Pos Indonesia yang berlokasi tidak jauh dari Gedung Sate, tidak terlepas dari perjalanan sejarah Perusahaan Pos di Indonesia. Museum ini hadir sejak zaman Hindia Belanda, tepatnya pada tahun 1933 dengan nama Museum PTT (Pos Telegrap dan Telepon) dan menempati bagian sayap kanan bawah gedung kantor PTT . Bangunan museum ini dibangun pada tanggal 27 Juli 1920 dengan luas bangunan 706 m2 dan dirancang oleh arsitek Ir. J. Berger dan Leutdsgebouwdienst dengan gaya arsitektur Italia masa Renaissance sebagai sebuah tempat yang mengoleksi perangko-perangko dari berbagai negara.

Meletusnya Perang Dunia II pada akhir tahun 1941, pendudukan Jepang, dan pergerakan revolusi menyebabkan Museum PTT tidak terperhatikan; bahkan keberadaannya pun nyaris terlupakan.

Untuk dapat menjalankan fungsinya kembali sebagaimana layaknya sebuah museum, pada tahun 1980 Direksi Perum Pos dan Giro membentuk suatu kepanitiaan untuk menghidupkan kembali keberadaan Museum PTT. Maka, bertepatan dengan hari bakti Postel ke-38, pada tanggal 27 September 1983, Museum ini dibuka secara resmi oleh menteri Pariwisata dan Telekomunikasi, Achmad Tahir dan diberi nama Museum Pos dan Giro.

Sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis Perum Pos dan Giro, Museum Pos dan Giro mengoleksi sejumlah benda yang memiliki nilai sejarah dalam perjalanan Perusahaan Pos Indonesia sejak masa Hindia Belanda, masa pendudukan Jepang, masa kemerdekaan, hingga sekarang ini, baik dalam bentuk foto, maket, lukisan, katalog, dan peralatan pos lainnya.

Sejalan dengan perjalanan dan perkembangan perusahaan pos, terhitung tanggal 20 Juni 1995 nama dan status perusahaan berubah dari Perusahaan Umum Pos dan Giro menjadi PT. Pos Indonesia (persero), maka nama Museum Pos dan Giro pun berubah menjadi Museum Pos Indonesia. Peran dan fungsi yang dijalankan oleh Museum Pos Indonesia selanjutnya adalah disamping sebagai tempat koleksi, juga mencakup fungsi sarana penelitian, pendidikan, dokumentasi, layanan informasi, serta sebagai objek wisata khusus.

Museum Pos Indonesia dibuka untuk umum secara cuma-cuma setiap harinya mulai pukul 09.00–16.00 WIB kecuali hari libur nasional. Sebelum mencapai pintu masuk museum, terdapat sebuah patung berukuran setengah badan, yaitu patung Bapak PTT. RI Almarhum Mas Soeharto yang dibuat pada tahun 1983 oleh seniman kondang Ad. Pirous.

10. Taman Ade Irma Suryani Nasution (Taman Lalu Lintas)

Bandung memang terkenal dengan sebutan Kota Taman (1936). Wajar disebut demikian karena mengacu pada konsep yang diusungnya yakni kota taman (garden city), sebabnya Bandung memiliki banyak taman dan lahan terbuka. Konsep taman kota ala Bandung ini menarik dan modern karena mirip dengan konsep kota yang dianut banyak negara-negara di Eropa sana.  Nah, sayangnya dari sekian banyak lahan dan taman kota yang luas itu, kini hanya tersisa seadanya saja. Ia hilang atau beralih fungsi, terutama terjadi pada taman yang memiliki ukuran mini. Dulunya, merupakan tanah kosong yang kemudian dijadikan sebagai Insulindepark. Ketika itu, masih berbentuk rawa, yang kemudian dikeringkan dan dijadikan sebagai lapangan untuk kegiatan militer (1915-1919). Lokasi itu juga dikelilingi dengan pepohonan. Pula bahwa lapangan itu dijadikan sebagai Taman Tropis yang ditumbuhi dengan berbagai macam tumbuhan tropis.

Taman Tropis itu kemudian diberi nama Insulinedpark pada medio 1925. Taman ini sepuluh tahun kemudian diperkirakan mempunyai sampai 90 jenis tanaman keras dan bunga-bungaan. Nah, pada April 1950 nama taman ini kemudian diganti menjadi Taman Nusantara, dan diganti lagi menjadi Taman Lalu Lintas pada Maret 1958. Selain sebagai taman rekreasi, Taman Lalu Lintas juga merupakan sarana untuk pendidikan informal dalam menanamkan etika berlalu lintas khususnya bagi anak-anak di Bandung.

Seiring berjalannya waktu, nama taman ini pun kembali diganti menjadi Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani (Jl. Belitung No. 1, Bandung– 40113, Jawa Barat, Indonesia) untuk mengenang pahlawan  cilik puteri dari pahlawan nasional Abdul Haris Nasution. Sebagaimana diketahui, Ade Irma harus gugur tertembak pada peristiwa Gerakan 30 SPKI ketika para pemberontak mencoba untuk menculik ayahnya yang terjadi pada tahun 1965.

Pembentukan Badan Keamanan Lalu Lintas (BKLL), yang dikelola kepolisian Jawa Barat pada tahun 1958, merupakan upaya penanggulangan masalah kenakalan remaja yang mulai terasa sejak awal tahun 1950-an. Taman Lalu Lintas dibangun sebagai wadah perehabilitasian para remaja berandal di Bandung.

Fasilitas:

  • Sarana mainan
  • Rambu-rambu lalu lintas
  • Taman bunga
  • Gedung serbaguna
  • Panggung terbuka
  • Mushola
  • Fasilitas pendidikan

11.   Museum Mandala Wangsit Siliwangi

Bangunan ini dibangun sekitar tahun 1910, dengan fungsi semula adalah Militaire Akademie Bandung, saat ini bangunan ini difungsikan menjadi museum yaitu Museum Madala Wangsit Siliwangi. Museum Mandala Wangsit Siliwangi yang terletak di Jl Lembong 38 Bandung ini, memiliki areal seluas 4176 m2 dan luas bangunan 1674 m2, menempati sebuah gedung yang pernah digunakan sebagai markas Divisi Siliwangi yang pertama di Kota Bandung (Staf Kwartier Territorium III Divisi Siliwangi) pada tahun 1949-1950 yang berlokasi di Oude Hospital Weg (sekarang jalan lembong). Sebagai markas militer, pada tanggal 23 Januari 1950 gedung ini pernah menjadi sasaran utama serangan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) di bawah pimpinan Kapten Raymond Westerling. Dalam Peristiwa tersebut gugur sebanyak 79 Prajurit TNI/Siliwangi, termasuk diantaranya Mayor Adolf Lembong. Mengingat pentingnya pelestarian dan pewarisan nilai-nilai kejuangan ’45 kepada generasi muda agar kesadaran serta penghayatan terhadap sejarah perjuangan bangsanya tetap utuh; maka Kodam III/Siliwangi memandang perlu untuk mendirikan Museum Mandala Wangsit Siliwangi.

Untuk hal itulah dikumpulkan beberapa benda koleksi yang bernilai sejarah dari kurun waktu antara masa perjuangan kemerdekaan, masa perang kemerdekaan, dan masa selanjutnya yang berhubungan dengan perjuangan Divisi Siliwangi dan Rakyat Jawa Barat pada umumnya. Benda-benda yang berhasil dikumpulkan diantaranya berupa senjata tradisional berupa kujang, keris, pedang, golok, tombak, panah, pedang bambu, dan samurai; senjata api dari berbagai jenis dan kategori; serta berbagai kendaraan militr yang penah digunakan. Adapun benda lainnya berupa alat dan perlengkapan yang pernah digunakan Divisi Siliwangi dan Rakyat Jawa Barat dalam bertempur untuk mempertahankan daerahnya. Disamping berbentuk benda-benda koleksi, terdapat juga foto-foto perjuangan dari masa revolusi fisik antara tahun 1945 sampai dengan 1949, foto-foto mantan Panglima Siliwangi, tanda pangkat, lencana, Panji Siliwangi, mata uang, peta dan sebagainya.

Museum Mandala Wangsit Siliwangi, diresmikan penggunaannya oleh Pangdam III/Siliwangi ke-8, Kolonel Ibrahim Adjie pada tanggal 23 Mei 1966 dan termasuk dalam kategori museum sejarah/perjuangan tingkat kodam. Sebagai sarana pendidikan, Museum Mandala Wangsit Siliwangi dilengkapi pula oleh lukisan diorama dan ruang audio visual untuk pemutaran film documenter (sejak tahun 1990 tidak lagi dipergunakan karena rusak) perjuangan Divisi Siliwangi dan rakyat Jawa Barat. Museum dibuka untuk umum pada hari Senin Kamis, Pukul 08.00 s/d. 13.00 WIB, Jum’at pukul 08.00 s.d. 10.00 Wib, dan Sabtu pukul 08.00 s.d. 12.00 WIB.

12.   Museum Konferensi Asia Afrika (KAA)

Gedung yang terletak di jalan Asia Afrika ini didirikan oleh seorang arsitek Belanda yang bernama Van Galenlast dan C.O. Wolf Shoomaker. Gedung ini menjadi sangat terkenal sejak diadakannya Konferensi Asia Afrika tahun 1955, kemudian Konferensi Mahasiswa Asia Afrika tahun 1956 dan Konferensi Islam Asia Afrika yang menyimpan naskah-naskah dan peniggalan-peniggalan Asia Afrika yang terkenal. Gedung ini dibuka untuk umum setiap harikerja dan mudah dicapai dengan menggunakan bus kota jurusan Cicaheum-Cibeureum, Museum yang menampilkan koleksi foto-foto dan barang-barang tiga dimensi yang berhubungan dengan Konferensi Asia Afrika 1955.

Arsitektur Bangunan

Bangunan ini dirancang oleh Van Gallen Last dan C.P. Wolff Schoemaker. Keduanya adalah Guru Besar pada Technische Hogeschool (Sekolah Teknik Tinggi), yaitu ITB sekarang, dua arsitektur Belanda yang terkenal pada masa itu, Gedung ini kental sekali dengan nuansa art deco dan gedung megah ini terlihat dari lantainya yang terbuat dari marmer buatan Italia yang mengkilap, ruangan-ruangan tempat minum-minum dan bersantai terbuat dari kayu cikenhout, sedangkan untuk penerangannya dipakai lampu-lampu bias kristal yang tergantung gemerlapan. Gedung ini menempati areal seluas 7.500 m2.

Sejarah Gedung

Pada saat itu bangunan ini bernama SOCITEIT CONCORDIA dipergunakan sebagai tempat rekreasi oleh sekelompok masyarakat Belanda yang berdomisili di kota Bandung dan sekitarnya. Mereka adalah para pegawai perkebunan, perwira, pembesar, pengusaha, dan kalangan lain yang cukup kaya. Pada hari libur, terutama malam hari, gedung ini dipenuhi oleh mereka untuk menonton pertunjukan kesenian, makan malam.

Pada masa pendudukan Jepang gedung ini dinamakan Dai Toa Kaman dengan fungsinya sebagai pusat kebudayaan. Pada masa proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 agustus 1945 gedung ini digunakan sebagai markas pemuda Indonesia guna menghadapi tentara Jepang yang pada waktu itu enggan menyerahkan kekuasaannya kepada Indonesia.

Setelah pemerintahan Indonesia mulai terbentuk (1946 – 1950) yang ditandai oleh adanya pemerintahan Haminte Bandung, Negara Pasundan, dan Recomba Jawa Barat, Gedung Concordia dipergunakan lagi sebagai gedung pertemuan umum. disini biasa diselenggarakan pertunjukan kesenian, pesta, restoran, dan pertemuan umum lainnya.

Dengan keputusan pemerintah Republik Indonesia (1954) yang menetapkan Kota Bandung sebagai tempat Konferensi Asia Afrika, maka Gedung Concordia terpilih sebagai tempat konferensi tersebut. Pada saat itu Gedung Concordia adalah gedung tempat pertemuan yang paling besar dan paling megah di Kota Bandung . Dan lokasi nya pun sangat strategis di tengah-tengah Kota Bandung serta dan dekat dengan hotel terbaik di kota ini, yaitu Hotel Savoy Homann dan Hotel Preanger.

Dan mulai awal tahun 1955 Gedung ini dipugar dan disesuaikan kebutuhannya sebagai tempat konferensi bertaraf International, dan pembangunannya ditangani oleh Jawatan Pekerjaan Umum Propinsi Jawa Barat yang dimpimpin oleh Ir. R. Srigati Santoso, dan pelaksana pemugarannya adalah : 1) Biro Ksatria, di bawah pimpinan R. Machdar Prawiradilaga 2) PT. Alico, di bawah pimpinan M.J. Ali 3) PT. AIA, di bawah pimpinan R.M. Madyono.

Setelah terbentuk Konstituante Republik Indonesia sebagai hasil pemilihan umum tahun 1955, Gedung Merdeka dijadikan sebagai Gedung Konstituante. Karena Konstituante dipandang gagal dalam melaksanakan tugas utamanya, yaitu menetapkan dasar negara dan undang-undang dasar negara, maka Konstituante itu dibubarkan oleh Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959. Selanjutnya, Gedung Merdeka dijadikan tempat kegiatan Badan Perancang Nasional dan kemudian menjadi Gedung Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) yang terbentuk tahun 1960. Meskipun fungsi Gedung Merdeka berubah-ubah dari waktu ke waktu sejalan dengan perubahan yang dialami dalam perjuangan mempertahankan, menata, dan mengisi kemerdekaan Republik Indonesia , nama Gedung Merdeka tetap terpancang pada bagian muka gedung tersebut.

Pada tahun 1965 di Gedung Merdeka dilangsungkan Konferensi Islam Asia Afrika. Pada tahun 1971 kegiatan MPRS di Gedung Merdeka seluruhnya dialihkan ke Jakarta . Setelah meletus pemberontakan G30S/ PKI, Gedung Merdeka dikuasai oleh instansi militer dan sebagian dari gedung tersebut dijadikan sebagai tempat tahanan politik G30S/ PKI. Pada bulan Juli 1966, pemeliharaan Gedung Merdeka diserahkan oleh pemerintah pusat kepada Pemerintah Daerah Tingkat I Propinsi Jawa Barat, yang selanjutnya oleh Pemerintah Daerah Tingkat I Propinsi Jawa Barat diserahkan lagi pelaksanaannya kepada Pemerintah Daerah Tingkat II Kotamadya Bandung. Tiga tahun kemudian, tanggal 6 Juli 1968, pimpinan MPRS di Jakarta mengubah surat keputusan mengenai Gedung Merdeka (bekas Gedung MPRS) dengan ketentuan bahwa yang diserahkan adalah bangunan induknya, sedangkan bangunan-bangunan lainnya yang terletak di bagian belakang Gedung Merdeka masih tetap menjadi tanggung jawab MPRS.

Pada Maret 1980 Gedung ini kembali dipercayakan menjadi tempat peringatan Konferensi Asia Afrika yang ke-25 dan pada Puncak peringatannya diresmikan Museum Konferensi Asia Afrika oleh Soeharto Presiden Republik Indonesia – 2.

RUANG LINGKUP

Pameran Tetap

Museum Konperensi Asia Afrika memiliki ruang pameran tetap yang memamerkan sejumlah koleksi berupa benda-benda tiga dimensi dan foto-foto dokumenter peristiwa Pertemuan Tugu, Konferensi Kolombo, Konferensi Bogor, dan Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Selain itu dipamerkan juga foto-foto mengenai :

  • Peristiwa yang melatarbelakangi lahirnya Konferensi Asia Afrika;
  • Dampak Konferensi Asia Afrika bagi dunia internasional;
  • Gedung Merdeka dari masa ke masa;
  • Profil negara-negara peserta Konferensi Asia Afrika yang dimuat dalam multimedia.

Dalam rangka menyambut kunjungan Delegasi Konferensi Tingkat Tinggi X Gerakan Nonblok tahun 1992 di mana Indonesia terpilih sebagai tempat konferensi tersebut dan menjadi Ketua Gerakan Nonblok, dibuatlah diorama yang menggambarkan situasi pembukaan Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Penataan kembali Ruang Pameran Tetap “Sejarah Konperensi Asia Afrika 1955” Dalam rangka Konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika 2005 dan Peringatan 50 Tahun Konferensi Asia Afrika 1955 pada 22 – 24 April 2005, tata pameran Museum Konperensi Asia Afrika direnovasi atas prakarsa Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Dr. N. Hassan Wirajuda. Penataan kembali Museum tersebut dilaksanakan atas kerja sama Departemen Luar Negeri dengan Sekretariat Negara dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Perencanaan dan pelaksanaan teknisnya dikerjakan oleh Vico Design dan Wika Realty.

Rencana Pembuatan Ruang Pameran Tetap “Sejarah Perjuangan Asia Afrika” dan Ruang Identitas Nasional Negara-negara Asia Afrika (2008) Departemen Luar Negeri RI mempunyai rencana untuk mengembangkan Museum Konperensi Asia Afrika sebagai simbol kerja sama dua kawasan dan menjadikannya sebagai pusat kajian, pusat arsip, dan pusat dokumentasi.Salah satu upayanya adalah dengan menambah beberapa ruang pameran tetap, yang memamerkan sejumlah foto dan benda tiga dimensi mengenai Kemitraan Strategis Baru Asia Afrika (New Asian African Strategic Partnership/NAASP) serta berbagai materi yang menggambarkan budaya dari masing-masing negara di kedua kawasan tersebut.

Perpustakaan

Untuk menunjang kegiatan Museum Konperensi Asia Afrika, pada 1985 Abdullah Kamil (pada waktu itu Kepala Perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia di London) memprakarsai dibuatnya sebuah perpustakaan. Perpustakaan ini memiliki sejumlah buku mengenai sejarah, sosial, politik, dan budaya Negara-negara Asia Afrika, dan negara-negara lainnya; dokumen-dokumen mengenai Konferensi Asia Afrika dan konferensi-konferensi lanjutannya; serta majalah dan surat kabar yang bersumber dari sumbangan/hibah dan pembelian.

Bersamaan dengan telah diperluasnya ruang pameran tetap Museum Konperensi Asia Afrika pada April 2008, perpustakaan pun dikembangkan sebagai pusat perpustakaan Asia Afrika. Perpustakaan ini diharapkan akan menjadi sumber informasi utama mengenai dua kawasan tersebut, yang menyediakan berbagai fasilitas seperti zona wifi, bookshop café, digital library, dan audio visual library.

Audio Visual

Seperti juga perpustakaan, ruang audio visual dibuat pada 1985. Keberadaan ruang ini juga diprakarsai oleh Abdullah Kamil. Ruangan ini menjadi sarana untuk penayangan film-film dokumenter mengenai kondisi dunia hingga tahun 1950-an, Konferensi Asia Afrika dan konferensi-konferensi lanjutannya, serta film-film mengenai kondisi sosial, politik, dan budaya dari negara-negara di kedua kawasan tersebut.

13. Alun-alun dan Masjid Agung Bandung

Mesjid Raya Bandung merupakan mesjid kebanggaan masyarakat Kota Bandung dimana terletak di Jalan bersejarah bagi Negara ini yakni Jalan Asia Afrika, apabila kita memasuki area  pusat kota maka dari kejauhan sudah melihat 2 menara kembar mesjid seakan akan menyambut kedatangan kita kaum muslimin. Mesjid ini tak lepas dari even bersejarah konferensi Asia Afrika dan juga digunakan oleh Pemerintah setempat untuk menegakkan syiar Islam.

Sejarah Singkat

Masjid Raya Bandung yang saat ini berdiri megah di sebelah barat alun-alun Bandung sejak pembangunannya pada tahun 1810 sudah mengalami sedikitnya tujuh kali perombakkan. Pada awal berdirinya, masjid yang diberi nama Masjid Agung Bandung hanyalah masjid tradisional biasa berbentuk bangunan panggung yang terbuat dari bilik bambu dan atapnya dari rumbia dengan kolam tempat mengambil wudhu yang cukup luas dihalaman depannya. Perlu diketahui juga, ternyata kolam besar tersebut pernah berperan penting saat terjadi kebakaran yang melanda kawasan alun-alun yang airnya digunakan warga untuk memadamkan api waktu itu.

Awal perombakkan masjid ini dilakukan pada tahun 1826 dengan mengganti bilik bambu pada dindingnya serta atapnya dengan bahan dari kayu. Seiring pembangunan Jl Groote Postweg, sekarang bernama Jl Asia Afrika, masjid kecil tersebut pun ikut mengalami perombakkan dan perluasan pada tahun 1850. Waktu itu atas instruksi Bupati R.A Wiranatakusumah IV atap masjid diganti dengan genteng sedangkan didingnya diganti dengan tembok batu-bata. Kemegahan Masjid Bandung waktu itu sampai-sampai terabadikan dalam gambar oleh seorang pelukis Inggris bernama W Spreat pada tahun 1852. Dari gambar tersebut, terlihat atap yang tinggi dan besar dibuat tiga tingkat berbentuk prisma dan mayarakat menyebutnya dengan sebutan bale nyungcung. Kemudian bangunan masjid kembali mengalami perubahan pada tahun 1875 dengan adanya tambahan pondasi, serta pagar tembok yang mengelilingi masjid.

Seiring perkembangan jaman, masyarakat Bandung menjadikan masjid ini sebagai pusat kegiatan keagamaan yang melibatkan banyak umat seperti pengajian, perayaan Muludan, Rajaban atau peringatan hari besar Islam lain bahkan digunakan sebagai tempat dilangsungkan akad nikah. Sehingga pada tahun 1900 untuk melengkapinya sejumlah perubahan pun dilakukan seperti pembuatan mihrab dan pawestren (teras di samping kiri dan kanan). Kemudian pada tahun 1930, perombakan kembali dilakukan dengan membangun pendopo sebagai teras masjid serta pembangunan dua buah menara pada kiri dan kanan bangunan dengan puncak menara yang berbentuk persis seperti bentuk atap masjid sehingga semakin mempercatik tampilan masjid. Konon bentuk seperti ini merupakan bentuk terakhir Masjid Agung Bandung dengan kekhasan atap berbentuk nyungcung.

Menjelang konferensi Asia Afrika pada tahun 1955, Masjid Agung Bandung mengalamai perombakan besar-besaran. Atas rancangan Presiden RI pertama, Soekarno, Masjid Agung Bandung mengalami perubahan total diantaranya kubah dari sebelumnya berbentuk “nyungcung” menjadi kubah persegi empat bergaya timur tengah seperti bawang. Selain itu menara di kiri dan kanan masjid serta pawestren berikut teras depan dibongkar sehingga ruangan masjid hanyalah sebuah ruangan besar dengan halaman masjid yang sangat sempit. Keberadaan Masjid Agung Bandung yang baru waktu itu digunakan untuk shalat para tamu peserta Konferensi Asia Afrika.

Kubah berbentuk bawang rancangan Sukarno hanya bertahan sekitar 15 tahun. Setelah mengalami kerusakan akibat tertiup angin kencang dan pernah diperbaiki pada tahun 1967, kemudian kubah bawang diganti dengan bentuk bukan bawang lagi pada tahun 1970. Berdasarkan SK Gubernur Jawa Barat tahun 1973, Masjid Agung Bandung mengalami perubahan besar-besaran lagi. Lantai masjid semakin diperluas dan dibuat bertingkat. Terdapat ruang basement sebagai tempat wudlu, lantai dasar tempat shalat utama dan kantor DKM serta lantai atas difungsikan untuk mezanin yang berhubungan langsung dengan serambi luar. Di depan masjid dibangun menara baru dengan ornamen logam berbentuk bulat seperti bawang dan atap kubah masjid berbentuk Joglo.

Perubahan total terjadi lagi pada tahun 2001. Proses pembangunan berlangsung sangat lama hingga memakan waktu dua tahun lebih hingga akhirnya diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat R Nuryana pada tahun 2003 dengan nama baru, Masjid Raya Bandung. Seperti yang kita lihat sekarang terdapat dua menara kembar di sisi kiri dan kanan masjid setinggi 81 meter yang selalu dibuka untuk umum setiap hari Sabtu dan Minggu. Atap masjid diganti dari atap joglo menjadi satu kubah besar pada atap tengah dan yang lebih kecil pada atap kiri-kanan masjid serta dinding masjid terbuat dari batu alam kualitas tinggi. Kini luas tanah keseluruhan masjid adalah 23.448 m² dengan luas bangunan 8.575 m² dan dapat menampung sekitar 12.000 jamaah.

14.   Monumen Bandung Lautan Api

Monumen Bandung Lautan Api merupakan manifestasi dari perjuangan rakyat Bandung untuk mengusir penjajahan dari kota yang dikenal dengan sebutan Paris van Java ini. Monumen ini bisa dikatakan menjadi markah tanah Bandung. Berdiri kokoh dengan ketinggian sekitar 45 meter dengan 9 sisi. Monumen ini sendiri dibangun untuk memperingati peristiwa Bandung Lautan Api yang dipimpin oleh Muhammad Toha dengan melakukan pembumihangusan Bandung Selatan.

Aspek Kesejarahan

Monumen ini berlokasi di kawasan Tegallega Bandung. Istilah “Bandoeng Laoetan Api” sendiri memiliki sejarahnya yang tak sederhana. Ketika itu, ultimatum dari penjajah kepada Tentara Republik Indonesia (TRI) untuk meninggalkan Kota Bandung melahirkan politik “pembumihangusan”. Semua rakyat dan pejuang Kota Bandung tentu tak rela kotanya harus jatuh ke tangan asing. Akhirnya mereka menyusun siasat dengan bermigrasi ke selatan kota dan melakukan musyawarah. Nah, dari hasil musyawarah Majelis Persatuan Perjuangan Priangan inilah usulan untuk membumihanguskan Bandung disetujui.

Pertanyaannya, mengapa Kota Bandung yang sejuk dan indah dibakar? Bandung sengaja dibakar oleh TRI supaya pihak musuh tak bisa menguasai Kota Bandung. Maka, pembakaran pun dilakukan. Asap hitam, tebal dan pekat mulai menyelimuti awan kota sejuta pesona itu. Semua listrik mati. Hal tersebut ternyata membuat Tentara Sekutu marah dan mulai melakukan penyerangan. Perang sengit pun terjadi.

Pertempuran yang paling seru terjadi di Desa Dayeuhkolot, sebelah selatan Bandung, di mana terdapat pabrik mesiu yang besar milik Sekutu. TRI bermaksud menghancurkan gudang mesiu tersebut. Untuk itu diutuslah pemuda Muhammad Toha dan Ramdan. Kedua pemuda itu berhasil meledakkan gudang tersebut dengan granat tangan. Gudang besar itu meledak dan terbakar, tetapi kedua pemuda itu pun ikut terbakar di dalamnya.

Oleh sejumlah kalangan pembungihangusan Bandung merupakan langkah yang paling tepat. Apa pasal? Rasio antara tentara sekutu dengan TRI jelas tak bisa dibandingkan dari segi jumlah maupun pasokan persenjataan.

Selanjutnya TRI bersama rakyat melakukan perlawanan secara gerilya dari luar Bandung. Peristiwa ini melahirkan lagu “Halo-Halo Bandung” yang bersemangat membakar daya juang rakyat Indonesia. Sampai akhirnya, sejarah mencatat Bandung Lautan Api sebagai bukti nyata perlawanan rakyat dan tentara diBandungdengan sangat gigih.

15.   Taman Tegalega – Astana Anyar

16.   Taman Balai Kota Bandung – Jl. Merdeka

Taman Balai Kota merupakan taman yang terdapat di area pusat pemerintahan Balai Kota Bandung. Berdasarkan data sekunder dari Dinas Pertamanan, Taman Balai Kota ini memiliki luas sebesar 13.800 m2. Namun pada kenyataannya taman yang benar-benar area hijau luasnya diperkirakan hanya sekitar 1500-2000 m2. Taman ini berbentuk persegi panjang dengan panjang dan lebar yang besarnya hampir sama (menyerupai persegi) dengan keseluruhan areanya merupakan area yang ditanami rumput.

17. Lapangan Gasebu Bandung (Gabungan Sepakbola Bandung Utara)

Bagi warga Kota Bandung tentu tak asing lagi dengan Lapangan Gasibu karena selain lokasinya yang strategis, juga di lapangan ini sering diadakan banyak pergelaran acara-acara baik seremonial resmi pemerintahan setempat, maupun konser-konser musik. Selain itu, Lapangan Gasibu di saat hari libur kerap dijadikan arena kumpul-kumpul atau olahraga masyarakat Kota Kembang. Atau bahasa gaulnya “cuci mata”.

Harmonis dan Dinamis

Lapangan Gasibu sendiri terletak persis di seberang Gedung Sate yang menjadi kantor pemerintahan Provinsi Jawa Barat. Lapangan Gasibu juga merupakan akhir dari jalan layang Pasteur-Cikapayang yang membentang. Ditinjau secara arsitektur kota, Lapangan Gasibu posisinya menghubungkan antara Gedung Sate dengan taman yang membentang sampai ke Kampus Universitas Padjajaran. Posisi demikian, membentuk kawasan perkotaan yang banyak dikatakan orang sebagai sesuatu yang harmonis.

Letak kawasan strategis dan harmonis ini bisa merefleksikan juga hasrat Kota Bandung yang ingin menjadi Kota Kembang yang dinamis, harmonis dan modern.

Namun sayang, masalah yang sulit untuk dipecahkan yakni kemacetan terutama ketika akhir pekan dimana bukan hanya warga Kota Bandung saja yang berlalu-lalang, juga dari kota-kota besar seperti Bogor dan Jakarta yang banyak juga menikmati liburan di Bandung.

Selain itu, kemacetan di sekitar Lapangan Gasibu juga diakibatkan oleh konser atau acara-acara pertunjukan musik yang mengundang banyak massa. Hal demikian bisa difahami karena Lapangan Gasibu hampir tak memiliki lokasi parkir yang memadai. Sehingga tak pelak, jika ada acara musik atau pertunjukan lain jalur dari dan menuju ke Gasibu dijamin macet.

Aspek Sejarah

Sekitar tahun 1953 berdiri lapangan sepak bola yang berlokasi di Jalan Badaksinga. Disana sering diselenggarakan pertandingan antar persatuan sepak bola. Berhubung lokasi lapangan akan dibangun proyek air bersih dengan nama HBM (sekarang PDAM), para pengurus PS berembuk dan meminta izin kepada pemerintah untuk memakai lokasi di depan Gedung Sate yang pada saat itu masih berupa semak belukar. Setelah mendapat izin dari pemerintah, para pencinta sepak bola waktu itu melakukan kerja bakti untuk membangun lapangan sepak bola tersebut dan pada tahun 1955 lapangan sepak bola yang sangat sederhana terbentuk dan diberi nama Gasibu (Gabungan Sepak Bola Indonesia Bandung Utara).

Sementara versi lainnya menyebut, nama Gasibu berasal dari kata gazebo. Gazebo adalah sebuah struktur paviliun, biasanya berbentuk persegi, segi 6, atau segi 8. Gazebo biasanya terdapat di taman, kebun, dan area umum yang luas. Gazebo biasanya berdiri sendiri atau menempel pada sebuah dinding taman. Gazebo memiliki atap, dan terbuka di semua sisinya (tanpa dinding). Gazebo memberikan keteduhan, di gunakan untuk tempat berlindung, dan memiliki fitur hias dalam landscape, juga digunakan untuk tempat beristirahat. Beberapa gazebo yang cukup besar yang berada di taman umum digunakan untuk melayani sebagai bandstands atau tempat berteduh di saat hujan. Di Gasibu sendiri ada dua buah Gazebo. Satu di selatan, dekat gedung sate. Satu lagi terletak di utara, sekarang dekat kantor Telkom.

18. Bandung Tempo Doeloe – Jl. Braga

Jalan Braga adalah nama sebuah jalan utama di kota Bandung, Indonesia. Nama jalan ini cukup dikenal sejak masa pemerintahan Hindia-Belanda. Sampai saat ini nama jalan tersebut tetap dipertahankan sebagai salah satu maskot dan obyek wisata kota Bandung yang dahulu dikenal sebagai Parijs van Java.

Lingkungan

Di sisi kanan kiri Jalan Braga terdapat kompleks pertokoan yang memiliki arsitektur dan tata kota yang tetap mempertahankan ciri arsitektur lama pada masa Hindia Belanda. Tata letak pertokoan tersebut mengikuti model yang ada di Eropa sesuai dengan perkembangan kota Bandung pada masa itu (1920-1940-an) sebagai kota mode yang cukup termasyhur seperti halnya kota Paris pada saat itu. Di antara pertokoan tersebut yang masih mempertahankan ciri arsitektur lama adalah pertokoan Sarinah, Apotek Kimia Farma dan Gedung Merdeka (Gedung Asia Afrika yang dulunya adalah gedung Societeit Concordia). Model tata letak jalan dan gedung gedung pertokoan dan perkantoran yang berada di Jalan Braga juga terlihat pada model jalan-jalan lain di sekitar Jalan Braga seperti Jalan Suniaraja (dulu dikenal sebagai Jalan Parapatan Pompa) dan Jalan Pos Besar (Postweg) yang dibangun oleh Gubernur Jendral Herman Willem Daendels pada tahun 1811, di depan Gedung Merdeka.

Sejarah

Awalnya Jalan Braga adalah sebuah jalan kecil di depan pemukiman yang cukup sunyi sehingga dinamakan Jalan Culik karena cukup rawan, juga dikenal sebagai Jalan Pedati (Pedatiweg) pada tahun 1900-an. Jalan Braga menjadi ramai karena banyak usahawan-usahawan terutama berkebangsaan Belanda mendirikan toko-toko, bar dan tempat hiburan di kawasan itu seperti toko Onderling Belang. Kemudian pada dasawarsa 1920-1930-an muncul toko-toko dan butik (boutique) pakaian yang mengambil model di kota Paris, Perancis yang saat itu merupakan kiblat model pakaian di dunia. Dibangunnya gedung Societeit Concordia yang digunakan untuk pertemuan para warga Bandung khususnya kalangan tuan-tuan hartawan, Hotel Savoy Homann, gedung perkantoran dan lain-lain di beberapa blok di sekitar jalan ini juga meningkatkan kemasyhuran dan keramaian jalan ini.

Namun sisi buruknya adalah munculnya hiburan-hiburan malam dan kawasan lampu merah (kawasan remang-remang) di kawasan ini yang membuat Jalan Braga sangat dikenal turis. Dari sinilah istilah kota Bandung sebagai kota kembang mulai dikenal. Sehingga perhimpunan masyarakat warga Bandung saat itu membuat selebaran dan pengumuman agar “Para Tuan-tuan Turis sebaiknya tidak mengunjungi Bandung apabila tidak membawa istri atau meninggalkan istri di rumah”.

Di beberapa daerah dan kota-kota yang berdiri serta berkembang pada masa Hindia Belanda, juga dikenal nama jalan-jalan yang dikenal seperti halnya Jalan Braga di Bandung seperti Jalan Kayoetangan di kota Malang yang juga cukup termasyhur dikalangan para Turis terutama dari negeri Belanda juga Jalan Malioboro di Yogyakarta dan beberapa ruas jalan di Jakarta. Namun sayangnya nama asli jalan ini tidak dipertahankan atau diubah dari nama sebelumnya yang dianggap populer seperti halnya Jalan Kayoetangan di kota Malang diganti menjadi Jalan Basuki Rahmat.

19. Pusat Perbelanjaan Jins – Jl. Cihampelas

Jika Yogyakarta punya Malioboro kemudian Semarang dengan Simpang limanya, maka boleh dikatakan Cihampelas adalah khasnya kota Bandung. Kalau orang menyebut nama ini yang terbayang adalah satu kawasan jeans dengan segala atribut dan keramaiannya. Cihampelas sendiri tampaknya telah memantapkan diri sebagai salah satu karakteristik kota Bandung. Sepanjang Jalan Cihampelas Kota Bandung banyak dijumpai toko-toko dengan arsitektur unik yang menjadi ciri khas sebagai ruang pamer penjualan berbagai produk pakain jadi terutama celana yang terbuat dari bahan jeans.

Kawasan ini selain menjadi sentra perdagangan  produk Jeans juga menjadi salah satu kawasan wisata belanja primadona Kota Bandung. Kawasan ini sangat ramai dikunjungi oleh pengunjung dari luar Bandung, terutama dari pada saat hari-hari libur ataupun weekend. Sepanjang jalan CIhampelas selain dapat dijumpai toko-toko pakaian jadi, terdapat pula beberapa tempat penjualan souvenir serta makanan khas Bandung untuk Oleh-oleh. Jika anda jalan-jalan ke Bandung, salah satu tempat belanja yang tidak boleh dilewatkan adalah sentra jeans Cihampelas.

Cerita Cihampelas dengan jeansnya, semua orang telah mengenalnya. Tapi kalau kemudian timbul pertanyaan, seperti apa Cihampelas tempo dulu, bagaimana penduduknya lalu kenapa dinamakan Cihampelas, satu pengetahuan lain tentunya. Mengenal Cihampelas tempo dulu terutama awal terbentuknya kawasan ini tidak terlepas dari sejarah perjalanan kota Bandung. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, Cihampelas yang termasuk dalam kawasan Bandung Utara dikondisikan untuk pemukiman orang Eropa. Pada masa itu gedung-gedung gaya romantik Belanda banyak berdiri di kawasan ini.

Penamaan kawasan dan jalan dengan nama Cihampelas diambil berdasarkan nama kolam pemandian yang ada di daerah ini, yakni kolam pemandian Cihampelas. Pada saat pembuatan kolam, disekitar tempat tersebut banyak terdapat pohon Hampelas (sejenis pohon berdaun kasar dan bisa digunakan sebagai penggosok). Sumber air yang digunakan untuk mengisi kolam berasal dari sekitar pohon tersebut hampelas tersebut. Kolam renang yang identik dengan jalan Cihampelas ini, kini masih dipergunakan walaupun wujudnya telah berubah seiring kemajuan jaman. Sekitar tahun 1987-an satu demi satu rumah tinggal dikawasan ini berpindah tangan baik secara sistim beli maupun sewa. Perpindahan tangan tersebut ternyata menandai dimulainya kawasan Cihampelas sebagai salah satu tempat yang mencirikan kota Bandung, selain Cibaduyut sebagai kawasan sepatu.

Kehidupan Cihampelas berubah, karena ternyata wisata dan pariwisata bukan hanya dapat menyuguhkan keindahan alam atau kekayaan suatu daerah, melainkan segala potensi yang layak dijual. Kawasan Jeans di Cihampelas sendiri gebrakannya dimulai pada tahun yang sama dengan berdirinya satu buah toko. Setelah dirasakan reaksinya bagus, kemudian mereka mengajak rekan-rekan dari pengusaha pabrik dan distributor untuk membuka usaha ditempat ini. Semakin besar minta pengusaha yang ingin membuka toko menyebabkan banyak rumah tinggal yang dikomersilkan.

Jalan Cihampelas kini tak pernah sepi. Memasuki kawasan ini ibarat memasuki kawasan yang penuh dongeng. Bagaimana tidak, kalau tiap toko memakai nama yang kerap mengingatkan kita pada tokoh-tokoh heroik seperti Superman, Rambo, Ultraman atau juga Sapu Lidi, Korek Api, Kupu-kupu sampai Maharani. tentu saja semua ini bertujuan untuk menarik minat pembeli. Membandingkan keramaian Cihampelas dulu dengan sekarang memang beda jauh. Sekitar 1990-an, Cihampelas sedang boomingnya dengan industri celana jeans. Sebagai daya tarik mengunjung, hampir tiap toko atau outlet saling adu kreasi memamerkan desain exterior-nya. Ada yang menaruh mobil tua di atas tokonya dengan desain seakan mobil yang hanya nongol kepalanya itu menabrak dinding bagian depan toko.

Di daerah ini anda bisa belanja semua kebutuhan akan celana dan baju dari bahan jeans dengan harga yang terjangkau. Setiap weekend-nya, pusat jeans cihampelas selalu ramai dan penuh oleh wisatawan. Begitu anda keluar dari pintu tol pasteur, sekitar satu kilometer anda sudah sampai di pusat jeans cihampelas. Beraneka toko jeans dengan segala dekorasi yang menarik seperti karakter superhero, banyak terdapat di sepanjang jalan cihampelas. Mereka berusaha menarik perhatian pengunjung dengan segala atribut dekorasinya dan tentu saja discount untuk mereka yang belanja di toko jeans.

20. Pusat Perbelanjaan Pasar Baru – Jl. Otto Iskandar Dinata

Pasar Baru Bandung atau kini disebut juga dengan Pasar Baru Trade Centre berlokasi di Jl.Otto Iskandar Dinata. Salah satu tempat shopping di Bandung ini termasuk ke dalam pasar baru modern yang menjual berbagai sandang dengan harga yang relatif terjangkau dengan kualitas baik. Banyak juga kios atau tempat penjualan di Pasar Baru Bandung yang bisa anda temukan juga di mall – mall besar di Bandung, itu berarti Pasar Baru Bandung tentu tidak kalah pasarannya dengan mall mall lain. Di tahun 1935, Pasar Baru adalah pasar terbersih dan teratur se-Hindia Belanda.

Lokasi Pasar Baru Bandung terletak di tengah kota Bandung, Tak Jauh dari Jl. Asia Afrika Bandung. Akses menuju lokasi ini sangat mudah dan amat dikenal oleh penduduk Bandung. Jenis barang yang diperjual belikan di Pasar Baru Bandung ini mulai dari aneka pakaian jadi, kain batik, Baju Batik, Bed Cover, Baju Muslim, Jilbab, Kebaya, Perlengkapan Muslim dan lain lain. Di Pasar Baru Bandung pakaian atau kain yang ditawarkan mulai dari kwalitas rendah sampai kwalitas bagus. Jika beruntung maka bisa berbelanja dengan harga miring namun kwalitas barang yang cukup bagus. Ada beberapa tips jika ingin berbelanja di Pasar Baru Bandung:

  • Pastikan kwalitas barang yang di beli, agar tak kecewa nantinya.
  • Jika barang tidak menggunakan lebel harga, berarti barang bisa ditawar
  • Simpan Tas atau dompet di bagian depan badan, bukannya menakuti tapi hanya menghindari dari hal-hal yang tidak diinginkan, karena Pasar Baru Bandung sangat ramai.

Sedikit sejarah mengenai Pasar Baru Bandung yang dulunya merupakan Pasar Baroeweg. Pasar ini di bangun sekitar tahun 1884 sebagai pengganti pasar lama di kawasan Ciguriang (di daerah Jl.Kepatihan saat ini) dulu masih merupakan pasar biasa yang kemudian di adakan renovasi pada tahun 2001 menjadi Pasar Baru Bandung yang kita ketahui saat ini. Satu yang pernah membanggakan dari Pasar Baru Bandung ini yaitu pada tahun 1935, Pasar Baru Bandung mendapatkan predikat sebagai pasar terbersih dan teratur se- Hindia Belanda.

Pasar Baru Bandung yang juga merupakan pasar modern tertua yang masih berdiri saat ini memiliki 11 lantai termasuk area parkir. Di Pasar Baru Bandung selain banyak penjual pakaian, sepatu, tas dan lain sebagainya terdapat pula satu lantai yang khusus menjual tekstil, sentra penjualan kain dan batik yang ada di Pasar Baru Bandung pun cukup terkenal hingga ke negeri seberang, Karena di Pasar Baru Bandung pengunjungnya selalu padat sebaiknya berbelanja ke Pasar Baru Bandung jangan memakai perhiasan berharga yang berlebihan juga selalu jaga tas Anda selalu didepan untuk menghindari terjadinya pencopetan.

21. Pusat Perbelanjaan Kings Plaza – Jl. Kepatihan

King’s Shopping Centre merupakan tempat shopping di Bandung yang sering di kunjungi oleh para pemburu belanjaan. Di King’s Shopping Centre ini menyediakan berbagai macam keperluan sehari – hari yang murah meriah. King’s Shopping Centre terletak di Jl. Kepatihan, letak King’s Shopping Centre ini dapat di katakan strategis karena berada di dekat Mesjid Raya Bandung yang bersebelahan denganAlun-alun Kota Bandung. Setiap saat di King’s Shopping Centre selalu ramai di kunjungi para pebelanja apalagi kalau sudah menjelang week end hampir berdesakan di King’s Shopping Centre ini, namun walaupun demikian para pengunjung tetap antusias berburu barang yang mereka inginkan.

King’s Shopping Centre sendiri selalu buka setiap hari dari pukul 10.00 pagi sampai 21.00 malam. Bila anda beruntung anda bisa mendapatkan barang yang anda inginkan di King’s Shopping Centre dengan harga yang murah dengan kualitas baik karena beberapa toko di King’s Shopping Centre dapat nego harganya. Selain berbagai macam barang – barang yang murah tersedia di King’s Shopping Centre, terdapat pula movie alias tempat nonton yang bener murah yaitu di Galaxy Theater Bandung. Terdapat pula tempat bermain anak dan beberapa food court di lantai paling atas. Di sekitaran gedung King’s Shopping Centre terdapat banyak sekali pedagang – pedagang baik berupa toko – toko maupun pedagang yang ada di pinggiran jalan hampir di sepanjang jalan nya.

Bila wisata belanja anda di teruskan tidak jauh dari King’s Shopping Centre terdapat tepat belanja lain yang sangat ramai sekali setiap harinya mulai dari negri sendiri sampai negri tetangga yaitu Pasar Baru Bandung. Di sekitaran King’s Shopping Centre terdapat pula beberapa hotel yang letaknya tidak terlalu jauh, namun hotel yang paling dekat dengan King’s Shopping Centre yaitu ada Golden Flower Hotel, hotel ini berbintang empat. King’s Shopping Centre juga merupakan “The Most Tennage Visitor”. Kebanyakan yang berbelanja ke King’s Shopping Centre yaitu para anak muda yang mencari keperluannya dengan harga yang relatif murah.

22. Pusat Factory Outlet di Jalan Riau

Factory Outlet Bandung,. Yuhuuu~ siapa yang tak kenal Factory Outlet (FO) sebagai salah satu tempat shopping di Bandung yang banyak di kunjungi para shoppaholic untuk berburu berbagai macam pakaian, tas dan lain sebagainya untuk memperindah diri supaya terlihat modis,. Nah, di Bandung inilah surgaya Factory Outlet banyak sekali kawasan – kawasan di Bandung yang terkenal dengan banyaknya Factory Outlet, salah satu nya ini Factory Outlet Jalan Riau yang tentu saja berada di sepanjang Jalan Riau.

Factory Outlet Jalan Riau merupakan salah satu Factory Outlet terpopuler dan terbesar di Bandung selain dari Factory Outlet Jalan Dago dan Factory Outlet Rumah Mode. Outlet-outlet yang ada di Jalan Riau ini memiliki bangunan yang unik dan keren-keren lho! Satu sama lain memiliki pesona dan daya tariknya sendiri untuk menarik para pengunjung, ada yang mengusung konsep bangunan Eropa, bangunan Belanda pada jaman dulu dan lain sebagainya, Factory Outlet Jalan Riau banyak menghadirkan fashion – fashion yang keren masa kini, di Factory Outlet Jalan Riau menghadirkan berbagai produk yang akan membuat siapa saja yang memakainya aka terlihat up 2 date, seperti pakaian dewasa, anak – anak, menjual souvenir – souvenir cantik ada juga Factory Outlet yang khusus menjual pakaian unutk pria namanya Factory Outlet ForMen Lelaki Gallery.

Ada beberapa Factory Outlet Jalan Riau ini yang sayang bila tak dikunjungi saat ke Bandung selain dari Factory Outlet ForMen Lelaki Gallery tadi, misalnya ada Factory Outlet Stamp yang merupakan Factory Outlet yang lengkap letaknya berada dibawa kantor POS Indonesia, ada juga Factory Outlet yang bisa langsung tembus dari Factory Outlet satu ke yang lainnya yaitu Factory Outlet Cascade dan Factory Outlet Heritage,. Factory – Factory Outlet yang disebutkan tadi letaknya pun berdekatan, sehingga tidak perlu capek – capek berjalan jauh.

Setelah puas berkeliling di Factory Outlet Jalan Riau para pengunjung dapat langsung berkuliner di area Jalan Riau tersebut. Selain itu terdapat pula beberapa hotel yang tersebar disana, sehingga bila Anda ingin berjalan – jalan, hanging out atau shopping, Jalan Riau merupakan tempat yang bagus untuk dijadikan referensi Anda berlibur.

23. Factory Outlet di Jalan Dago

Banyak yang bilang, belum ke Dago serasa belum ke Bandung. Shopping di sederetan Factory Outlets Jalan Dago ini memang menarik, terutama dengan banyaknya alternatif Factory Outlets yang ada di sepanjang jalan dago ini. Begitu banyak pakaian lelaki dan wanita maupun anak tersedia di sana untuk memenuhi kebutuhan fashion anda. Mengingat terkenalnya tempat ini, artis-artis dari Indonesia, Malaysia, Singapura dan negara lainpun banyak yang berbelanja di sini, dan mungkin anda adalah salah satunya atau anda akan mudah menemukan mereka di sini di salah satu tempat shopping di Bandung ini.

Semenjak AirAsia dan Malaysia Airline masuk ke Bandung, Factory Outlets Jalan Dago semakin banyak dikunjungi oleh para pelancong, khususnya dari Malaysia dan Singapura. Begitu juga dari turis lokal yang datang dari Jakarta, hanya dengan sekitar 2.5 jam sama mereka sudah bisa mencapai Bandung dengan kendaraan pribadi atau jasa lain dari Jakarta. Pengunjung lain pun cukup banyak datang ke sini, baik yang masuk dari Bali, Jogjakarta, Semarang, maupun daerah lainnya.

Berada di Jalan Dago memang mengasikkan, termasuk bagi mereka yang senang untuk berada di tempat shopping di Jalan Dago ini, karena tempat belanja di Jalan Dago ini menyediakan berbagai alternatif untuk shopping di Jalan Dago. Disamping suasana jalan dago yang begitu asri dan sejuk, dikelilingi dengan tumbuhan penghijauan yang membuat jalan dago semakin enak untuk didatangi.

Menuju tempat ini pun boleh dikatakan relatif mudah, dan jika ditanya dimana Jalan Dago, hampir semua penduduk Bandung tau dimana lokasinya, begitu juga dengan pelancong yang ada. Belasan factory outlets Jalan Dago siap untuk melayani berbagai kebutuhan fashion pembelinya, dengan gaya, warna, dan model yang uptodate. Apalagi Bandung dikenal sebagai kota fashion yang merupakan parameter fashion di Indonesia. Berikut ini beberapa factory Outlets jalan dago yang bisa anda kunjungi, seperti Grande Factory Outlet, Central Branded Outlet, Blossom Factory Outlet, Level Factory Outlet, Glamour factory Outlet, Gossip Factory Outlet, Rafles Factory Outlets, Runway Factory Outlets dan masih banyak lagi lainnya yang masing-masing menyediakan ribuan fashion di factory outlet mereka.

Hampir di setiap Factory Outlets Jalan Dago memiliki tempat parkir, meskipun hampir selalu disetiap liburan tempat parkir ini tidak mampu menampung pengunjung yang datang. Seperti di Grande Factory Outlets yang sering menjadi mangkal awal para pengunjung karena tempat parkirnya yang hijau dan teduh, karena dikelilingi oleh pohon-pohon penahan panas matahari.

Siapkan uang saku anda :) karena bagi pecinta fashion, godaan berbagai model yang ditawarkan sangat banyak, dan bisa-bisa anda akan merasa kekurangan uang ketika berada di Factory Outlets Jalan Dago ini, kenapa tidak? Harga yang ditwarkan pun relatif murah. Barang-barang yang dipajang pun merupakan fashion yang bermutu dan kualitas bagus hingga sangat bagus.

Istilah Factory Outlets bagi penduduk lokal dikenal dengan istilah FO saja, merupakan pajangan dari produk-produk yang umumnya dibuat oleh insdustri bermerek terkenal yang ada di Bandung, dan langsung dari pabrik tekstil tersebut. Seperti diketahui, di Bandung banyak sekali industri tekstil terkenal, dan mereka memajang produknya di Factory Outlets Bandung ini, termasuk yang ada di Jalan Dago. Pilihan pakaian untuk wanita sangat banyak tersedia di Factory Outlets Jalan Dago ini. Begitu juga dengan fashion dari merek terkenal seperti Zara, MNG, Esprit, Gap, TopShop, DKNY, Gucci, Armani, Miss Selfridge, Nike, Old Navy, Victoria Secret dan banyak lagi yang lainnya. Memang umumnya factory outlets Jalan Dago menyediakan pakaian untuk wanita, meskipun untuk pria dan anak-anak pun tersedia, hanya jumlahnya tidak sebanyak pilihan untuk para perempuan. Bagi mereka lelaki yang ingin mencari pakaiannya, bisa menemukan berbagai merek terkenal seperti Hugo Boss, Burberry, Versace, Timberland, Nike, Manchester United (MU), Armani, DKNY, Old Navy, Billabong, Quicksilver dan banyak lagi lainnya. Untuk ukuran pakaian yang dianggal ukuran besar seperti XXL, XXXL atau Big size, juga tersedia di sini, jika anda tidak menemukannya, tidak usah ragu untuk mengontak pelayan yang ada di toko tersebut.

Sebagai gambaran, salah satu celana jeans merek DKNY dengan bentuk standard, kadang kala bisa didapatkan seharga Rp. 69,000 atau sekitar 24 MYR, 10 SGD, atau 8 USD. Penting untuk anda yang berbelanja di Factory Outlets Bandung adalah hati-hati dalam memilih item, karena beberapa item yang dijual adalah barang reject atau tidak lulus dari quality control di pabrik pembuatnya. Barang ini kemudian diperbaiki oleh mereka, dan kadang malah ada yang tidak diperbaiki sama sekali. Jahitan dan jumlah kancing yang terpasang sebaiknya diperiksa ulang. Perhatikanlah label yang mereka yang ada pada baju, anda mungkin akan sering melihat bahwa merek asli pakaian tersebut digunting atau dicoret dengan spidol, menandakan bahwa barang tersebut adalah barang reject.

 24. Factory Outlet Rumah Mode

Bandung, setiap menjelang weekend selalu di padati pengunjung dari berbagai tempat dari dalam bahkan dari luar negri, sehingga tak heran jika service Bandung Car Rental dan Bandung Hotel selalu ramai di akhir pekan ini, jalananpun selalu macet dipadati kendaraan yang hendak berlibur, hal ini tentu saja di karenakan Bandung memiliki daya tarik yang tinggi sehingga tak bosan orang – orang selalu memadati Bandung karena disinilah mereka dapat puas berbelanja dengan suasana perbelanjaan yang asri, nyaman dan menyenangkan dimana lagi kalo bukan di Factory Outlet Rumah Mode Bandung.

Factory Outlet Rumah Mode merupakantempat shopping di Bandung yang lagi ng-trend banget saat ini, suatu tempat perbelanjaan yang unik, bentuknya itu bukan gedung yang tinggi seperti kebanyakan mall – mall saat ini namun lebih sederhana dan terdesign menjadi sebuah rumah dengan dihiasi taman yang luas, air mancur yang menambah ke asri an dari tempat ini.

Factory Outlet Rumah Mode Bandung memiliki berkonsep ‘One Stop Shopping’ jadi dalam satu tempat dapat memenuhi berbagai kebutuhan pengunjungnya, karena di Factory Outlet Rumah Mode selain menjual berbagai pakaian, tas, sepatu dan berbagai sandang lainnya yang menjadi materi utamanya, juga di Factory Outlet Rumah Mode menyediakan cafe untuk bersantai disela – sela waktu belanja.

Selisih harga antara Factory Outlet Jalan Riau atau Factory Outlet Jalan Dago dengan Factory Outlet Rumah Mode tidak terlalu jauh, memang untuk beberapa item di Factory Outlet Rumah Mode harganya diatas sedikit dari Factory Outlet keduanya.

Rumah Mode yang berlokasi di Jl. Setiabudhi No.41 Bandung, selain itu banyak bangetFactory Outlet Bandung lain, mengingat kota ini sangat dikenal sebagai kota fashion di Indonesia, dan Bandung pun disebut sebagai Paris nya pulau Jawa alias Bandung Paris Van Java.

25. Monumen Hussein Sastranegara – Jl. Pajajaran

Monumen Husein sastranegara yang terletak tepat di depan Bandara Husein Sastranegara merupakan salah satu monumen bersejarah yang ada di kota Bandung, yang erat kaitanya dengan salah satu pahlawan Indonesia yaitu Husein Sastranegara. Semasa hidupnya Husein Sastranegara telah memberikan teladan yang tak ternilai kepada generasi penerus, baik dibidang kejuangan, kemauan yang keras dalam menggapai cta-cita, maupun tekadnya yang kuat untuk mengetahui dan menguasai teknologi penerbangan pada masanya. Kekerasan kemauan dan tekadnya serta kerelaan berkorban dem perjuangan telah tercermin dalam dri Husein Sastranegara. Pandangan-pandangannya yang jauh kedepan ikut meletakan pondasi yang penting bagi pembangunan TNI Angkatan Udara, yang kelak menjadi pancangan kaki yang kokoh bagi pengembangan suatu kekuatan Angkatan Udara yang modern di kemudian hari.

26. Museum Sri Baguda – Jl. Lingkar Selatan

Provinsi Jawa Barat merupakan wilayah yang sebagian besar dihuni oleh orang Sunda, maka sering disebut Tatar Sunda atau Tanah Sunda. Dari perjalanan sejarah dan lingkup geografis Budaya Jawa Barat secara umum berada pada lingkup budaya Sunda, sebagai budaya daerah yang menunjang pembangunan kebudayaan nasional.

Peninggalan budaya yang bernilai tinggi banyak tersebar di kawasan Jawa Barat, baik yang hampir punah maupun yang masih berkembang hingga kini. Perkembangan budaya Jawa Barat berlangsung sepanjang masa sesuai dengan pasang surut pola kehidupan. Dalam garis perkembangnnya tidak sedikit pengaruh budaya luar yang masuk. Hal ini disebabkan wilayah Jawa Barat berada pada posisi yang strategis dari berbagai aspek mobilitas penduduk yang cukup tinggi. Pengaruh budaya luar cenderung mempercepat proses kepunahan budaya asli Jawa Barat. Kehawatiran terhadap ancaman erosi budaya di Jawa Barat, maka pemerintah mengambil kebijakan untuk mendirikan museum di Jawa Barat, yang kini dikenal “Balai Pengelolaan Museum Negeri Sri Baduga.”

Pembangunan gedung dirintis sejak tahun 1974 dengan mengambil model bangunan tradisional Jawa Barat, berbentuk bangunan suhunan panjang dan rumah panggung yang dipadukan dengan gaya arsitektur modern. Gedung dibangun di atas tanah bekas areal kantor kewedanaan Tegallega seluas 8,415,5 m. Bangunan bekas kantor Kewedanaan tetap dipertahankan, sebagai Bangunan Cagar Budaya yang difungsikan sebagai salah satu ruang perkantoran.

Pembangunan tahap pertama selesai pada tahun 1980, dengan nama Museum Negeri Jawa Barat, diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI , Dr. DAUD JOESOEF didampingi oleh Gubernur Jawa Barat H. Aang Kunaefi (1975-1985) tanggal 5 Juni 1980. Pada tanggal 1 April 1990 terjadi penambahan nama Sri Baduga, diambil dari gelar seorang raja Pajajaran yang memerintah tahun 1482-1521 Masehi. Dengan demikian nama lengkap museum waktu itu adalah Museum negeri {ropinsi Jawa Barat “Sri Baduga.” Pada era Otonomi Daerah (OTDA) berdasarkan Peraturan Daerah No.5 Tahun 2002 sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) bergabung dengan Dinas Kebudayaan Provinsi Jawa Barat dengan nama Balai Pengelolaan Museum Negeri Sri Baduga hingga sekarang.

Berdasarkan Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 64 Tahun 2002 tentang Tugas Pokok, Fungsi dan Rincian Tugas pada UPTD di lingkungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata struktur organisasi Balai Pengelolaan Museum Negeri Sri Baduga terdiri atas Kepala, Sub Bagian Tata Usaha, Seksi Perlindungan, Seksi Pengembangan, Seksi Pemasaran, dan Pejabat Fungsional. Pada tahun 2010 terjadi perubahan struktur organisasi melalui Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 43 tahun 2010, yaitu Kepala, Sub Bagian Tata Usaha, Seksi Perlindungan, Seksi Pemanfaatan dan Kelompok Pejabat Fungsional.

Berdasarkan jenis kegiatan yang dilaksanakan unsur organisasi non teknis dan teknis. Kegiatan non teknis bersifat administratif dilaksanakan oleh Subbag Tata Usaha. Sedangkan yang bersifat teknis dilaksanakan oleh pejabat fungsional Pamong Budaya yang dikukuhkan melalui SK Gubernur No. 821.27/Kep.3-C/Peg/2004 tetang Pengangkatan Kembali Jabatan Fungsional Pamong Budaya di Museum Sri Baduga. Dalam melaksanakan pekerjaannya, para Pejabat Fungsional berkoordinasi dengan Kepala Seksi yang berkaitan dengan bidang kerjanya.

                                                                   HUBUNGI KAMI UNTUK INFORMASI SELANJUTNYA
                                                                              http://7summitstravel.com/?page_id=98

 

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

OUR DESTINATION